Tajuk: Upaya Regional untuk Stabilisasi Irak | dunia | DW | 06.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tajuk: Upaya Regional untuk Stabilisasi Irak

Komisi para pakar di bawah mantan Menlu AS James Baker mengeluarkan laporan politik AS di Irak, Rabu (6/12). Dalam laporan itu Komisi Baker antara lain mengusulkan upaya regional untuk menyelesaikan konflik Irak.

default

Politisi Syiah yang memiliki pengaruh besar, Abdul Aziz el Hakim, pernah menegaskan dalam sebuah pertemuan dengan Presiden AS George W Bush, bahwa ia menolak solusi masalah Irak dari pihak luar, dan bahwa masalah itu harus diselesaikan oleh Irak sendiri.

Bersamaan dengan itu, PM Nuri Al Maliki, yang juga Syiah, justru membuka jalan bagi upaya perdamaian secara internasional untuk negaranya. Para utusan Maliki berdiskusi dengan negara-negara tetangganya tentang kemungkinan penyelenggaraan sebuah konferensi Irak internasional.

Konferensi ini sudah diselenggarakan dua tahun lalu di Sharm el Sheikh, Mesir, tetapi tersia-sia karena Washington saat itu masih yakin dapat menentukan dan mempengaruhi jalannya sebuah peristiwa.

Dua tahun kemudian situasinya berubah secara mendasar. Meruncingnya situasi keamanan di Irak, tapi juga pergeseran kekuasaan secara politik di dalam negeri AS, bahkan membuat gedung Putih sendiri berubah pikiran.

Belum tiba waktunya bagi AS untuk memenangkan konflik di Irak, seperti dikatakan secara blak-blakkan oleh calon Menteri Pertahanan Robert Gates. Atau seperti diungkap Komisi Baker, bahwa ada keharusan penarikan mundur Amerika dari Irak. Dan rekomendasi Komisi itu, untuk mengikutsertakan Suriah dan Iran dalam mencari solusi, sejauh ini sama sekali tidak dipedulikan Bush.

Padahal bagi semua pihak yang terlibat sudah jelas, bahwa penarikan mundur AS secara tidak terkontrol dan tergesa-gesa, bukan hanya akan memperbesar chaos di Irak, melainkan juga menimbulkan kesan bahwa AS meninggalkan Irak, seperti dulu Vietnam, sebagai pihak yang kalah.

Tetapi, penarikan mundur yang teratur, yang menghindari atau sedikitnya mengurangi bahaya ini, hanya bisa terjadi jika pemerintah Irak bisa mengendalikan sendiri situasi keamanan di negerinya.

Baru-baru ini PM Irak Maliki menerangkan, sampai Juni tahun depan barulah ia dapat melakukannya. Namun bagaimana ia akan merealisasikannya, tetap sebuah teka-teki.

Sebuah kemungkinan yang dapat dikatakan pasti adalah jika Bagdad menjalin perjanjian dengan semua negara tetangganya, dan bukan hanya Suriah serta Iran, kemudian menghasilkan sebuah kerjasama regional.

Baru-baru ini Menlu Suriah Walid al-Muallim mengawalinya dengan menghidupkan kembali hubungan dengan Irak dan menawarkan kepada Bagdad semua dukungan demi terwujudnya situasi stabil. Teheran mengikuti langkah ini. Pada kunjungan Presiden Irak Jalal Talabani, Iran pun menjanjikan bantuan.

Pembicaraan dengan AS pada dasarnya tidak akan ditolak di Damaskus dan Teheran. Tapi ada harga yang harus dibayar. Kedua negara itu mengharapkan penyelesaian global bagi hubungannya dengan AS, namun untuk itu George W Bush sampai sekarang belum bersedia.

Tetapi kedua negara itu juga berbagi kepentingan dengan negara-negara di sekeliling Irak, mengenai terwujudnya stabilisasi di negeri yang dilewati sungai Tigris dan Efrat itu. Dan karenanya, peluang bagi tercapainya solusi regional, sama sekali tidak buruk.

Dan lebih cepat itu hal itu mungkin dilakukan, lebih cepat pula Washington akan memberi kemungkinan penarikan mundur yang agak terhormat.

  • Tanggal 06.12.2006
  • Penulis Peter Philipp
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPAY
  • Tanggal 06.12.2006
  • Penulis Peter Philipp
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPAY
Iklan