Bundesliga Kembali Bergulir, Tapi Tanpa Penonton di Stadion | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 18.05.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Olahraga

Bundesliga Kembali Bergulir, Tapi Tanpa Penonton di Stadion

Bergulirnya kembali Bundesliga menjadi perhatian pecinta bola di dunia, setelah Jerman berhasil mengendalikan penyebaran pandemi COVID-19 di sana. Terlepas itu, ada satu pertanyaan fundamental yang masih dipertanyakan.

Bundesliga menjadi liga utama sepak bola Eropa pertama yang kembali bergulir akhir pekan kemarin.

Kememenangan yang diraih Borussia Dortmund, Bayern München, dan Borussia Mönchengladbach menunjukkan tidak terpengaruhnya mereka oleh hiatus dua bulan yang diberlakukan karena pandemi virus corona. Sementara RB Leipzig yang sebelumnya tengah naik daun mampu ditahan imbang oleh Freiburg, 1-1. Köln dan Mainz juga bermain imbang, serta Hertha Berlin dengan nakhoda barunya Bruno Labbadia mampu menang 3-0 melawan tuan rumah Hoffenheim.

Namun yang paling penting, konsep kebersihan yang dikembangkan dengan cermat oleh Liga Sepak Bola Jerman (DFL) tampaknya berhasil. Para pemain turun ke lapangan secara terpisah, staf, pemain cadangan, dan pelatih mengenakan masker wajah, bola dibersihkan dengan cairan disinfektan, dan sesi wawancara dengan sejumlah jurnalis yang hadir berlangsung dengan jarak yang aman.

Pertanyaan diajukan tentang perayaan gol fisik beberapa pemain yang berlebihan, tetapi peraturan DFL dalam hal ini lebih banyak anjuran daripada aturan, sehingga sanksi urung dijatuhkan.

Bola dibersihkan dengan cairan disinfektan

Bola-bola tengah dibersihkan dengan cairan disinfektan saat pertandingan berlangsung

Operator siaran Bundesliga, Sky, melaporkan angka pentonton meningkat tajam. Bahkan, perdana menteri Bayern Markus Söder memuji bergulirnya kembali Bundesliga dengan menyebut "percobaan yang berhasil."

Ini tentunya kabar baik bagi DFL, karena meskipun semua tengah membahas kembalinya semua aktivitas seperti sedia kala, ini hal yang memang harus dilakukan. Hiraukan sesaat masalah hiburan untuk orang-orang; digulirkannya kembali Bundesliga menjadi keharusan bagi negara yang bisa dibilang beruntung karena mampu mengendalikan penyebaran virus corona dibanding negara kebanyakan.

Bundesliga biasanya membanggakan kehadiran rata-rata penontonnya yang diklaim tertinggi dari liga mana pun di dunia dan suka memasarkan dirinya di luar Jerman sebagai "sepak bola yang sebenarnya " – suatu sindiran tidak langsung terhadap liga-liga lain yang dianggap kurang ramah bagi para suporter.

Tapi tanpa suporter di stadion, menjadi bayang-bayang sepak bola Jerman; sepak bola harus bergulir seperti itu untuk saat ini, sebelum pertanyaan yang lebih mendasar dijawab.

Sesi wawancara dengan jaga jarak

Sesi wawancara dengan jaga jarak

Sepak bola akan bertahan”

Sepak bola profesional tetap jauh lebih dekat dengan para pendukungnya di Jerman daripada di tempat lain, dengan aturan 50 + 1 menetapkan bahwa pendukungnya mengendalikan saham mayoritas di klub. Ketika supporter Jerman berbicara tentang "klub mereka" dan "permainan mereka," itu bukanlah sekadar kata-kata hampa. Mereka mewakili budaya sepakbola kolektif yang sangat dilindungi oleh para pendukungnya.

Klub yang dipimpin oleh supporter, tribun berdiri, tiket dengan harga terjangkau, waktu pertandingan yang yang ramah penggemar, politik inklusif dan budaya pendukung yang bersemangat - semuanya adalah konsekuensi langsung dari kenyataan bahwa, di Jerman, supporter adalah yang utama.

Dimulainya kembali "permainan hantu" tanpa adanya penonton juga diyakini sebagai cara untuk mengamankan uang hak siar. - betapapun vitalnya ekonomi - karena itu merupakan pelemahan bagi pemahaman orang Jerman akan sepak bola. Seketika, televisi menjadi prioritas.

"Uang kami lebih penting daripada kesehatan Anda - Bundesliga dengan biaya berapa pun!" Begitu bunyi serangkaian iklan satir yang ditempel di dinding-dinding di Köln pada Sabtu (16/05) pagi, sementara beberapa penggemar meletakkan sofa di jalan-jalan Köln dan mengecatnya dengan tulisan: "Stadion, bukan sofa!" Kemudian, sebuah spanduk dipasang di teras kosong di Augsburg yang bertuliskan: "Sepak bola akan bertahan - bisnis Anda sedang sakit!"

Kritik bukanlah hal baru; Pecinta sepak bola Jerman telah menyoroti aspek yang lebih dipertanyakan dari "sepakbola modern" secara konsisten selama bertahun-tahun. Menjelang bergulirnya kembali Bundesliga, mereka mengatakan "permainan hantu bukan solusi" dan bahwa "sepak bola termasuk dalam karantina."

Fakta bahwa pemasukan liga saat ini bergantung pada pendapatan hak siar untuk menutupi pengeluaran klub yang membengkak dipandang sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang salah secara fundamental. Pertanyannya adalah, haruskah konsep ini terus mengendalikan arah sepak bola Jerman di masa depan? Tidak akan ada sepak bola Jerman seperti yang kita kenal.

Dikritik supporter

DFL pun layak diapresiasi akan tanggung jawab sosialnya ketika mencoba melobi untuk kembali digulirkannya Bundesliga.

Kepala Eksekutif DFL Christian Seifert, yang sangat menyadari reputasi sepakbola profesional di kalangan masyarakat luas, telah melakukan upaya untuk tidak terlihat menuntut perlakuan khusus dan berpendapat secara sah bahwa sepak bola laiknya industri yang berusaha melindungi dirinya sendiri dan karyawannya seperti yang lain.

Namun apresiasi itu pun lenyap ketika Bundesliga mulai bergulir kembali. Salomon Kalou merekam rekan setimnya di Hertha Berlin yang melanggar aturan selebrasi gol, supporter Köln mengecam gelandangnya Birger Verstraete karena mengritik kebijakan klub yang tetap menggelar latihan meski tiga pemainnya positif virus corona, dan pelatih Augsburg Heiko Herrlich pergi untuk membeli pasta gigi.

Tidak ketinggalan, CEO Bayern München Karl-Heinz Rummenigge membual bahwa liga bisa memiliki "miliaran penonton",  di mana akun media sosial berbahasa Inggris klub Bundesliga tanpa malu-malu mulai bersaing untuk mendapatkan perhatian dari penggemar sepak bola yang ‘kelaparan’ di luar negeri.

"Kemunafikan membuat kami jijik," tulis dua kelompok ultras Freiburg dalam sebuah pernyataan. "Anda menyebut itu kerendahan hati?"

Pernyataan tersebut dinilai sangat tepat. Lawan mereka pada hari Sabtu (16/05) kemarin adalah RB Leipzig, pertandingan yang secara sempurna melambangkan persimpangan yang dihadapi Bundesliga. Di satu sisi: Freiburg, klub dengan segudang kesuksesan dan mempunyai manajemen keuangan yang solid. Di sisi lain: tim yang mewujudkan komersialisasi permainan.

Pertandingan Bundesliga RB Leipzig melawan Freiburg

Pertandingan RB Leipzig melawan Freiburg setelah Bundesliga hiatus dua bulan lamanya

"Tanpa komersialisasi terus-menerus, kita tidak akan berada dalam situasi bahaya ini," lanjut pernyataan ultras Freiburg. "Anda tidak akan bergantung pada uang TV untuk membayar gaji tujuh digit dan hutang, dan kita tidak akan harus menonton pertandingan melawan tim yang tidak berjiwa yang hanya ada karena perkembangan ini. Sepak bola harus berubah secara radikal."

Kembalinya Bundesliga adalah kesempatan bagi liga untuk menjadi pusat perhatian dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya, tetapi citra apa yang ingin diproyeksikan? Saat naik ke puncak podium, meskipun sementara, ia juga berusaha menjaga kakinya di darat dan terhubung dengan budaya sepak bola yang membuatnya unik. (rap/vlz)

Laporan Pilihan