Tarik Ulur Keanggotaan Ukraina di UE | dunia | DW | 24.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tarik Ulur Keanggotaan Ukraina di UE

Bulan Desember dua tahun lalu warna oranye mendominasi lapangan Perdamaian di Kiev, ibu kota Ukraina.

Demonstrasi Oranye di Kiev

Demonstrasi Oranye di Kiev

Selama beberapa pekan ribuan demonstran di bawah temperatur dingin bulan Desember, bertahan dengan aksi protesnya agar pemenang pemilihan presiden Viktor Yushchenko ditetapkan jabatannya. Karena saat itu rezim lama dari Leonid Kutschma berusaha mencegahnya. Salah satu yang berpidato di panggung para demonstran adalah Ketua urusan luar negeri Uni Eropa, Javier Solana. Ia hadir sebagai penengah guna menghindari kegagalan aksi protes itu dan mengatasi sengketa antara rezim lama dan pihak oposisi yang berhaluan demokratis

Solana memperingatkan bahwa untuk mengubah konstitusi secara obyektif berarti pada dasarnya perubahan struktur kekuasaan.

Namun dua tahun setelah Leonid Kutschma tersingkir dan pergantian rezim berlangsung penuh, Brussels mundur selangkah demi selangkah. Memang ada rencana aksi penanda-tanganan kerja sama erat dengan Ukraina dan negara itu mendapat predikat pasar ekonomi. Tapi Ukraina hanya mendapat status khusus seperti negara-negara Maghreb, Timur Tengah, Kaukasus dan Moldavia.

Meskipun pada awalnya diobral janji bahwa masa depan Ukraina berada dalam Uni Eropa, hal ini sekarang sudah jarang terdengar. Malahan semakin terlihat penundaan waktu keanggotaan bagi negara-negara yang berada di kawasan Timur perbatasan Uni Eropa, dan Ukraina berada jauh di luar perbatasan itu. Komisaris Urusan Luar Negeri Uni Eropa Benita Ferrero-Waldner mengatakan

„Keanggotaannya tidak akan dibicarakan. Tapi itu bukan berarti kemungkinan untuk itu tertutup selamanya, Hanya sementara ini keanggotaan Ukraina ke dalam Uni Eropa bukan tema bahasan.“

Setelah revolusi Oranye, terjadi perpecahan antara kedua tokoh utamanya, Viktor Yushchenko dan Julia Timoschenko. Akhirnya lawan Yushchenko, Viktor Yanukovych yang pro Rusia naik sebagai Perdana Menteri. Perkembangan politik di Ukraina masih tidak stabil. Ini menambah alasan Uni Eropa menunda keanggotaan negara itu. Apalagi saat ini mayoritas warga Eropa tidak peduli dengan ambisi perluasan Uni Eropa.

Iklan