Terjepit Konflik Tak Berkesudahan, Krisis Kemanusian di Srilanka | dunia | DW | 19.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Terjepit Konflik Tak Berkesudahan, Krisis Kemanusian di Srilanka

Pemberontak Tamil Elam LTTE dan Pemerintah Srilanka sama-sama tak mau mengalah. Dampaknya, masyarakatlah yang menderita.

Marinir Srilanka berjaga-jaga

Marinir Srilanka berjaga-jaga

Di Jaffna misalnya. Semenanjung di utara yang mayoritasnya Tamil ini berada di bawah kontrol pemerintah. Jalan masuk menuju wilayah pemberontak sebulan terakhir ini telah diblokir, akibat pertempuran dan upaya penertiban oleh pemerintah.

Pemerintah Disalahkan

Lebih dari 600 ribu penduduk Jaffna kekurangan listrik, kehilangan mata pencarian, bahkan menangkap ikanpun dilarang. Harga kebutuhan pokok melonjak 10 sampai 20 kali lipat. Pemerintah bersalah. Demikian dipaparkan anggota parlemen dari fraksi yang dekat dengan Tamil TNA, Suresh Premanbchandran.

"Di sini, pemerintah menggunakan makanan sebagai senjata, bukan hanya di utara tapi juga di timur. Mereka melakukan hal ini dan orang-orang menderita kelaparan.“

Penolakan Bantuan

Situasi yang begitu buruk di Jaffna diakui pemerintah. Pemerintah mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan, lewat kapal dan pesawat. Namun para pemberontak macan Tamil menolak bantuan itu, seperti yang diungkapkan seorang pejabat pemerintahan, Palita Kohona.

"Kami berharap bahwa akhir bulan ini bantuan pangan ke Jaffna berikut cadangannya terpenuhi. Akan tetapi, sayangnya, penderitaan masyarakat Jaffna seolah-olah menjadi alat propaganda LTTE.“

Baik pemberontak maupun pemerintah sama-sama membatasi jalan masuk daerah sengketa bagi wartawan dan juga organisasi bantuan. Proyek bantuan yang sudah siap akhirnya terpaksa dihentikan. Demikian dikatakan Jeevan Thiagarajah, direktur Konsorsium Bantuan Kemanusiaan Srilanka:

Pelanggaran dari Kedua Pihak

Pihak independen dapat menunjukan bukti-bukti kebengisan kedua pihak. Di Vaharai, sebelah timur Srilangka, sejak beberapa minggu pemberontak dan pemerintah bertempur dengan sengit. Masyarakat yang ingin melarikan diri dihalang-halangi oleh pemberontak Tamil. Sementara di Jaffna, pemerintahlah yang berusaha menghalangi penduduk yang ingin kabur. Dengan dalih upaya keamanan, terjadi pelanggaran hak-hak asasi manusia, misalnya dengan larangan keluar jam malam.

Namun Tamil Elam pun tak kalah brutal. Ditandai dengan serangan bom bunuh diri, peledakan bom dan pembunuhan politisi. Deputi pemerintahan Kohona mengatakan:

"Dalam 12 bulan terakhir, tiada hari dilalui tanpa ledakan bom, yang menewaskan aparat keamanan dan penduduk sipil. LTTE terlihat menggunakan kekerasan untuk menggolkan tujuan politik mereka.“

Negara penghasil teh ini telah dilanda konflik selama dua dekade terakhir, antara pemerintah dan kelompok minoritas Tamil. Pemberontak memperjuangkan terbentuknya sebuah negara terpisah bagi minoritas Tamil.

Iklan