Tentang Motor dan MRT: Pengamatan di Spanyol dan Jerman | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 29.03.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

blog

Tentang Motor dan MRT: Pengamatan di Spanyol dan Jerman

Ketertiban berlalu lintas yang baik di negara Eropa kini tentu adalah buah dari proses panjang. Apa yang harus kita lakukan agar perubahan ke arah lebih baik di Indonesia tidak memakan waktu yang lama? Oleh Zakia Ahmad.

Saya Zakia, warga negara Indonesia yang tinggal di Bonn sejak lima tahun lalu. Saya menikah dengan orang Spanyol yang lahir dan besar di Jerman. Dua kali setahun kami mengunjungi keluarga suami di Spanyol dan satu kali setahun keluarga saya di Indonesia.

Tinggal di Jerman dan secara teratur mengunjungi Spanyol menjadikan saya familiar dengan kultur masyarakat kedua negara. Menjadi orang Indonesia dan menjalani kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat Jerman dan Spanyol membuat saya mau tidak mau membandingkan situasinya dengan di Indonesia. Tentu saya sadar bahwa membandingkan Indonesia dengan Spanyol atau Jerman bukan lah perbandingan apel dengan apel. Tapi banyak pelajaran yang bisa kita petik dari mereka.

Nurzakiah Ahmad DW Blog Madrid (DW/N. Ahmad)

Zakia di salah satu stasiun MRT di Madrid.

Kebiasaan, peraturan dan sistem dalam masyarakat ke dua negara ini, seringkali membuat saya berseru "di Indonesia mana bisa kayak gini!" atau bahkan juga "loh ini persis kayak di Indonesia!"

Terkait dengan beberapa hal yang baru-baru ini viral di Indonesia, yakni tentang pengendara motor yang mengamuk karena ditilang dan rendahnya tingkat disiplin warga saat naik MRT, saya ingin bercerita pengalaman saya tentang ketertiban berkendara dan berlalu lintas yang saya amati dalam masyarakat Jerman dan Spanyol, yang membuat saya kadang takjub, kadang heran.

Tentu berbagai pengalaman terkait kebiasaan dan gaya hidup orang Jerman dan Spanyol bukanlah hal yang bisa digeneralisasikan. Jadi mohon agar hal-hal (terutama yang buruk) yang saya ceritakan di sini tidak digeneralisasikan pada seluruh orang Spanyol, orang Jerman atau orang Indonesia.

Kesadaran ditanamkan sejak kecil

Pertama kali melihat rambu lalu lintas "Nur bei Grün..." seperti pada gambar, saya sangat takjub. Di Indonesia atau di Spanyol, saya tidak pernah menemukan tanda ini. Rambu ini meminta kita yang sudah dewasa untuk hanya menyebrang jalan jika lampu sudah hijau, untuk menjadi contoh baik bagi anak-anak.

Hinweisschild an Ampel Nur bei Grün (picture-alliance/dpa/P. Kneffel )

Rambu lalu lintas yang lazim ditemukan di Jerman.

Kebiasaan kebanyakan orang, termasuk saya, terutama ketika buru-buru adalah meskipun lampu lalu lintas masih merah untuk pejalan kaki, tapi lampu sudah berganti merah juga untuk mobil, maka orang akan menyebrang saja. Atau bahkan mungkin ada saja yang langsung menerobos lampu merah dengan setengah berlari di saat lampu hijau untuk mobil masih menyala.

Namun, dengan adanya rambu ini di sini orang dewasa diharapkan menjadi contoh bagi anak-anak. Suami saya (yang lebih seperti orang Jerman, daripada Spanyol) beberapa kali menahan saya yang sudah mau menyebrang jalan dan bilang "tunggu sampai hijau, ada anak-anak di sana."

Kini saya pun jadi terbiasa kalau mau menyebrang. Saya selalu melihat ke sekeliling. Tapi kalau tidak ada anak-anak, ya sudah saya menyebrang saja hehehe..

Pesan yang saya ingin sampaikan di sini adalah peraturan yang mungkin banyak orang anggap 'sepele' itu bisa mengubah kesadaran seseorang (paling tidak saya) untuk benar-benar menunggu lampu hijau untuk jalan dan secara tidak langsung memberikan contoh baik untuk anak-anak. Kita semua pasti setuju bahwa orang dewasa bertanggung jawab agar anak-anak bisa tumbuh dan berkembang menjadi orang yang sadar berlalu lintas.

Di Spanyol, yang terjadi adalah kebalikannya. Saat kami ingin menyebrang jalan, ada sepasang suami istri sudah menyebrang ketika lampu pejalan kaki masih merah, bahkan bersama anak-anaknya. Mencoba menghibur suami saya yang menggerutu karena menyaksikan orang tua yang gagal memberikan contoh baik kepada anak-anaknya, saya bilang "bukan hanya di Spanyol, di Indonesia juga kayak gitu" hehe..

Momen serupa terjadi lagi saat kami berada di dalam mobil. Saat itu musim panas, jadi banyak orang yang membuka jendela mobil mereka. Mobil kami berada di lampu merah. Di arah berlawanan, lampu lalu lintas sudah berubah merah, namun lampu lalu lintas untuk kami belum berubah hijau. Dari mobil di samping kami, kami mendengar perkataan co-driver kepada pengemudi, yang tampak seperti kakak-adik, "Enggak usah tunggu sampai hijau, kalau di arah sana sudah merah, kamu jalan saja." Suami saya hanya geleng-geleng. Dan tebak apa yang saya bilang pada dia? "Bukan hanya di Spanyol, di Indonesia juga kayak gitu." :D

Perlu waktu untuk menjadi disiplin?

Warga Jerman sangat tertib berkendara dan berlalu lintas. Semua peraturan dan sistem berfungsi dengan normal dan baik. Ada peraturan untuk setiap hal, dan kebanyakan warga menaati peraturan tersebut. Saya tidak akan menemukan orang naik mobil tanpa sabuk pengaman atau naik motor tanpa helm. 100 persen pengendara mobil dan motor pasti akan menaati peraturan tersebut, yang memang ditujukan untuk keselamatan si pengendara sendiri. Di Indonesia mungkin situasinya belum seperti di Jerman, di Spanyol sudah. Namun kira-kira 20 tahun lalu, situasi di Spanyol masih serupa seperti di Indonesia.

Suami saya bercerita bahwa dia ingat sekali saat masih kecil dan menghabiskan liburan musim panas di Spanyol, dia sering melihat orang berkendara motor tanpa helm. Pamannya sendiri bahkan sering mengendarai mobil tanpa memakai sabuk pengaman. Namun kini, sangat jarang ditemukan orang yang melanggar peraturan tersebut. Ketika diskusi dengan suami saya tentang hal itu, saya pun bertanya-tanya, apakah ini hanya lah masalah waktu hingga masyarakat Indonesia bisa 100 persen menyadari pentingnya keselamatan dalam berkendara dan bisa tertib berlalu lintas?

Nurzakiah Ahmad DW Blog Madrid (DW/N. Ahmad)

Pejalan kaki menunggu untuk menyebrang di salah satu jalan di Madrid.

Begitu pula dengan hal terkait MRT. Meskipun jarang ditemukan, di Jerman juga ada orang makan di dalam U-Bahn (MRT ala Jerman). Namun hanya sekedar sandwich atau roti, bukan nasi bungkus. Tapi Jerman punya sejarah panjang moda transportasi massa bawah tanah. U-Bahn di Berlin pertama beroperasi di tahun 1902. Kecanggihan dan ketertiban transportasi massa di Jerman sekarang adalah hasil dari proses selama 100 tahun. Kita tidak tahu seperti apa warga Berlin di tahun 1902 saat pertama kali naik MRT.

Saya sangat berharap, Indonesia tidak perlu waktu 20 tahun hingga semua orang memakai helm ketika naik motor, seperti di Spanyol, atau 100 tahun hingga warganya tertib ber-MRT seperti di Jerman. Perubahan untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik secepat mungkin semuanya ada di tangan kita.

Jadi, pertanyaannya sekarang adalah: apa yang harus dan bisa kita lakukan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia agar perubahan ke arah lebih baik itu tidak memakan waktu yang lama?

** DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan satu foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri.

 

Laporan Pilihan