Teror Psikologi Israel di Beit Hanoun | dunia | DW | 30.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Teror Psikologi Israel di Beit Hanoun

Bunyi ledakan dan tembakan, teror psikologi bagi warga Beit Hanoun. Bettina Marx melaporkan dari lokasi.

Beit Hanoun jadi sasaran serangan udara Israel

Beit Hanoun jadi sasaran serangan udara Israel

Beit Hanoun adalah kota kecil di utara Jalur Gaza. Letaknya dekat perbatasan ke Israel. Begitu dekat, sehingga militan Palestina kerap menembakkan roket Kassamnya dari kota itu ke Israel. Kini, tentara Israel ada di depan pintu. Sepanjang hari mereka menembaki Beit Hanoun dan daerah sekitarnya. Suara gaduh terdengar dimana-mana.

Tetapi, jalan-jalan di Beit Hanoun sepi. Bensin hampir tidak ada di sini, karenanya tak banyak mobil lalu lalang. Aliran listrik juga tidak ada lagi, sejak israel menembaki instalasi pembangkit listrik di Gaza hingga terbakar. Di sebuah pertokoan kecil, seorang pedagang sayur sia-sia menantikan pembeli.

Orang-orang sudah tidak punya uang lagi, kata Um Muhammad yang bersama ibunya menjual tomat dan zucchini. Harga sekilo tomat hanya satu setengah Shekel, sekitar 25 sen atau 3000 rupiah. Untuk membelinya pun orang tak lagi punya uang. Kedua wanita itu berharap, seperti juga kebanyakan orang di Jalur Gaza, semoga tentara Israel yang diculik akan ditukar dengan tawanan Palestina. Mereka bilang, militan harus menyandera tentara itu selama mungkin hingga semua tahanan Palestina dibebaskan.

Seorang ibu menambahkan, "Mereka membuat semua komedi ini karena satu tentara! Putra saya sejak 4 tahun dipenjara, saya hampir tak pernah melihatnya. Dan jika saya melihat dia, cuma dari balik kaca dan tangannya diborgol. Mana PBB? Mana masyarakat internasional? Kami tidak akan keluar dari sini, itu cuma mimpi Israel!"

Pesawat-pesawat Israel menyebarkan selebaran dari atas Beit Hanon dan daerah tetangganya Beit Lahya. Di situ warga didesak utnuk meninggalkan rumah mereka. Walikota Mohammad Nazek EL Kafarna dari faksi Hamas, berang. Ia bilang, "Tidak realistis. Kebanyakan orang di sini bahkan tidak punya cukup uang untuk membeli makanan. Kemana mereka harus pergi? Apa mereka harus menyewakan rumahnya? Lagipula orang-orang percaya, mereka tidak boleh meninggalkan tanah nya, karena mungkin mereka tidak akan pernah bisa kembali."

Faktanya, warga di Beit Hanoun sama sekali tak berpikir untuk mengepak barang-barang mereka. Ketika radio Israel melaporkan ratusan penduduk Beit Hanoun siap mengungsi, Raed, seorang supir taksi dan kepala keluarga, Cuma tertawa. Menurut dia, orang Palestina tidak akan meninggalkan rumah mereka. Raed menambahkan, mereka tak menunggu sampai Israel menyerang, merekea akan menyiapkan diri!

Raed, berusia 35 tahun memliki 6 anak. Dia sedang cuti dan sepanjang hari ada di rumah. Anak terkecilnya berusia 2,5 tahun, ketakutan setiap kali terdengar ledakan granat, gemuruh pesawat, helikopter yang berputar-putar di atas kota. Suara-suara itulah yang paling menyiksa warga. Terutama bunyi ledakan dari gempuran pesawat terbang yang muncul tanpa pemberitahuan. Kadang terdengar sesekali di kejauhan, kadang silih berganti memekakkan telinga. Dentuman yang begitu dahsyat sehingga bumi seperti terangkat beberapa saat dan terhempas kembali. Anak-anak lah yang paling menderita akibat suara-suara serangan itu.

Iklan