Tajuk: Perundingan Atom Korea Utara Gagal | dunia | DW | 23.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tajuk: Perundingan Atom Korea Utara Gagal

Perundingan dimulai Senin 18 Desember lalu, tetapi sampai para utusan Korea Utara, Korea Selatan, Cina, Jepang, Rusia dan AS berpisah hari Jumat (22/12) kemarin, tidak ada hasil yang konkret.

Juru runding Korea Utara Kim Kye Gwan

Juru runding Korea Utara Kim Kye Gwan

Memang tidak ada harapan akan tercapai keberhasilan besar dalam perundingan ini. Di satu pihak duduk rejim Korea Utara yang merasa kuat setelah melakukan ujicoba atom tanggal 9 Oktober lalu, dan mempertaruhkan warganya sendiri sebagai sandera. Di lain pihak Cina, Rusia, Jepang dan Korea Selatan terutama lagi AS, yang nampaknya tidak punya gambaran bagaimana cara menangani ancaman nuklir dari Korea Utara.

Mengapa Kementerian Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap Korea Utara bulan September 2005, justru beberapa hari sebelum ditanda-tanganinya perjanjian yang ditonjolkan sebagai terobosan oleh Kementerian Luar Negeri AS? Sanksi atas tuduhan melakukan pencucian dan pemalsuan uang, membuat Korea Utara terpotong dari lalu lintas uang internasional dan mempergawat kondisi ekonominya yang memang sudah sangat buruk.

Bahwasanya mitra perundingan tidak dapat dijabat ramah dengan tangan yang satu, tetapi ditempeleng dengan tangan lainnya, kiranya juga harus berlaku bagi mitra yang sulit seperti Korea Utara. Oleh sebab itulah, sesudah terhenti lebih dari setahun, –pada saat mana Korea Utara menjadi sebuah negara atom–, diselenggarakan dua babak perundingan di Beijing. Pertama, perundingan enam negara mengenai program atom Korea Utara, dan kemudian Korea Utara berunding secara bilateral dengan AS mengenai sanksi yang diberlakukan.

Tetapi tidak ada pergerakan. Dengan demikian terdapat ancaman bahaya akan terjadinya perlombaan senjata atom di Asia. Di Jepang telah ada pemikiran untuk meningkatkan persenjataan. Semua ini bertolak belakang dengan kepentingan Cina, yang merasa terpojok dengan gagalnya perundingan di Beijing. Setidaknya setelah Korea Utara melakukan uji coba atom, AS dan Cina tampak saling mendekati. Cina mendukung sanksi PBB terhadap Korea Utara. AS dan Cina menyadari bahwa mereka saling membutuhkan demi menjaga stabilitas di Asia Timur.

Tetapi sekarang harus dilakukan lebih banyak lagi karena Korea Utara sudah memiliki bom, yang tentunya tidak akan dilepaskan begitu saja. Dengan bom atom di tangan, rejim Kim Jong Il akan dapat menjamin keamanan negaranya dengan biaya murah dan menuntut kompromi dari negara-negara tetangganya. Betapapun perlu disesalkan, tetapi Korea Utara menikmati keuntungan dari senjata nuklirnya.

Walaupun demikian harus diupayakan segalanya agar Pyongyang bersedia melepaskan bom nuklirnya. Sebab mengingat kas negaranya yang kosong, Pyongyang dapat saja mulai memperdagangkan bahan-bahan atom. Jadi Korea Utara harus mendapat imbalan tinggi untuk menghentikan instalasi atomnya. Membekukan teknologi atomnya akan sama dengan mengkatrol kembali produk nasional bruttonya di dunia. Ketakutan rejim Kim bahwa ekonominya akan ambruk, harus disingkirkan. Korea Utara harus mendapatkan jaminan keamanan.

Setidaknya di Beijing Christopher Hill sudah pernah menyodorkan jaminan keamanan. Ini sudah merupakan perubahan sikap, mengingat pada tahun 2002 Presiden Bush masih menyebut Korea Utara sebagai "poros kejahatan".

  • Tanggal 23.12.2006
  • Penulis Matthias von Hein
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPAD
  • Tanggal 23.12.2006
  • Penulis Matthias von Hein
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPAD
Iklan