Taliban Hanya Menggertak? | Fokus | DW | 06.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Taliban Hanya Menggertak?

Taliban menyatakan akan lancarkan serangan besar-besaran pada musim semi ini.

Milisi Taliban di Afghanistan

Milisi Taliban di Afghanistan

Pernyataan milisi Taliban mengenai serangan dengan dukungan sekitar 6.000 pejuang pada musim semi, harus disikapi dengan hati-hati. Karena jika diamati sejumlah pernyataan sebelumnya, hal itu dapat diartikan sebagai bagian dari perang psikologi. Tengoklah ancaman-ancaman kosong pelancaran aksi teror untuk mengganggu pemilihan presiden dan parlemen tahun 2004 dan 2005. Namun, walaupun demikian, ancaman Taliban itu juga tidak boleh diremehkan. Sebab Taliban semakin gencar mengirimkan pasukan bunuh dirinya yang terlatih, meskipun jumlahnya hanya beberapa ratus, tetapi cukup untuk membuat masyarakat resah.

Di sejumlah besar daerah selatan dan timur Afghanistan, milisi Taliban jelas kehilangan dukungan warga. Aksi teroris yang langsung mengenai warga sipil dan penghancuran infrastruktur yang mengakibatkan rusaknya sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit membuat upaya pembangunan kembali sia-sia. Oleh karena itu, simpati terhadap Taliban semakin berkurang. Tambahan, pembunuhan terarah terhadap ulama liberal yang dekat dengan pemerintah, menyebabkan milisi Taliban juga secara religius terisolasi dari masyarakat.

Tanpa dukungan warga, Taliban tidak bisa beroperasi, kata Brigadir Jenderal Jerman,Volker Barth yang ditugaskan di Afghanistan Utara: "Saya pikir, kekuatan seperti Taliban hanya dapat eksis jika warga sekelilingnya menginginkan itu.“

Meskipun demikian, milisi Taliban masih punya sumber perekrutan, misalnya dari yang dinamakan "Mujahidin Kelana“ yang hidup dari perang dan para pejihad. Selain itu, Taliban juga merekrut pejuang dari aliansinya dengan mafia opium. Di selatan, terutama di Provinsi Helmand, Taliban secara tradisional bekerja sama secara erat dengan bos opium.

Ancaman Taliban harus dilihat dalam konteks perkembangan wilayah keberadaannya. Pemerintah Pakistan sebelumnya melihat negaranya sebagai tempat melawan pengaruh Rusia, dan kini untuk melawan terorisme internasional. Militer Pakistan kemudian menggunakan masalah itu untuk memantapkan kekuasaan otoriternya. Untuk itu, dari masyarakat internasional mereka mendapatkan bantuan militer dan ekonomi dalam jumlah besar. Pakar Militer Afghanistan Asadullah Walwaji: "Pakistan memakai Taliban sebagai sarana tekanan untuk mendapatkan bantuan keuangan.”

Meski sangkalan pemerintahan di Islamabad, semakin jelas terlihat bahwa wilayah Pakistan tidak hanya merupakan tempat persembunyian Taliban, tetapi juga tempat merekrut pejuang Taliban dari berbagai madrasah di Pakistan. Dinas rahasia Pakistan ISI juga dituduh bertanggungjawab atas mobilisasi Taliban dan membantu logistiknya.

Pemerintah Afghanistan berharap, pasukan internasional ISAF dapat menghentikan serangan Taliban terhadap warganya. Presiden AS George W. Bush menjanjikan bantuan senilai 11, 8 milyar Dollar dan peningkatan pasukannya di negara itu. Inggris juga meningkatkan jumlah tentaranya dari 1.400 menjadi 7.700 personel. Namun kedua negara tersebut merasa tidak mendapat cukup dukungan dari Prancis dan Jerman. Pengiriman pesawat pengintai Jerman, Tornado, masih harus disahkan parlemen Jerman. Dan bagi AS dan Inggris bantuan ini juga tidak mencukupi.

Sementara itu hari Selasa (06/03) ini, pasukan NATO, ISAF mulai melancarkan serangan musim seminya terhadap Taliban dengan mengerahkan sekitar 4. 500 tentaranya dan 1.000 tentara Afghanistan. Menurut NATO, operasi yang dinamakan “Achilles” itu terutama dilancarkan untuk memperbaiki kondisi keamanan Afghanistan dan dipusatkan di Provinsi Helmand Utara.