Tajuk: "Transformasi Cina Hanya di Permukaan"
9 Juli 2008
Kegembiraan meluas di Beijing tujuh tahun lalu, pada 13 Juli 2001. Puluhan ribu orang memenuhi lapangan Tiannanmen untuk merayakan keputusan Beijing sebagai lokasi Olimpiade. Hari besar itu membawa janji dan harapan besar. Janji yang disampaikan Cina sebagai prasyarat menjadi tuan rumah perhelatan akbar ini. Janji yang kini diabaikan dengan alasan tak ada kaitan antara politik dengan olah raga.
Padahal dulu, wakil Ketua Komite Olimpiade Cina, Liu Jing Min menyatakan penyelenggaran Olimpiade di Beijing akan mendorong perbaikan hak azasi manusia di negara itu. Alasan itulah yang disepakati Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang mengakui adanya pelanggaran HAM diCina, namun meyakini pula bahwa dalam tujuh tahun akan terjadi banyak perubahan.
Dan memang setelah tujuh tahun banyak yang berubah. Produk sosial brutto Cina sudah dua kali lipat lebih besar ketimbang di tahun 2001. Dua tahun kemudian, Cina untuk pertama kalinya mengirimkan astronautnya ke luar angkasa. Pun negara itu sudah dipimpin sebuah generasi baru.
Di pihak lain, banyak yang tidak berubah. Hak manusia untuk bebas masih diabaikan. Meski tak seperti teror di masa kekuasaan Mao Tse Tung, orang-orang yang berpandangan beda masih terancam dijebloskan ke penjara. Pekerjaan para pengacara yang pro HAM dipersulit. Internet masih disensor. Banyaknya wartawan yang di penjara di Cina, tak ada bandingannya di seluruh dunia.
Mempersiapkan Olimpiade, Cina bisa menunjukkan seluruh kehebatannya. Kemampuan pemerintah untuk menggerakkan sumber daya, pelaksanaan kampanye pendidikan masyarakat secara besar-besaran, misalnya untuk mengantri dan tidak berebutan ketika masuk ke bis, untuk belajar bahasa Inggris, untuk meningkatkan keahlian dan untuk bisa menarik modal asing. Pembangunan infrastruktur pun berlangsung di mana-mana, jalur trem bawah tanah, lapangan udara yang dilengkapi teknologi tinggi.
Stadion Nasional yang baru kini sudah menjadi simbol megah arsitektur masakini. Namun kehebatan Cina tetap didampingi kelemahan dalam hal transparansi misalnya, atau penegakan hukum dan perbedaan pendapat. Reaksi terhadap protes di Tibet bulan Maret, bukanlah reaksi sebuah kekuasaan regional yang terbuka, modern dan percaya diri.
Pemerintah Cina bersedia mengeluarkan biaya pembangunan infrastrukktur Olimpiade yang mencapai ratusan milyar Euro. Juga siap menghentikan produksi pada sektor industri sekitar Beijing guna menjamin birunya langit yang tidak tercemar selama pertandingan.
Dan meskipun di provinsi tetangga air merupakan barang mewah, Beijing bakal mendapat pasokan air sebanyak yang dibutuhkan. Namun bukan hal-hal seperti ini yang menentukan, apakah Olimpiade akan menjadi pesta bagi anak muda dari seluruh dunia. Untuk itu, Beijing masih harus belajar lebih sabar dan tenang, layaknya negara yang memiliki budaya tinggi dan kemampuan hebat. Juga dalam menghadapi mereka yang berpandangan beda.(ek)