Tanggapan KPAI Terkait #bubarkanKPAI di Twitter | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 09.09.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kontroversi KPAI-Djarum

Tanggapan KPAI Terkait #bubarkanKPAI di Twitter

Tagar 'bubarkanKPAI' marak di Twitter di tengah isu dihentikannya audisi bulutangkis PB Djarum. Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menjelaskan dampak tingkat keterpaparan rokok pada anak dan hasil survei terkait Djarum.

Netizen menggaungkan #bubarkanKPAI di Twitter terkait dihentikannya audisi bulutangkis PB Djarum. Apa tanggapan KPAI?

"Saya tidak mengerti logikanya ke mana? Mereka bisa jadi tidak mendapatkan pengetahuan yang sama dengan kita, atau informasi yang ditangkapnya itu terpotong-potong," kata Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menanggapi trending #bubarkanKPAI di Purwokerto, Senin (09/09).

Dia juga meminta agar masyarakat dapat mendudukkan permasalahan tersebut sesuai dengan aturan.

"Logikanya sangat sederhana. Yang kita minta hanya turunkan brand image, brand color, logo-logo seperti itu. Ketika itu diturunkan, berarti dia mematuhi kepada peraturan yang ada. Kalau peraturannya dipatuhi, sebenarnya KPAI tidak salah," ucapnya.

Sitti menjelaskan, dengan menurunkan brand dan logo-logo itu dampaknya pada denormalisasi produk. Seolah produk rokok bukan merupakan barang berbahaya, karena dampaknya tidak akan terasa pada saat ini.

"Memang tidak akan berdampak hari ini dan bukan terjadi pada atlet, kalau pada atlet diharapkan tidak merokok dengan sangat ketat. Tetapi pada mereka yang mengidolakan atlet dan melihat ini bersahabat dengan produk rokok," ujarnya.

Dari hasil penelitian kesehatan dasar, lanjut dia, tingkat keterpaparan rokok pada anak pemula untuk merokok tahun 2013 sebesar 7,2 persen. Salah satunya karena promosi produk rokok.

"Pada 2018 tingkat keterpaparan menjadi 9,1 persen. Salah satunya karena promosi ini. Kenapa baru sekarang? Karena kami menunggu hasil riset kesehatan. Setiap promosi yang melibatkan anak akan berdampak," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga telah melakukan survei kepada anak-anak yang dilakukan di 28 provinsi dengan pertanyaan apa yang ada di benak anak-anak terkait Djarum.

"Kita juga menanyakan kepada anak-anak untuk meyakinkan survei yang dilakukan di 28 provinsi, dengan pertanyaan kalau ada statement Djarum apa yang ada dalam benak kalian? Satu persen anak mengatakan jika Djarum itu jarum jahit, 31 persen mengatakan bahwa Djarum dalam konteks itu adalah audisi beasiswa bulutangkis dan 68 persen ini mengatakan rokok. Kami juga kemarin mengatakan kepada anak-anak tersebut dalam pikiran dan hanya terbatas di tiga itu secara random," ungkapnya.

(Ed:vv/na)

Baca selengkapnya artikel dari (detikNews):

#bubarkanKPAI Trending di Twitter, KPAI Angkat Bicara