Tajuk: Resolusi DK PBB Terhadap Iran | Fokus | DW | 01.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Tajuk: Resolusi DK PBB Terhadap Iran

Washington optimis tekanan internasional terhadap Iran sekarang cukup kuat. Tapi resolusi Dewan Keamanan tidak menyebut sanksi konkrit.

Katar satu-satunya anggota DK PBB yang menolak resolusi terhadap Iran hari Senin (31/07)

Katar satu-satunya anggota DK PBB yang menolak resolusi terhadap Iran hari Senin (31/07)

Washington tampak puas. Akhirnya Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa mengeluarkan peringatan tegas dan tak akan salah dimengerti untuk Teheran. Jika sampai 31 Agustus Iran tidak menghentikan semua kegiatan pengayaan uranium, maka ia harus memperhitungkan kemungkinan dijatuhi sanksi. Ultimatum itu disetujui oleh hampir seluruh anggota DK, hanya Qatar yang tidak memberikan suara. Walau begitu, AS menyiratkan optimisme yang mungkin agak terlalu besar.

Resolusi tersebut berdasarkan pada pasal 41 alinea 7 Piagam PBB. Dan itu berarti, sanksi karena tidak mematuhi isi resolusi, BISA dijatuhkan, tapi tidak HARUS. Jadi, sanksi yang mungkin diljatuhkan itu bukan proses yang otomatis, melainkan tema yang harus dibahas kembali oleh DK. Dimana1 hal sudah ditetapkan, yaitu tindakan militer tidak akan diambil, melainkan hanya sanksi ekonomi dan politik.

Sejak bertahun-tahun, Washington melancarkan kampanye intensif untuk memaksa Teheran tunduk, kalau perlu dengan sanksi atau bahkan senjata. Apa yang diputuskan di New York, jauh dari itu. Kesepakatan para anggota dewan menunjukkan bahwa Iran semestinya tidak menguasai senjata atom. Tapi sejauh ini tidak ada bukti tentang ambisi Iran itu, yang ada sebaliknya, jaminan dari Teheran bahwa energi nuklir hanya digunakan untuk tujuan damai. Dan sejauh ini Iran bergerak dalam kerangka perjanjian non-proliferasi yang ikut ditandatanganinya.

Karena itu, kampanye negatif Amerika terhadap politik nuklir Teheran, sejak awal ditanggapi dengan skeptis dan penolakan, terutama di Rusia dan Cina, sementara Eropa pelan-pelan berpaling dari pendirian Washington. Kini, Moskow dan Beijing juga menyetujui resolusi tersebut.

Namun, dalam soal tindakan apa yang harus diambil jika Teheran tetap menolak, akan tetap ada perbedaan pendapat. Dan baik Rusia maupun Cina kelihatannya tidak siap dengan sanksi-sanksi yang digunakan Washington untuk mengancam. Keduanya, memiliki kepentingan ekonomi yang terlalu besar di Iran, lebih besar dari kesiapan mereka untuk membahayakannya secara sembrono lewat tindakan sanksi.

Sebuah pertimbangan yang belum berani diakui secara terbuka oleh orang-orang di beberapa kota besar di Eropa, termasuk Berlin. Jerman misalnya, adalah mitra dagang terpenting Iran di Eropa. Dan perekonomian Jerman juga tidak berminat sedikitpun membiarkan bisnisnya dengan Iran rusak akibat solidaritas terhadap Washington. Washington yang bisa bicara seenaknya karena tak punya bisnis di Iran. AS memboikot Iran sejak revolusi Islam berkobar di sana, tapi dengan iri mengamati negara-negara lain berbisnis dengan Iran dan menghasilkan banyak untung.

Jika pemerintah di Teheran tidak memperhatikan tuntutan DK, dan tanda-tanda pertama memang mengarah ke sana, maka sengketa diantara anggota DK akan tersulut kembali. Dan Washington mungkin harus mengkoreksi penilaian positifnya tentang resolusi PBB bagi Iran, yang disepakati Senin lalu.