Tajuk: Teror Tanpa Rencana, Tujuan dan Arti | Fokus | DW | 19.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Tajuk: Teror Tanpa Rencana, Tujuan dan Arti

Pihak pendudukan dan Pemerintah Irak diharapkan melanjutkan dialog dengan negara tetangga.

Apa yang kini terjadi di Baghdad adalah benar-benar merupakan kegilaan. Orang yang tak berdosa setiap hari dibunuh. Dari hari ke hari jumlah korban semakin bertambah. Dan semuanya ini tanpa ada sedikit pun rencana, tujuan atau pun arti. Serangan terhadap tentara pendudukan Amerika Serikat yang sangat dibenci, sudah sejak lama merupakan pengecualian. Sedangkan serangan terhadap warga sipil sudah menjadi rutin, warga sipil yang sedang berbelanja, yang mencari lowongan kerja dan yang hendak hidup tenang dengan keluarganya. Serangan-serangan itu bukan merupakan aksi perlawanan terhadap pendudukan dan juga bukan pemberontakan melawan pemerintahan yang tidak disukai. Ini adalah teror murni yang tidak menginginkan keadaan tenang di Irak.

Tetapi, mengapa begitu? Pertanyaan ini bahkan mungkin juga tidak terjawabkan oleh orang yang berdiri di belakang serangan itu. Kaum Syiah dan Suni saling melancarkan serangan, silih berganti, dengan rasa dendam yang sudah lama terpendam. Serangan balas dendam dijawab dengan serangan pembalasan yang sekaligus menjadi pemicu untuk melakukan aksi pembalasan berikutnya. Keadaan itu diperburuk melalui kedatangan teroris asing, „relawan luar negeri“ yang merasa menemukan lokasi pengganti untuk Afghanistan. Aksi kekerasan di Baghdad tidak bertujuan menjatuhkan pemerintah di Baghdad dan juga tidak untuk mengambilalih kekuasaan.

Sebagian dari pelaku serangan bom atau dalangnya menduduki posisi penting dan bagian lainnya sama sekali tidak berniat memikul suatu tanggung jawab apa pun. Misalnya yang terlihat pada pemimpin Syiah Moktada al-Sadr yang menarik menterinya dari pemerintahan Irak. Moktada al- Sadr dan pengikutnya kelihatannya hanya ingin tampil sebagai pahlawan dalam sebuah permainan yang tidak menghasilkan pahlawan, melainkan hanya korban. Mereka tidak berminat untuk ikut ambil bagian dan memikul tanggung jawab dalam pemerintahan.

Selain pihak itu, dalam permainan ini masih terdapat pemain-pemain utama, yaitu Amerika Serikat dan pemerintah Nouri al-Maliki yang hingga kini bisa dikatakan gagal. Kita tidak perlu memeras otak untuk mengetahui bahwa sebenarnya, Washington ingin mengakhri petualangannya di Irak hari ini ketimbang hari esok. Namun, tentara pendudukan tidak akan pergi bila ditekan oleh teroris. Amerika tidak ingin menjadikan Baghdad sebagai Saigon jilid dua. Hal ini bahkan diakui oleh pihak oposisi pemerintahan George W. Bush. Mengingat situasi gawat ini, lahirlah rencana untuk pertama-tama mengamankan Baghdad melalui peningkatan pasukan dan operasi keamanan besar-besaran. Kemudian baru diikuti dengan penyerahan tanggung jawab kepada pemerintah Irak. Di atas kertas, pemerintah telah berhasil mengambilalih tanggung jawab keamanan empat dari 18 provinsi yang ada. Tetapi situasi di Baghdad semakin rawan dan tak seorang pun secara serius percaya kepada Maliki yang menyebutkan bahwa Irak akan dikuasai sepenuhnya pada akhir tahun ini.

Kekuasaan pendudukan dan pemerintah Irak tidak akan menemukan jalan keluar dari permasalahan ini. Oleh karena itu amatlah penting bagi kedua pihak untuk melanjutkan dialog dengan negara tetangganya, dan seperti yang direncanakan, melangsungkan perundingan tahap kedua di Mesir. Penyelesaian mungkin hanya dapat ditemukan secara bersama dan dengan bantuan pihak yang tidak langsung terlibat.

Peter Philipp