1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Gaya hidupBelanda

Sempat Bikin Heboh, Tas “Kulit T. Rex” Gagal Laku di Lelang!

12 Juni 2026

Tas tangan yang dipromosikan sebagai "produk kulit T. rex pertama di dunia" gagal menemukan pembeli dalam sebuah lelang. Jadi, apakah tas itu sebenarnya lebih banyak mengandung unsur ayam daripada dinosaurus?

https://p.dw.com/p/5FGzJ
Tas tangan berbahan kolagen T-Rex di Museum ArtZoo
Tas tangan yang dipasarkan sebagai produk yang dibuat menggunakan kolagen yang diekstraksi dari fosil T. rexFoto: Piroschka van de Wouw/REUTERS

Awal tahun 2026, Museum Artis Zoo di Amsterdam, Belanda, memamerkan sebuah tas tangan di samping kerangka dinosaurus berukuran raksasa. Tas tersebut diklaim terbuat dari "kulit T. rex hasil rekayasa laboratorium."

Produk yang sempat menarik perhatian luas itu dilelang pada Kamis (12/06). Namun, tas tersebut gagal terjual. Rumah lelang Drouot di Paris, Prancis, mencatat bahwa nilai penawaran yang masuk jauh di bawah perkiraan. Pelelang Giquello sebelumnya memperkirakan benda "satu-satunya di dunia" itu dapat terjual dengan harga lebih dari US$500.000 (sekitar Rp8,15 miliar). Namun, menurut rumah lelang tersebut, penawaran yang masuk hanya sedikit melampaui US$150.000 (Rp2,45 miliar).

Karena belum pernah ada produk serupa yang dijual sebelumnya, Alexandre Giquello, pemilik rumah lelang yang menyelenggarakan penjualan tersebut, mengatakan kepada AFP bahwa mereka harus "menentukan sendiri harga" yang dianggap mencerminkan besarnya investasi yang dibutuhkan untuk membuat tas itu sekaligus tingkat kelangkaannya.

Produk eksperimental

Tas tersebut dirancang oleh label fesyen asal Polandia, Enfin Leve, sebagai bagian dari lini pakaian eksperimental mereka.

Namun, bukan desainnya yang paling menarik perhatian publik, melainkan bahan pembuatnya. "Bahan ini memiliki karakter yang berbeda dari apa pun yang pernah kami tangani. Padat, primitif, dan bekerja dengan logikanya sendiri," tulis Enfin Leve di media sosial.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan "kulit T. rex"?

Dinosaurus punah sekitar 66 juta tahun lalu. Pada dekade 1990-an, film Jurassic Park memicu ketertarikan global terhadap dinosaurus dan memunculkan spekulasi tentang kemungkinan mengkloning hewan purba tersebut.

Namun, para peneliti secara konsisten menyatakan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan karena DNA akan terurai seiring waktu.

Cuplikan Jurassic Park III saat dinosaurus memangsa sejumlah orang di dalam bangkai pesawat
Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa kloning dinosaurus menggunakan DNA purba seperti dalam film-film ‘Jurassic Park’ hanyalah fiksi ilmiah belakaFoto: United Archives/picture alliance

Perdebatan soal protein dinosaurus

Sekitar 20 tahun lalu, para peneliti di Montana, Amerika Serikat (AS), menemukan bagian dari kerangka Tyrannosaurus rex. Penemuan itu semakin menyita perhatian setelah ahli paleontologi Mary Higby Schweitzer mengumumkan bahwa timnya berhasil mengidentifikasi sisa jaringan lunak, termasuk fragmen protein, di dalam tulang tersebut.

Sebelumnya, para ilmuwan umumnya meyakini bahwa material organik semacam itu tidak mungkin bertahan selama jutaan tahun.

Namun, banyak peneliti tetap skeptis.

Sebagian berpendapat bahwa bakteri yang mengkolonisasi tulang mungkin membentuk struktur yang kemudian diidentifikasi Schweitzer sebagai jaringan lunak. Perdebatan mengenai apa sebenarnya yang ditemukan tim tersebut masih berlangsung hingga saat ini.

Menurut makalah pra-publikasi yang ditulis Thomas Mitchell dan Ernst Wolvetang, pendiri The Organoid Company yang turut mengembangkan kulit hasil rekayasa laboratorium tersebut, proyek tas di Amsterdam menggunakan data dari temuan di Montana itu.

"Ini seperti memiliki sebuah teka-teki, tetapi Anda hanya memiliki beberapa keping, lalu harus melengkapi sisanya," kata Mitchell dalam sebuah video di Instagram.

Rekonstruksi dinosaurus mirip burung Fujianvenator prodigiosus
Terdapat hubungan langsung antara spesies burung modern dan beberapa jenis dinosaurus, seperti Fujianvenator prodigiosus, yang ditemukan pada tahun 2022Foto: Chuang Zhao/Handout/REUTERS

Pertanyaan utamanya tetap sama, yakni apakah fragmen yang tersedia benar-benar berasal dari T. rex. Jan Dekker, peneliti pascadoktoral dari Universitas Turin, mengaku meragukannya. Ia merupakan peneliti yang mendalami paleoproteomik, cabang ilmu yang mempelajari protein dari sisa-sisa organisme purba.

"Protein dinosaurus adalah topik yang sangat kontroversial," kata Dekker kepada DW. "Batas waktu yang selama ini kami gunakan untuk memperkirakan berapa lama protein dapat bertahan baru-baru ini diperpanjang menjadi sekitar 20 juta tahun dalam kondisi yang sangat luar biasa." Padahal, T. rex telah punah lebih dari tiga kali lebih lama dari batas tersebut. Karena itu, Dekker tidak percaya tas tersebut mengandung material dinosaurus asli.

Tas tangan berbahan kolagen T-Rex di Museum ArtZoo
Kulit T. rex menawarkan 'daya tarik pemasaran alami'Foto: Piroschka van de Wouw/REUTERS

Lebih banyak ayam daripada dinosaurus?

Kulit hasil rekayasa laboratorium merupakan bidang bioteknologi yang relatif baru. Para peneliti berupaya menciptakan material yang memiliki sifat serupa dengan kulit asli.

Untuk membuat bahan tas tersebut, para ilmuwan menggunakan fragmen protein yang ditemukan dalam penelitian sebelumnya, terlepas dari apakah fragmen itu benar-benar berasal dari T. rex atau tidak. Mereka kemudian menggunakan kecerdasan buatan untuk merekonstruksi urutan protein secara utuh. Kerangka dasarnya sebagian besar disusun berdasarkan protein ayam, karena burung merupakan kerabat hidup terdekat dinosaurus.

Dekker menganggap proses tersebut menarik. Namun, bahkan jika fragmen awal memang berasal dari T. rex, menurutnya sekitar 90% urutan protein yang dihasilkan tetap berasal dari ayam, bukan dinosaurus.

"Apa yang mereka lakukan adalah menciptakan kolagen sintetis menggunakan model AI yang dilatih dari berbagai spesies, terutama ayam," kata Dekker. "Ini merupakan perkembangan yang sangat menarik. Namun, ini bukan dinosaurus. Bahkan, lebih banyak unsur ayam daripada apa pun."

Daya tarik kulit bagi pasar barang mewah

Perusahaan yang mengembangkan proyek tersebut tidak menanggapi permintaan komentar dari DW. Namun, dalam siaran persnya, para pembuat tas menjelaskan bahwa kulit hasil rekayasa laboratorium sejauh ini belum berhasil menarik perhatian pasar barang mewah. "Kami tahu harus melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda," kata Bas Korsten dari agensi periklanan VML yang juga terlibat dalam proyek tersebut. Menurutnya, konsep T. rex menawarkan daya tarik pemasaran yang alami karena dinosaurus selalu memicu rasa penasaran banyak orang di seluruh dunia.

Dekker mengaku memahami ketertarikan tersebut, meski minatnya lebih terletak pada penelitian ketimbang strategi pemasaran. Ia menggunakan analisis biomolekuler untuk memahami kehidupan di masa lampau. Menurutnya, dunia pada zaman dinosaurus sangat berbeda dari segi keanekaragaman hayati. Karena itu, ia berharap dapat mempelajari lebih jauh tentang "dunia yang sepenuhnya asing sekaligus terasa akrab" tersebut.

Meski tidak akan menggunakan istilah "kulit T. rex" dari sudut pandang ilmiah, Dekker melihat sisi positif dari proyek tersebut. Menurutnya, jika gagasan itu dapat membuat masyarakat tertarik pada ilmu pengetahuan, maka hal tersebut selalu menjadi sesuatu yang baik.

Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Jerman. Artikel ini pertama kali diterbitkan pada 19 Mei 2026 dan diperbarui setelah tas tangan tersebut dilelang pada 12 Juni.

Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait