Tanggapan Jerman Tentang Karikatur Nabi | Fokus | DW | 06.02.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Tanggapan Jerman Tentang Karikatur Nabi

Jerman tolak kekerasan sekaligus mengingatkan, kebebasan berpendapat harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Protes karikatur Nabi di Jakarta

Protes karikatur Nabi di Jakarta

Kegusaran dan gelombang protes masih marak di beberapa tempat disertai aksi kekerasan. Aksi pembakaran terjadi di kedutaan besar Denmark dan Norwegia di Damaskus, Suriah, dan kedutaan besar Denmark di Beirut, Lebanon. Sehubungan dengan reaksi keras ini, politisi penting Jerman menegaskan kebebasan pers dan menolak gelombang kekerasan. Namun, mereka juga memperingatkan agar menghormati perasaan religius pemeluk agama lain.

Eskalasi kekerasan tidak diduga sebelumnya. Kemarahan atas penerbitan karikatur Nabi Muhammad memicu kegusaran meluap terhadap dunia barat dan berujung dengan aksi-aksi kekerasan. Pemerintah Jerman melihat perkembangan ini dengan kekhawatiran besar, kata Menteri Luar Negeri Frank-Walter Steinmeier. Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan, ia dapat mengerti bahwa perasaan religius umat Islam telah dilukai, tetapi dia juga secara tegas menolak aksi kekerasan.

Angela Merkel: “Saya ingin menegaskan bahwa dalam hal ini, saya tidak dapat menerima pembenaran penggunaan kekerasan. Kebebasan pers di sini mutlak dan reaksi kekerasan yang ditimbulkan oleh publikasi karikatur itu tidak dapat dibenarkan.”

Presiden Jerman Horst Köhler juga menyatakan hal serupa. Dia menyerukan agar dalam situasi panas ini, dialog antara Eropa dan negara-negara Islam ditingkatkan.

Horst Köhler: “Kebebasan berpendapat adalah bagian mutlak dari demokrasi Eropa, namun, kebebasan ini harus dilaksanakan dengan tanggung jawab dan rasa hormat terhadap orang lain, juga rasa hormat terhadap perasaan umat yang beragama lain. Akan tetapi, kekerasan dan ancaman sama sekali tidak dapat diterima. Karena itu kami mencela keras kerusuhan dan serangan ekstremis yang kami amati dua hari belakangan ini.”

Menteri Luar Negeri Frank-Walter Steinmeier menekankan bahwa karikatur dan satire harus diizinkan sepenuhnya. Saat ini, yang lebih berguna dan penting adalah upaya untuk meningkatkan pengertian di negara-negara Islam bahwa penerbitan karikatur adalah bagian dari demokrasi.

Frank-Walter Steinmeier: “Yang berlaku bagi kami adalah kebebasan berpendapat, kebebasan pers. Ini adalah bagian mendasar dari tatanan masyarakat demokrasi, tercantum dalam konstitusi kami dan tidak dapat dihilangkan.”

Tetapi Menlu Frank-Walter Steinmeier juga mengetengahkan bahwa dialog jelas tidak akan berhasil jika kebudayaan dan agama lain dijadikan bahan tertawaan. Ia mengkhawatirkan, karikatur semacam itu dapat diperalat untuk memicu kemarahan terhadap dunia barat.

Frank-Walter Steinmeier: “Menurut pendapat saya, masih belum ada perang cultural. Tetapi kita masih jauh dari titik dialog yang diinginkan dan terutama yang sangat diperlukan.”

Menteri Luar Negeri Jerman mengutarakan rasa terima kasihnya atas sikap berbagai tokoh Islam yang bertanggung jawab dan penting yang dalam situasi semacam ini menyatakan menentang peningkatan kekerasan, perusakan gedung milik negara Eropa dan serangan terhadap warganya.