Tarik Ulur dengan Cina Bayangi Pameran Buku Frankfurt | Sosial | DW | 10.09.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosial

Tarik Ulur dengan Cina Bayangi Pameran Buku Frankfurt

Pertengahan Oktober Frankfurt kembali menggelar pameran buku. Tapi hanya beberapa pekan sebelum ajang akbar tersebut, ketegangan terjadi dengan negara yang menjadi tamu kehormatan yaitu Cina.

default

"China dan Dunia - Bayangan dan Kenyataan": Simposium yang akan digelar akhir pekan depan ini menimbulkan ketegangan pertama dengan Cina, negara yang menjadi tamu kehormatan pameran buku tahun ini. Simposium ini dimaksudkan sebagai ajang untuk berbagi pendapat dan bertukar pikiran.

Tujuannya untuk menimbulkan saling pengertian, mencegah salah paham dan prasangka buruk. Itu teorinya. Tapi pada kenyataannya Beijing tampak tidak tertarik pada pertukaran pendapat dan pikiran. Pemerintah Cina berupaya mencegah kehadiran Dai Qing, seorang pemikir asal Cina yang terkenal kritis, dalam simposium ini. Dai Qing adalah salah seorang jurnalis investigatif dan aktivis lingkungan terpenting Cina. Tapi Dinas untuk Pers dan Publikasi Cina tidak meneruskan undangan resmi Jerman kepada Dai Qing.

"Saya adalah warga negara ini, dan saya adalah penulis Cina. Saya hidup dan menulis di negara ini. Kalau Frankfurt menyelenggarakan Simposium internasional, maka tujuannya adalah memberi ruang kepada penulis asal Cina agar kami dapat berbicara mengenai sastra di Cina. Pihak berwenang seharusnya mengajukan argumen yang jelas mengapa saya tidak berhak untuk menyampaikan buah pikiran saya."

Peter Ripken, penanggung jawab Simposium di Frankfurt menjelaskan pihak Cina bahkan mengancam akan menarik diri dari Simposium ini bila Dai Qing juga ikut serta:

"Memang ada konflik. Pihak Cina yang terlibat program tamu kehormatan pameran buku sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti Simposium ini."

Simposium ini digagas pihak penyelenggara pameran buku dengan sejumlah mitra, di antaranya organisasi penulis PEN. Ripken sendiri sangat mengharapkan tamu resmi dari Cina hadir:

"Kami ingin membuat acara di mana kedua pihak dapat didengar. Kami kan tidak bisa hanya berdialog dengan para ilmuwan atau pakar Cina asal Eropa, tanpa melibatkan pihak Cina. Jadi kami juga mengundang peserta panel yang sifatnya resmi."

Tapi, pihak resmi Cina tampaknya tak tertarik untuk duduk satu meja dengan Dai Qing. Beijing bahkan siap untuk menodai citranya sebagai tamu kehormatan pameran buku Frankfurt. Padahal, Cina berinvestasi lima juta Euro untuk penampilannya di Frankfurt, puluhan penulis diterbangkan ke Jerman. Beijing sudah berbulan-bulan menyiapkan berbagai acara untuk menarik minat masyarakat pada pagelaran Cina ini. Tujuannya menurut pakar Cina Thomas Zimmer:

"Cina tidak ingin tampil sebagai negara atau budaya yang dirundung masalah dan konflik. Cina ingin tampil bagus. Sudah bertahun-tahun orang bicara mengenai "masyarakat yang harmonis" di Cina, suatu ideal yang ingin diraih Cina, tapi jadinya masalah yang ada di balik layar hanya ditutup-tutupi."

Sekarang, masalah-masalah itu muncul ke permukaan. Peter Ripken tetap berharap, Dai Qing akan hadir di Frankfurt, walau ia datang sedikit terlambat:

"Ia akan datang ke pameran buku dan hadir di sentra internasional. Kemungkinan besar ia juga hadir di acara Pusat PEN Jerman yang diselenggarakan atas kerja sama dengan pusat PEN Cina."

Ketua pusat PEN Cina Liu Xiaobo juga bermasalah dengan pemerintah Cina. Sejak Desember 2008 ia mendekam di penjara. Pasalnya, ia menggagas Charte 08, sebuah manifest yang mendesak dilakukannya reformasi politik dan demokrasi di Cina. Dokumen tersebut ditanda-tangani 5.000 kaum intelektual Cina, termasuk di antaranya dai Qing.

Matthias von Hein/Ziphora Robina
Editor: Hendra Pasuhuk