1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sekolah di Bengkulu Gunakan Listrik Bersih Energi Surya

Betty Herlina (Bengkulu)
20 Juli 2021

SMA Muhammadiyah 4 di Bengkulu memasang panel surya sejak Oktober 2020. Selain itu, sekolah ini kurangi pemakaian kertas dan mendaur ulang air sisa berwudu agar siswanya sadar lingkungan.

https://p.dw.com/p/3wiEN
Jajaran panel surya di SMA Muhammadiyah 4 Bengkulu
Jajaran panel surya di SMA Muhammadiyah 4 BengkuluFoto: B. Herlina/DW

Waktu menunjukkan pukul 09.11 WIB. Hari masih pagi dan sekolah tampak sepi saat DW Indonesia menyambangi SMA Muhammadiyah 4 Kota Bengkulu. Liburan tahun ajaran baru 2021/2022, baru saja dimulai. Pepohonan menghijau di kiri kanan sekolah. Di bagian depan sekolah tumbuh pohon beringin yang rimbun.

"Kita memang lakukan penghijauan, kita tanam banyak pohon untuk di sekolah supaya udara sejuk, anak-anak tidak kekurangan oksigen dan nyaman," kata Kepala SMA Muhammadiyah 4 Kota Bengkulu, Sutanpri, kepada DW Indonesia.

Namun bukan hanya itu yang istimewa di sekolah seluas 1,6 hektare ini. Di salah satu dari 5 gedung utama, persisnya laboratorium komputer, sudah ada tujuh panel surya terpasang untuk menyuplai energi di sekolah ini.

Antisipasi tidak stabilnya suplai listrik

Panel surya berbahan silikon berwarna hitam dengan bahan semi konduktor ini dipasang sejak Oktober 2020. Panel-panel dengan daya 2,1 KWp dan baterai 4,8 KWh tersebut menangkap sinar matahari, lalu mengubahnya jadi energi listrik yang kemudian disimpan dalam 4 unit baterai.

Panel ini aktif selama 24 jam, dengan penyerapan sempurna biasanya mulai pukul 10.00 pagi hingga 14.00 siang. Listrik yang dihasilkan jadi energi utama untuk menghidupkan puluhan unit komputer di laboratorium, jaringan internet sekolah, serta peralatan elektronik lainnya.

Sutanpri, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 4, Bengkulu
Sutanpri, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 4, Bengkulu.Foto: B. Herlina/DW

Jika tidak terpakai di siang hari, listrik yang disimpan dalam baterai digunakan untuk menerangi sekolah pada malam hari. Sistem hibrida dengan menggunakan baterai ini diakui sangat berguna untuk mengantisipasi kondisi listrik di Bengkulu yang tidak selalu stabil.

"Saat pasokan listrik dari PLN terhenti, aktivitas di sekolah tidak terganggu, tetap terlaksana berkat panel surya ini," kata Sutanpri. 

Panel surya berbentuk lempengan tersebut dipasang persis menghadap ke timur, arah matahari ketika terbit. Posisi kemiringan panel surya mengikuti kemiringan atap sekolah, sehingga tidak memerlukan pembersihan rutin.

Kinerjanya cukup dipantau menggunakan aplikasi yang sudah terinstal di komputer. Jika kondisi panel surya baik dan terawat usia pemakaiannya bisa mencapai 25 tahun. Sementara baterai bisa bertahan hingga tiga tahun.

Bangun kesadaran lingkungan sejak dini

Terpasangnya panel surya di SMA Muhammadiyah 4 Kota Bengkulu ini tidak lepas dari peran Yayasan Kanopi Hijau Indonesia yang mengampanyekan energi bersih guna menolak pembangunan pembangkit listrik tenaga fosil. Pembangunan pembangkit listrik tidak berkelanjutan ini memang masih terus terjadi, khususnya di Bengkulu.

"Bila kita dapat menujukkan ke publik bisa pakai energi bersih, kenapa harus pakai energi kotor?" ujar Ali Akbar, Ketua Yayasan Kanopi Hijau Indonesia, kepada DW Indonesia. 

SMA Muhammadiyah 4 Kota Bengkulu terpilih untuk dipasangi panel surya karena dianggap telah memulai gerakan cinta lingkungan sejak tiga tahun belakangan. Aksinya mulai dari mempromosikan pentingnya keselamatan lingkungan dan menghijaukan lingkungan sekolah serta mengurangi penggunaan kertas dalam kegiatan belajar mengajar. Saat ini sekolah juga tengah mempersiapkan teknologi pengolahan air hujan dan air sisa berwudu agar dapat digunakan kembali.

"… karena membangun kesadaran linkungan penting (dilakukan) ketika anak-anak masih ada di institusi pendidikan," ujar Sutanpri saat ditanya alasan di balik kegiatan di sekolah yang ia pimpin.

Untuk membeli 7 panel surya, SMA Muhammadiyah 4 membutuhkan dana Rp 100 juta yang diperoleh lewat penggalangan donasi publik. Nilai donasi per orang bervariasi, namun tidak boleh lebih dari Rp 1 juta. "Agar semua masyarakat merasakan kesempatan berdonasi," ungkap Sutanpri.

"Ini menjadi pengalaman baru untuk rekan-rekan di sini bagaimana mewujudkan sekolah energi bersih. Donasi wali murid, sekolah dan dukungan publik, semua terlibat," kata Ali Akbar.

Hemat anggaran listrik

Banyak manfaat yang dirasakan SMA Muhammadiyah 4, sejak 8 bulan menggunakan panel surya, ujar Supari sambil mengatakan bahwa sekolah dapat menghemat pembayaran biaya listrik.

Sebelum ada panel surya, setiap bulannya sekolah ini mengeluarkan biaya Rp 3 juta rupian untuk membayar kebutuhan pasokan listrik 24.000 watt. Namun menggunakan panel surya sekolah mendapatkan sumber pasokan lain sebanyak 2.100 watt.

"Sekarang bisa lebih hemat hingga Rp 500 ribu per bulan dengan adanya panel surya," katanya.

Selain itu, operasional sekolah juga lancar tidak terganggu dengan pemadaman listrik yang dapat berlangsung berjam-jam. 

Sutanpri berharap pemerintah dapat mendorong sekolah lain untuk melakukan hal yang sama seperti sekolahnya. "Ini energi terbarukan, jumlahnya melimpah, panasnya luar biasa. Jika diizinkan, kami inginnya 50-60% pasokan listrik sekolah menggunakan panel surya," kata Sutanpri.

Potensi sumber energi bersih di Bengkulu

Kepala Bidang Energi dan Kelistrikan, Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu, Ferry Erwansyah, mengatakan energi listrik yang dihasilkan di Bengkulu saat ini mencapai 260 MW, dengan beban puncak untuk pemakaian rumah tangga maupun industri belum mencapai 200 MW.

Artinya masih ada surplus energi mencapai 60 MW lebih, ujar Ferry kepada DW Indonesia. Dengan surplus tersebut, Bengkulu bisa memasok listrik ke empat provinsi lain yakni Sumatera Selatan, Lampung, Jambi dan Kepulauan Bangka Belitung.

Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Bengkulu, jumlah potensi energi bersih di Bengkulu cukup tinggi. Ada 7.297 MW potensi energi terbarukan, dengan kapasitas terpasang baru 259 MW. Potensi energi terbarukan ini bersumber dari potensi pembangkit listrik tenaga angin di wilayah pesisir pantai, tenaga geothermal, tenaga air, serta tenaga biomassa dan sampah. (ae)