Terbunuhnya si Pemenggal Kepala | Fokus | DW | 13.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Terbunuhnya si Pemenggal Kepala

Taliban, sempat membantah kabar tewasnya pemimpin militer mereka paling penting, Mullah Dadullah.

Mullah Dadullah Lang

Mullah Dadullah Lang

Taliban berjanji segera memberikan bukti suara bahwa tokoh bernama lengkap Dadullah Lang itu masih hidup. Namun mereka tak berkutik, ketika pasukan pasukan penjaga keamanan internasional di Afghanistan, ISAF yang dipimpin Pakta Pertahnana Atlatntik Utara, NATO, menunjukan fakta tak terbantahkan. Berupa jasad sang Mullah, yang diperlihatkan kepada para wartawan, di kandahar, hari Minggu kemarin.

Para wartawan yang pernah mewawancarai tokoh bengis itu, juga penduduk setempat, memastikan bahwa itu memang mullah Dadullah. Baik dari mukanya, maupun kaki kirinya yang buntung, ciri khas mullah Dadullah –kendati banyak orang Afghan lain yang kehilangan kaki karena perang. Sebagaimana ditegaskan Assadullah Khalid, gubernur provinsi Kandahar:

"Semua cirinya cocok. Kami sangat pasti bahwa itu memang mullah Dandullah. Ini serangan yang didasarkan pada informasi yang akurat."

Mullah Dandullah terbunuh dalam suatu sergapan Sabtu malam di distrik Girishk, provinsi Helmand. Ia tewas oleh peluru yang bersarang di dada dan kepalanya. Selain Dadullah, 10 gerilyawan Taliban lain tewas dalam sergapan itu.

Mullah Dandullah adalah seorang lelaki berusia 40 tahun yang dianggap salah satu pemimpin Taliban paling berbahaya, serta paling keji. Ia mempelopori tindakan penculikan orang asing dan pemenggalan kepala terhadap orang Afghan yang dituduh membantu lawan. Ia bahkan menunjukan aksi bengisnya itu melalui rekaman video.

Gubernur Kandahar, Asadullah Khalid menggambarkan:

"Dia adalah seorang pembunuh kejam yang telah membunuh banyak waarga Afghan. Ia telah memenggal kepala banyak sekali orang Afghanistan."

Dilahirkan di provinsi Urzugan , reputasi kekejiannya dibangun dengan memerintahkan pembantaian terhadap kaum Shiah dari suku Hazara. Saat itu mullah dandullah merupakan satu dari 10 pemimpin tertinggi Taliban yang berkuasa di Afghanistan tahun 1996 hingga 2001.

Ia juga dikenal kejam terhadap para pendukung warga Afghanistan pendukung Aliansi Utara, yang merupakan rival Taliban. Ia tak ragu membakar suatu desa jika warganya dituduh mendukung Aliansi Utara. Mullah Dadullah dilaporkan pula selalu jadi orang pertama yang melemparkan batu terhadap perempuan yang dihukum rajam dengan tuduhan zina atau pelacur.

Mullah Dadullah memang orang yang sangat keras dalam memaksakan pelaksanaan hukum Islam lama. Namun, berbeda dengan para pemimpin Taliban lain yang mengharamkan foto karena dianggap syirik, mullah Dadullah justru gemar tampil di hadapan kamera wartawan. Karenanya wajahnya tergolong sangat dikenal. Tak jarang ia menelpon wartawan untuk memberikan pernyataan.

Kepada wartawan, Dadullah mengaku secara teratur berhubungan dengan pemimpin tertinggi Taliban, mullah Umar, dan pemimpin kelompok Al Kaidah, Usamah bin Ladin. Dalam suatu wawancara akhir tahun lalu, Mullah Dadullah menyatakan telah menyiapkan ribuan pembom bunuh diri yang tinggal menunggu perintahnya.

Selama setahun terakhir, mullah Dadullah merupakan tokoh Taliban paling dicari. Ia berada di balik penculikan wartawan Italia, yang kenudian dibebaskan setelah pemerintah Afghanistan bersedia membebaskan sejumlah tahanan Afghanistan. Namun Dadullah memenggal penerjemah sang awrtawan Italia. Dandullah kemudian menculik dua pekerja sosial Prancis. Keduanya dibebaskan, salah satunya dibebaskan sehari sebelum Dandullah terbunuh.

Terbunuhnya mullah Dadullah dipastikan merupakan pukulan besar bagi gerilyawan taliban, yang akhir tahun lalu sudah kehilangan Mullah Akhtar Mohammad Osmani, yang tewas oleh serangan bom Amerika. Kendati pasti bukan berarti Taliban akan habis begitu saja.