1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Teknik Pemindai Gol

22 Juni 2012

Silang sengketa menyangkut keabsahan sebuah gol dalam sepakbola kembali memanas dalam Piala Euro 2012, setelah gol tuan rumah Ukraina yang tidak diakui.

https://p.dw.com/p/15JaL
Foto: Oliver Braun

Mulai turnamen sepakbola Piala Eropa 2009/2010, secara khusus FIFA memasang wasit gawang, yang menegaskan apakah sebuah bola sudah melewati garis gol di gawang, yang berarti dicetak sebuah gol. Namun manusia tetap memiliki kelemahan, dan seringali memicu sengketa menyangkut keabsahan sebuah gol.

Silang sengketa ini, memicu berkobarnya lagi perdebatan menyangkut digunakannya bantuan teknik untuk menegaskan masuknya bola ke gawang yang berarti gol. Sejauh ini para perhimpunan sepakbola Eropa-UEFA maupun perhimpunan sepakbola dunia- FIFA menolak digunakannya teknik semacam itu, dan tetap mempercayai wasit dan wasit gawang.

Contoh kontroversi paling aktual adalah kasus gol dalam laga di babak penyisihan grup D Piala Euro 2012, antara Inggris melawan tuan rumah Ukraina. Sebuah tendangan bola Marko Devic sebetulnya sudah melewati garis gawang, ketika ditendang lagi keluar oleh pemain Inggris, John Terry. Namun wasit dan wasit gawang tidak mengakui gol itu.

EM Spiel England vs. Ukraine
John Terry tendang bola keluar gawang,dan wasit tidak sahkan gol Marko Devic padahal bola telah lewati garis gawang.Foto: RIA Nowosti

Mungkin secara teknis keputusan sudah tepat, karena posisi Devic "offside", tapi kesalahannya, hakim garis juga tidak mengangkat bendera. Namun yang menjadi masalah inti adalah, wasit dan wasit gawang tidak mengakui gol itu, karena mereka tidak mampu melihat bahwa bola sudah melewati garis gawang.

Menimbang kesalahan keputusan wasit dalam piala Eropa yang sedang digelar, kini presiden FIFA, Sepp Blatter juga mengubah sikapnya. Dalam pesan pendek lewat twitter ia menulis : "Bantuan teknik untuk penentuan gol, bukan lagi alternatif, melainkan sudah merupakan kebutuhan."

Terkait hal itu International Football Association Board (IFAB), akan bersidang tanggal 5 Juli membahas penerapan teknik yang sejauh ini masih diperdebatlan. Sejauh ini ada dua macam teknik yang sudah diujicoba, yakni sistem yang disebut "GoalRef" dan "Hawk-Eye".

Sistem Kamera atau Chip?

Sistem "Hawk-Eye" yang dikembangkan di Inggris, sudah digunakan dalam olahraga tennis dan cricket. Tekniknya berupa pemasangan sejumlah kamera khusus berkecepatan tinggi, yang merekam ratusan gambar per detiknya, dari berbagai perspektif. Berbasi gambar yang direkam, simulasi 3 dimensi yang dibuat memiliki akurasi posisi bola hingga ukuran milimeter.

Dengan sistem itu, bukti sebuah bola sudah melewati garis atau keluar amat meyakinkan. Sistem ini dikembangkan oleh pakar matematikan inggris, Dr. Paul Hawkins.

Hawk-Eye Kamera
Kamera Hawk-EyeFoto: dapd

Namun terdapat kelemahan dari sistem ini. Jika pandangan kamera terhadap bola terhalang, baik oleh pemain atu oleh hal lain, posisi bola juga tidak akan terrekam. Selain itu harga sistem itu relatif mahal.

Alternativ sistem yang dikembangkan Jerman "GoalRef", sejauh ini telah diterapkan dalam olahraga bola tangan. Sistemnya berbasis pada sebuah chips yang ditanam di dalam bola, serta medan magnet pada gawang. Untuk itu di kawasan penalti dan di belakang garis gawang dipasang jaringan kabel listrik tipis.

Sistemnya ditunjang komputer. Wasit yang mengenakan jam tangan khusus, akan menerima sinyal jika bola melewati garis gawang, dan tercipta sebuah gol. Sistemnya berfungsi mirip perangkat pencegah pencurian barang di pusat-pusat perbelanjaan. Di sini sinyal alarm juga akan berbunyi, jika chips pengaman yang dipasang pada barang melewati posisi tertentu, dalam hal ini ambang pintu keluar masuk.

Dengan sistem yang dikembangkan di Jerman ini, teoritis semua jenis bola dapat dipasangi chips komputer bersangkutan.

Olivia Fritz/Agus Setiawan

Editor : Vidi Legowo-Zipperer