Tamasya dengan Motor | Sosial | DW | 18.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Tamasya dengan Motor

Saat ini sepeda motor tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi. Di negara-negara Eropa Barat, musim panas dan musim gugur adalah masa yang tepat bagi penggemar motor besar untuk bepergian secara berkelompok.

default

Para pengendara motor besar memiliki penampilan khas: jaket dan celana kulit, sepatu boot kulit, helm dan sarung tangan.Tak jarang mereka mengendarai motor besarnya untuk pergi ke tempat kerja.

Namun kadang keadaan cuaca tak memungkinkan untuk mengendarai motor setiap hari. Sebagian orang memacu sepeda motor besarnya hanya beberapa kali saja dalam setahun, sekedar untuk hobby.

Saat cuaca baik dimana matahari bersinar seperti pada musim panas, banyak ditemui kelompok-kelompok bermotor yang sedang menuju kota-kota kecil. Kelompok-kelompok itu biasanya adalah komunitas hobi dan memiliki ketertarikan yang sama. Seperti yang diungkapkan Tobias Grote-Beverborg, pemilik sepeda motor BMW 1100cc.

Kami punya grup yang terdiri dari teman teman yang juga menggemari perjalanan bermotor. Dalam setahun kami mengadakan 4 perjalanan pendek, yang hanya butuh sehari perjalanan yang rutenya berliku dan berbukit bukit. Sekali setahun, kami mengadakan perjalanan akhir pekan untuk beberapa hari.”

Dalam perjalanan, mereka berkendara 4 hingga 6 jam sehari. Kadang mereka beristirahat di restoran atau kafe yang diperuntukkan khusus bagi pengendara motor besar. Di sana mereka bertemu dengan penggemar motor lain, saling memamerkan motor mereka dan bertukar informasi.

Untuk mencapai tempat tertentu, anggota kelompok semacam itu disarankan untuk mengendarai jenis motor yang tenaga dan kemampuan pacunyanya sepadan. Bila tidak, resikonya tentu akan jauh tertinggal dibelakang. Demikian dikatakan Thomas Wessler, penggemar motor besar.

"Dalam perjalanan grup dengan 4-5 orang yang sering saya lakukan, akan lebih menguntungkan bila semua pesertanya punya motor yang berkekuatan sama, 75-100 daya kuda atau lebih dari 1000 cc. Dengan begitu kita bisa berkendara dengan kenyamanan dan kecepatan yang sepadan. Apalagi bila harus mendaki, kita tak usah menunggu mereka yang bermotor dengan tenaga kecil. Tapi ini bukan keharusan.”

Jalan-jalan bebas hambatan di Jerman boleh dilewati oleh motor-motor yang bertenaga besar. Jalan bebas hambatan atau autobahn yang mulus seperti di Jerman, tentu merupakan fasilitas impian bagi mereka yang senang ngebut dengan motor. Namun tak semua pengendara motor senang melewatinya. Seperti diungkapakan Thomas Wessler:

Saya tak suka mengambil jalur jalan bebas hambatan, karena jalannya lurus dan harus berkendara dengan kecepatan tinggi, antara 160 hingga 180 km/jam dan saya tidak menikmati apa-apa, apalagi santai. Saya harus sering sering melihat kaca spion, dan menghitung kecepatan dengan benar saat menyalip. Saya harus konsentrasi 110%.”

Dalam sebuah perjalanan yang makan waktu seminggu, kelompok kelompok ini kadang merambah jalan-jalan dan pemandangan negara tetangga seperti Swedia, Norwegia, Swiss, Austria atau Italia. Namun sesungguhnya Jerman sendiri tak kalah menarik untuk dijajaki. Demikian pandangan Tobias Grote-Beverborg.

Bavaria dan pegunungan Alpen sangat populer di kalangan penggemar motor, karena mereka punya jalan yang baik dan pemandangannya sangat indah. Sebetulnya banyak tempat di Jerman memiliki daerah hijau yang berbukit-bukit.”

Tobias juga menuturkan hal-hal yang dinikmat oleh pengendara motor besar dalam perjalanan mereka:

"Gerakan motornya sendiri sangat menyenangkan. Bila saya mengendarainya, saya tak hanya duduk dalam kabin yang bertemperatur tetap seperti dalam mobil. Saya menikmati gerakan saat melewati jalan yang berliku. Ini membutuhkan keterampilan dalam mengatur keseimbangan tubuh. Dan yang pasti saya merasa amat dekat dengan alam.”

Motor besar selalu dikaitkan dengan gaya hidup kaum lelaki. Pendapat ini ditepis oleh Tobias.

"Di dalam kelompok kami juga ada 2 perempuan. Di Jerman, makin banyak perempuan menggemari motor. Tapi dasarnya ini merupakan olahraga lelaki. Apalagi, pengendara motor kadang harus membetulkan motornya sendiri, dan biasanya perempuan tidak begitu menyukai hal itu, karena mereka tak suka pakaiannya kotor dan tangannya lengket kena oli.”

  • Tanggal 18.09.2006
  • Penulis Miranti Hirschman
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPWO
  • Tanggal 18.09.2006
  • Penulis Miranti Hirschman
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPWO