Tanggapan Penduduk Israel Tentang UNIFIL | Fokus | DW | 31.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Tanggapan Penduduk Israel Tentang UNIFIL

Kebanyakan penduduk Israel, terutama di utara, berharap situasi keamanan membaik. Tetapi mereka skeptis tentang kemampuan UNIFIL.

UNIFIL diragukan kemampuannya untuk mengamankan situasi di Libanon

UNIFIL diragukan kemampuannya untuk mengamankan situasi di Libanon

Itzik Ohana senang, perang sudah berhenti. Walaupun begitu, pemilik restoran berusia 34 tahun ini tidak terlalu percaya pada kemampuan pasukan internasional UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon), yang sekarang akan ditugaskan mengamankan gencatan senjata. Itzik menilai, pasukan UNIFIL pada awalnya mungkin bisa memperbaiki situasi keamanan. Mungkin saja situasi in bisa bertahan beberapa tahun. Tapi mungkin juga, tugas ini terlalu berat bagi pasukan internasional.

Konflik Timur Tengah jauh lebih rumit dari yang dibayangkan para politisi di luar negeri, kata Itzik Ohana. Ia juga yakin, kelompok Hisbullah akan terus berusaha memperkuat persenjataannya dan tetap mempertahankan tujuan utamanya yaitu menghancurkan Israel. Itzik Ohana menegaskan, enam tahun lalu, Israel sudah menarik diri dari Libanon. Sekarang, ternyata Hisbullah tetap aktif.

Itzik Ohana: "Kami sudah pernah menarik pasukan kami. Seharusnya dengan itu konflik bisa berakhir. Tapi mereka lalu mulai lagi. Mereka menculik serdadu kami, mereka membom panser kami. Itulah yang menyebabkan situasinya jadi seperti sekarang.“

Banyak penduduk Israel di kawasan utara yang berpikir seperti Itzik Ohana. Mereka berharap situasi keamanan semakin baik, tapi mereka meragukan kemampuan UNIFIL mencegah penyelundupan senjata, apalagi melucuti senjata kelompok Hisbullah. Banyak penduduk Israel jua yang yakin, baik Suriah maupun Iran yang mendukung Hisbullah punya agenda menyerang Israel. Iran bahkan mungkin ingin menyerang Israel dengan senjata nuklir. Banyak juga orang yang mulai memandang kritis operasi militer yang dilakukan Israel. Seorang penduduk kota pantai Nahariya mengatakan:

"Dalam perang seperti ini, tidak ada pemenang dan tidak ada yang kalah. Semua pihak punya tujuan tertentu. Dan kami belum berhasil mencapai tujuannya, yaitu melucuti senjata Hisbullah. Tentara kita yang disandera juga tidak berhasil dibebaskan. Jadi apa yang sebenarnya dicapai? Hanya korban tewas di kedua pihak.“

Selama perang, di Israel Utara terjadi setiap hari sekitar 150 serangan roket. 43 penduduk sipil tewas, ratusan ribu orang mengungsi ke Israel Selatan. Yang tidak mengungsi harus berlindung setiap hari di ruang bawah tanah. Salah satu kota yang paling sering jadi sasaran adalah kota Kiriyat Schmona, yang terletak hanya beberapa kilometer dari perbatasan ke Libanon.

Jurubicara pemerintahan kota Kiriyat Schmona, Doron Schnapper menerangkan, ia tidak yakin pasukan internasional di Libanon UNIFIL mampu mencegah serangan dari Libanon ke kotanya. Sejak tahun 1968, Kiriyat Schmona selalu jadi sasaran serangan roket.