Teroris Irak Ditangkap, Serah Terima Komando Macet | Fokus | DW | 04.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Teroris Irak Ditangkap, Serah Terima Komando Macet

Aparat Pakistan mengumumkan penangkapan terhadap orang kedua Al Qaida untuk wilayah Irak. Pengumuman ini dilakukan sesudah buntunya peundingan serah terima keamanan dari Amerika ke tangan tentara Irak.

Tentara AS belum akan ditarik dari Irak

Tentara AS belum akan ditarik dari Irak

Dalam jumpa pers hari Minggu (03/09) kemarin, Penasehat Keamanan Nasional Irak, Mowwaffak al-Rubaie, menyebutkan bahwa aparat Irak berhasil membekuk wakil pemimpin Al-Qaida di Irak Hamid Juma Faris al-Saidi, dan sejumlah komandan lapangan, sejak beberapa waktu lalu. Juma Faris Al Faidi digambarkan dalam keadaan luka berat, namun tak dijelaskan di mana ia ditahan atau dirawat.

Disebutkan, Hamid al-Saidi ditangkap tatkala bersembunyi di sebuah apartemen, di utara kota Baquba. Saat ditangkap, ia tengah bersama sejumlah bocah dan perempuan, yang dijadikannya tameng hidup. Hamid al-Saidi alias Abu Humam alias Abu Rana,adalah orang terpenting kedua di jaringan teroris Al Qaida untuk wilayah Irak sesudah Abu-Ayyub Al-Masri yang masih buron hingga kini. Al-Masri mengambil alih pimpinan Al Qaida wilayah Irak sejak tewasnya Abu Musab al-Zarqawi, Juni lalu.

Disebutkan, al-Saidi adalah tokoh yang mengatur aksi pemboman di kota Samara Februari lalu yang kemudian meletuskan rentetan kekerasan sektarian antar umat Suni dan Shiah di seluruh Irak.

Yang menarik, keberhasilan penangkapan ini diumumkan menyusul buntunya perundingan antara pemerintah Amerika Serikat dan Irak, mengenai pengalihan komando operasi keamanan di negeri itu. Asalnya, upacara serah terima keamanan dari tentara Amerika Serikat kepada tentara Irak, dijadwalkan berlangsung Sabtu (02/09)lusa. Tetapi pada saat-saat terakhir, upacara itu ditunda hingga hari Minggu (03/09) kemarin. Namun kemudian ditunda lagi hingga waktu yang tak ditentukan.

Yang jadi perintang kesepakatan adalah mengenai koordinasi baru antar kedua tentara. Perdana Menteri Irak Nuri Al Maliki ingin agar tentaranya lebih bebas dalam mengambil keputusan-keputusan. Sementara Washington masih belum sepenuhnya yakin atas kemampuan tentara Irak yang mereka latih, dalam menangani keamanan Irak. Padahal penyerahan komando keamanan ke tangan tentara Irak merupakan pintu keluar bagi penarikan 140 ribu tentara Amerika dari negeri 1001 malam itu.

Presiden AS George Bush menggambarkan:

"Jika Amerika menarik tentaranya sebelum tentara Irak bisa mempertahankan dirinya sendiri, akibatnya bisa sangat dahyat. Bisa-bisa itu berarti menyerahkan Irak kepada kaum teroris, memberi mereka markas yang enak, serta tambang-tambang minyak raksasa untuk membiayai ambisi mereka. Dan kita tahu persis, ke mana ambisi itu mengarah. Jika kita menarik diri dari pertempuran di jalanan Bagdad, kita akan harus menghadapi kaum teroris di jalanan kota-kota kita. Keamanan dunia beradab tergantung pada kemenangan dalam perang melawan teror. Dan itu tergantung dari kemenangan di Irak. Jadi Amerika tidak akan menarik diri sebelum kemenangan dicapai."

Serah terima komando keamanan masih berada di jalan buntu. Sedikit kesepakatan yang sudah dicapai adalah penyerahan penjara Abu Ghraib yang kontroversial itu. Juru bicara pemerintah Irak, Ali Al Dabbagh menyebutkan: "Penjara Abu Ghraib sudah diserahkan, dan sekarang berada dalam tanggung jawab pemerintah Irak. Sudah tidak ada tahanan di penjara Abu Ghraib sekarang ini. Sebagaimana diketahui, penjara Abu Ghraib berkaitan dengan pembantaian besar di masa rezim Saddam Hussein."