Tajuk: Kursi PM Israel Goyah | Fokus | DW | 04.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Tajuk: Kursi PM Israel Goyah

Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert dinyatakan membuat kesalahan besar dalam perang Lebanon yang terakhir. Demikian menurut hasil laporan komisi penyelidikan internal. Kini Olmert berjuang untuk keluar dari kemelut dan tuntutan untuk meletakkan jabatannya.

Demonstrasi Menentang Ehud Olmert di Tel Aviv

Demonstrasi Menentang Ehud Olmert di Tel Aviv

Ehud Olmert diperkirakan tahu bahwa jabatannya sebagai perdana menteri Israel kini terancam. Karir politiknya berakhir melalui laporan penyelidikan internal mengenai perang Lebanon dari Komisi Winograd yang dibentuk atas perintahnya sendiri. Menteri Luar Negeri Tzipi Livni memang dapat dibenarkan ketika menyatakan, bila hasil penyelidikan resmi mengenai perdana menteri Israel begitu buruknya, maka dia harus meletakkan jabatan. Hasil laporan Komisi Winograd memuat keraguan besar terhadap kemampuan politik dan pribadi Perdana Menteri Ehud Olmert selama perang Lebanon berlangsung dan di saat terjadinya krisis di negara itu.

Olmert hingga sekarang masih juga belum menghilang dari dunia politik karena kurangnya keberanian penentangnya di dalam partainya sendiri, termasuk Tzipi Livni. Faktor inilah yang mungkin akan menyebabkan Olmert baru mundur dalam beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan lagi.

Sumpah setia yang dinyatakan fraksi Kadima terhadap perdana menterinya tidak punya banyak arti. Pernyataan itu lebih merupakan ujud ketakutan ketimbang kesetiaan. Takut akan pemilihan parlemen baru yang berujung dengan lenyapnya mandat atau khawatir kehilangan posisi di pemerintahan, karena Partai Kadima merosot popularitasnya sejak pembentukannya satu setengah tahun lalu.

Ehud Olmert kini menuai hasil dari garis politiknya yang untuk sementara dapat menyelamatkan jabatannya dalam saat-saat krisis. Dia lebih mengutamakan kesetiaan buta ketimbang kebebasan intelektual, loyalitas ketimbang kualitas dan manover daripada keyakinan politik.

Sebagai hadiah bagi kesetiaan anggota partainya, dia memberikan jabatan menteri pertahanan kepada Amir Perez, mantan pemimpin serikat buruh yang sama sekali belum punya pengalaman. Dan Olmert menunjuk seorang teman dekatnya sebagai menteri keuangan yang kini dituduh terlibat korupsi.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Tzipi Livni yang kreatif mendapat hambatan dalam melaksanakan tugasnya. Menyusul serangan Hizbollah pada 12 Juli tahun yang lalu, Ehud Olmert menunjukkan kelemahannya yang terbesar. Saat itu dia diharapakan untuk meminta saran militer dan membuat pertimbangan matang mengenai dampak serangan militer besar-besaran bagi warga Israel maupun negara tetangganya. Tetapi Olmert sebaliknya menyetujui satu-satunya rencana operasi yang diajukan oleh panglima angkatan bersenjata yang juga angkuh dan tidak mampu.

Meskipun setelah beberapa hari serangan bom di Lebanon menunjukkan bahwa Ehud Olmert tidak akan berhasil mencapai target muluknya, dia tetap tidak menyesuaikan tujuannya dengan realitas. Demikian dicantumkan dalam laporan komisi penyelidikan.

Mayoritas warga Israel gusar melihat kesalahan besar Olmert yang ditunjukkan dalam laporan itu. Namun mereka tidak punya pilihan lain dan demonstrasi besar pun tidak dapat menggusur perdana menterinya. Kecuali jika partainya menemukan penggantinya.

Clemens Verenkotte