Tajuk: Presiden Baru Perancis, Nicolas Sarkozy | Fokus | DW | 07.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Tajuk: Presiden Baru Perancis, Nicolas Sarkozy

Setelah kampanye pemilu yang menimbulkan polarisasi, politisi konservatif itu kemarin keluar sebagai pemenang pemilu.

default

Komentar Anke Hagedorn:

Nicolas Sarkozy berhasil. Kampanye pemilu antara kubu kiri lawan kubu kanan, antara pria lawan perempuan, rupanya kembali menimbulkan semangat warga Perancis untuk memberikan suaranya. Sekarang Perancis bergeser ke kanan. Mayoritas warganya memilih kandidat dengan kebijakan ekonomi yang liberal –walaupun dibarengi nuansa nasionalis–, memilih perampingan aparat pemerintah dan pembatasan ketat imigrasi.

Dengan slogan-slogannya Sarkozy berhasil merebut sebagian pemilih politisi ekstrem kanan, Jean-Marie Le Pen. Sarkozy berhasil mengangkat citra golongan kanan di Perancis, negeri yang punya tingkat pengangguran paling tinggi di negara-negara pengguna Euro, yang hutangnya sangat besar dan ekspornya tidak menggembirakan, sehingga mayoritasnya kurang mempercayai jalan keluar yang ditawarkan oleh kelompok kiri. Perdebatan di televisi antara "Ségo" dan "Sarko" – sebutan akrab bagi kedua tokoh itu di Perancis, telah menunjukkan dengan jelas. Di satu pihak duduk politisi profi yang dingin dan penuh perhitungan, pria dengan angka dan fakta. Sedangkan di lain pihak pendatang baru yang penuh dinamika dan emosi. Walaupun ia sudah pernah menjabat sebagai menteri, tetapi tidak mencerminkan bahwa ia punya jalan penyelesaian yang konkrit.

Lalu, dari sudut pandang Eropa terutama Jerman, apa yang dapat diharapkan dari Nicolas Sarkozy? Ia pasti juga tidak punya usul-usul konkrit bagi penyelesaian masalah-masalah politik Eropa. Dalam kampanye pemilu Sarkozy maupun Ségolène Royal tema Eropa sama-sama tidak memainkan peranan. Kalau pun ada lebih diutamakan bagaimana memperoleh bantuan UE bagi masalah-masalah Perancis dan bukan sebaliknya.

Sarkozy yang haus kekuasaan, tidak bisa berembuk dan hampir selalu memainkan kartu "nasional"-nya pastilah akan merupakan mitra diskusi yang sulit bagi Jerman. Selama kampanye, berulang kali ia mengeluarkan pernyataan yang tidak dapat diterima tentang Jerman. Misalnya terus menerus mencela Jerman sehubungan dengan kejahatan semasa PD II. Selain itu ditandaskannya, bahwa Perancis tidak perlu menerima tuduhan melakukan genosida dan Perancis juga bukanlah penggagas pembunuhan yang dilakukan negara terhadap bangsa Yahudi.

Nada yang memusuhi Jerman itu, ditambah lagi dengan suara patriotisme seperti saat berkampanye di Marseille, dimana Sarkozy mengatakan, bahwa 'tidak semua warga Perancis menjadi kollaborator. Ada pahlawan-pahlawan pembebasan Perancis, juga Resistance, yaitu kelompok gerakan perlawanan terhadap pendudukan Jerman dan Italia.' Dan untuk lebih menegaskan hal itu, Sarkozy memilih Plateu de Glières sebagai tempat kampanye terakhirnya. Yaitu daerah yang semasa PD II menjadi kubu terkuat perlawanan Perancis. Ia juga berjanji akan berziarah ke tempat itu tiap tahun, bila terpilih menjadi Presiden.

Ini merupakan perhatian ke masa lalu yang cukup mengherankan, mengingat Sarkozy mencanangkan akan membawa Perancis ke era yang baru. Kini tinggal diharapkan bahwa semua itu hanyalah slogan-slogan kampanye pemilu yang opportunis, dan bahwa bila presiden baru Perancis itu bulan Juni tahun depan harus memegang kepemimpinan Dewan Eropa, ia akan menyadari peranannya di Eropa. Dalam pidato pertamanya setelah terpilih, Sarkozy mengatakan ia sudah selamanya merasa sebagai warga Eropa. Kita tunggu buktinya.