Taniwal, Tokoh Sejati Demokratisasi Afghanistan | dunia | DW | 12.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Taniwal, Tokoh Sejati Demokratisasi Afghanistan

Hari Minggu (10/09) lalu, Gubernur Provinsi Gardiz, Afghanistan Selatan tewas dalam serangan bunuh diri. Moham Hakim Taniwal dibunuh di ibukota Paktia ketika berada dalam iring-iringan mobil bersama seorang pengawalnya.

Perjuangan Taniwal berakhir di tangan pelaku serangan bunuh diri

Perjuangan Taniwal berakhir di tangan pelaku serangan bunuh diri

Pada pemakamannya Senin (11/09) kemarin, tujuh orang tewas juga dalam serangan bunuh diri dan sepuluh lainnya luka-luka. Taniwal adalah salah seorang tokoh terpenting korban pejuang Taliban yang kembali menguat.

Taniwal termasuk dalam kelompok kecil kaum intelektual Afghanistan yang secara konsekuen memperjuangkan kehidupan demokrasi di negara pegunungan Hindukush itu. Dia adalah seorang demokrat sejati yang selama 30 tahun terakhir dengan sekuat tenaga dan dalam kondisi yang sangat sulit dan berbahaya menentang berbagai ragam kelaliman, meskipun risiko yang dipertaruhkan sangat tinggi.

Dilahirkan di provinsi Paktia, Taniwal menyelesaikan pendidikan sekolahnya di Kabul. Akhir tahun 60-an dia pergi ke Jerman dan kuliah di Universitas Münster, jurusan Sosiologi. Selama kuliah dia giat sebagai anggota perhimpunan mahasiswa Afghanistan. Perkumpulan ini aktif dalam masalah struktur yang terkebelakang dan otoriter Afghanistan. 1975 Taniwal kembali ke Afghanistan dan menjadi guru besar di Universitas Kabul.

Setelah invasi pasukan Sovyet, Desember 1979, Taniwal meninggalkan Afghanistan dan menetap di Peshawar, Pakistan. Tidak lama kemudian dia merasa berhadapan dengan keadaan politik islam yang represif dan semakin radikal. Kecewa dengan perkembangan politik di Afghanistan, dia berangkat menuju Australia pada tahun 90-an dan mendapatkan suaka di negara itu.

Pada tahun 2002 dia kembali ke Afghanistan untuk ikut membangun kembali tanah airnya. Dia ditunjuk sebagai menteri di kabinet Karsai dan kemudian gubernur di Paktia.

Tidak lama sebelum pembunuhannya, Taniwal mengeluh tentang situasi keamanan di Afghanistan. Dalam wawancara terakhirnya dengan Deutsche Welle, dia mengatakan:

"Pihak oposisi bersatu dan menjadi lebih kuat. Oleh karena itu kerusuhan di Provinsi Paktia meningkat. Sedangkan polisi untuk melindungi rakyat hanya sedikit. Selain itu pasukan kurang perlengkapan. Saya harap kami dapat mencegah serangan dengan dana yang kami miliki.“

Sebagai intelektual yang mengenyam pendidikan Barat, Taniwal berusaha keras mengupayakan demokrasi, penegakan negara hukum dan keadilan. Dia berjuang melawan kelaliman "Warlords“. Kesediaannya untuk berdialog dan kemampuannya berkompromi membuatnya menjadi politisi populer. Namun, di wilayah yang sangat konservatif, dia adalah target dari milisi Taliban karena pandangannya yang sekular.

Christian Sigrist, mantan guru besar di Universitas Münster sangat menghargai Taniwal, mantan mahasiswanya.

"Dia menilai situasi secara optimis. Lain dari saya, dia beranggapan bahwa keamananan membaik dan pemerintahan Karsai stabil. Sejauh pengetahuan saya, penolakannya terhadap Islam radikal sangat jelas. Dan dia mendukung politik perdamaian. Dia adalah seorang yang sangat baik dan ramah. Mungkin dia kurang merasa curiga.“

Iklan