Tema Sosial dalam Konferensi G8 | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 09.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tema Sosial dalam Konferensi G8

Para menteri tenaga kerja G8 bertemu di kota Dresden selama 2 hari membahas agenda pertemuan puncak Juni mendatang di Heiligendamm dekat Hamburg.

Peserta konferensi menteri kerja dan sosial G8 di Dresden.

Peserta konferensi menteri kerja dan sosial G8 di Dresden.

Pernyataan akhir dari konferensi dua hari negara-negara industri maju yang tergabung dalam G8 terutama berisi harapan dan permintaan kepada para pemimpin negara dan pemerintahan yang akan bertemu di Heiligendamm beberapa pekan mendatang. Konferensi itu berakhir hari Selasa (08/05).

Tuan rumah konferensi di Dresden tersebut, yaitu menteri tenaga kerja Jerman Franz Müntefering merangkum pernyataan akhir demikian:

"Dengan konferensi kami mengingatkan lagi kepada para pemimpin negara, agar mereka membicarakan juga keadaan sosial dan mendiskusikan juga keterkaitan antara ekologi, ekonomi dan sosial. Karena keseimbangan antara semua itu sangat penting."

„Globalisasi yang dilaksanakan secara sosial“. Itulah tema pertemuan yang berakhir Selasa kemarin (08/05), di Dresden, yang dihadiri negara G8, yaitu Jerman, AS, Jepang, Canada, Perancis, Itali , Inggris dan Rusia. Tujuan utamanya, bagaimana cara negara-negara berkembang dapat mencapai standar sosial seperti di negara-negara G8, atau setidaknya mendekati standar mereka.

Franz Müntefering: "Perlindungan sosial berarti, rakyat tidak boleh hidup dalam ketakutan dan kesengsaraan. Mereka harus mempunyai cukup makanan dan minuman. Selain dari itu juga memiliki perlindungan sosial untuk perubahan keadaan hidup."

Menteri sosial Brasil, Luís Marinho adalah tamu kehormatan dalam konferensi tersebut. Ia seharusnya menerangkan sistem pensiun di negaranya. Tetapi, sebagai mantan anggota serikat kerja, ia juga menceritakan pandangannya tentang pelaksanaan globalisasi yang adil dan merata. Negara-negara berkembang berusaha memberikan sumbangannya. Tetapi negara-negara G8 juga harus menyumbangkan sesuatu agar cita-cita itu tercapai. Demikian dikatakan Marinho. Ia menambahkan, negara-negara berkembang yakin, bahwa globalisasi dapat memberikan keuntungan, tetapi untuk itu mereka harus dapat menjual produknya di negara-negara industri maju.

Keputusan konkret satu-satunya yang berhasil dicapai di Dresden adalah pertanyaan dan tuntutan kepada Organisasi Pekerja Internasional – ILO, mengapa standar minimal yang ditetapkan oleh organisasi tersebut sudah bertahun-tahun tidak berhasil dilaksanakan sepenuhnya. Sekretaris Jenderal ILO, Juan Somavia mengakui, pihaknya tidak memiliki banyak cara untuk menekan pemerintah suatu negara. Dunia tidak memiliki pemerintah bersama, yang dapat menjatuhkan sanksi, dan harus dipatuhi semua negara. Demikian ditambahkan Somavia.

Menteri Tenaga Kerja Jerman, Franz Müntefering juga mengakui, bahwa masalah pengadaan dan perbaikan kerja juga ditangani secara berbeda oleh setiap negara anggota G8. Hal inipun nampak dalam pertemuan di Dresden.

Tema utama diskusi pada hari terakhir konferensi Selasa kemarin (08/05) adalah tanggungjawab perusahaan bagi masyarakat di ekonomi yang global. Franz Müntefering mengumumkan, menyangkut hal itu ia akan mengusahakan kesepakatan dengan sektor ekonomi Jerman hingga musim gugur mendatang. Di Dresden para wakil perusahaan Jerman menolak keras penetapan masalah itu dalam undang-undang. Menurut mereka, keikutsertaan perusahaan dalam memperbaiki kesejahteraan sosial masyarakat harus tetap bersifat sukarela. (ml)

Iklan