Tajuk: Serangan Berdarah Israel Di Kana | Fokus | DW | 31.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Tajuk: Serangan Berdarah Israel Di Kana

Tidak ada pihak yang bisa memenangkan perang ini. Semakin cepat perang diakhiri, semakin baik.

Pasukan perdamaian asal Cina mengamati reruntuhan bangunan di Kana

Pasukan perdamaian asal Cina mengamati reruntuhan bangunan di Kana

Gambar yang ditayangkan selalu serupa: Sebuah keluarga Palestina yang tewas akibat ledakan granat di pantai Gaza; pengamat PBB tewas akibat hujan bom di markas mereka; kini perempuan dan anak-anak terkubur di bawah puing bangunan tempat mereka berlindung, yang hancur akibat serangan Israel. Dan tiap kali Israel langsung mengeluarkan pernyataan, menyesalkan jatuhnya korban yang tidak bersalah.

Kasus di Kana dikatakan akan diperiksa, seperti kasus-kasus sebelumnya. Dan hasilnya akan tetap tidak memuaskan. Karena sekarang pun sudah dikatakan bahwa Hisbullah lah yang memprovokasi kematian lebih dari 50 perempuan dan anak-anak itu, yakni dengan menembakkan roket ke Israel dari Kana.

Hisbullah dan kelompok militan lainnya memang tidak ragu-ragu bersembunyi di balik "perisai hidup". Tetapi apakah itu berarti Israel boleh mengabaikan kewajibannya untuk tidak melukai warga sipil di wilayah peperangan? Hukum bangsa-bangsa masih berlaku, dimana pihak-pihak yang berperang harus mementingkan keselamatan mereka yang tidak terlibat dan warga sipil yang tidak bersalah.

Kemudian, dengan serangan-serangannya Israel hendak memulihkan dan menjaga keamanan penduduknya sendiri. Tetapi apakah itu boleh dicapai dengan melakukan serangan membabi-buta terhadap warga sipil di pihak lawan?

Di Israel sendiri terdapat protes, bahwa yang dilihat hanyalah penderitaan sendiri, dan bukan yang diderita oleh orang lain. Dunia internasional menanggapi, bahwa sikap keras Israel sangat berlebihan, karena menghukum semua penduduk untuk tindakan yang dilakukan beberapa orang yang radikal.

Dengan sendirinya Israel berhak membela diri. Ini dipahami oleh dunia internasional, terutama di Jerman. Tetapi dengan tindakan kejam terhadap warga sipil dan penghancuran infrastruktur di Libanon dalam hari-hari belakangan ini, Israel telah mempersulit orang untuk dapat mengerti.

Dunia masih nampak tidak berdaya. Sejumlah negara telah mengungsikan warganya sendiri dan menyatakan kesediaan memberikan bantuan kemanusiaan. Tetapi pertumpahan darah itu tidak dihentikan. Kini disebut-sebut tentang pengiriman pasukan internasional.

Tuntutan gencatan senjata gagal akibat solidaritas AS dengan tujuan yang ingin dicapai Israel. Padahal seperti yang dapat ditilik dari sejarah, tujuan itu tidak dapat dicapai dengan menggunakan pesawat pembom dan panser. Dalam perang dengan Hisbullah, Israel telah merasakan dampak dari konflik yang tidak seimbang.

Israel tidak dapat dan tidak akan memenangkan perang ini. Tidak ada pihak yang dapat menang. Semua akan kalah, sekarang pun sebenarnya sudah kalah. Semakin cepat perang diselesaikan, akan semakin baik.

  • Tanggal 31.07.2006
  • Penulis Peter Philipp
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CJc9
  • Tanggal 31.07.2006
  • Penulis Peter Philipp
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CJc9