Tajuk: Kekerasan Bukan Resep Perdamaian | dunia | DW | 04.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tajuk: Kekerasan Bukan Resep Perdamaian

Dimana kekerasan tidak membantu, gunakan lebih banyak kekerasan. Tampaknya inilah motto Israel, baik dalam perang dengan Libanon maupun menghadapi Palestina.

Perang hanya membawa kehancuran

Perang hanya membawa kehancuran

Akibat politik ini jelas: Infrastruktur di wilayah otonomi Palestina hancur. Rakyatnya terhempas dalam kemiskinan. Menunggu bantuan, tanpa secuilpun harapan perbaikan. Namun Palestina tidak bertekuk lutut. Dengan politik kekerasan, Israel sama sekali tidak memiliki kemungkinan memaksakan perdamaian.

Sekarang Lebanon, negara tetangga di utara Israel. Bertahun-tahun lamanya Lebanon bersusah payah mengatasi dampak perang saudara. Bahkan tahun lalu, dengan berani melepaskan diri dari Suriah. Lebanon dihujani bom yang melemparkan negara itu 20 tahun ke belakang. Begitu tepat, kata-kata panglima militer Israel ini. 20 tahun silam, tepatnya di masa pendudukan Israel di Lebanon, seribu tentara Israel tewas. Dipimpin panglima perang yang tak berperikemanusiaan, pemerintahan sipil yang berkuasa dengan tergesa menjerumuskan Israel ke dalam perang ganas, tanpa persiapan maupun perencanaan matang. Perang itu bukan hanya menghancurkan Lebanon. Melainkan juga menghancurkan masa depan hubungan Israel-Arab, menghancurkan kemungkinan perdamaian untuk sebuah negara Yahudi yang berada ditengah-tengah negara Arab.

Ehud Olmert tampil pragmatis dalam pemilu lalu, oleh dunia internasional ia dielukan sebagai pahlawan perdamaian dan Amir Peretz, tanpa malu masih mengaku sebagai pecinta perdamaian. Kedua politisi ini tidak hanya telah menghancurkan pembangunan kembali Lebanon dalam beberapa hari ini, melainkan memapas industri turisme Israel dan membebani rakyat di bagian utara Israel.

Sementara Israel kerap mengeluhkan, selama enam tahun kelompok Hisbullah mempersenjatai dirinya. Memang betul. Selama enam tahun, kelompok Hisbullah tak hentinya menimbuni senjata, membangun sistim terowongan di wilayah perbatasan dan mendidik gerilyawan yang bermotivasi tinggi. Semua ini pun diketahui dinas rahasia Israel.

Pun Israel memiliki waktu enam tahun persiapan untuk menghadapi kelompok Hisbullah, memperkuat perlindungan bagi masyarakat sipil dan melatih tentara cadangan. Walaupun begitu, baik tentara cadangan maupun penduduk di Israel Utara sama sekali tidak dipersiapkan. Petani dan pemilik hotel berdiri ditengah puing reruntuhan karya hidupnya.

Tanpa menghiraukan berapa lama loyalitas Jerman masih dapat menghindarkan Israel dari kecaman Uni Eropa, tanpa memperdulikan berapa lama pembayar pajak di Eropa harus mendanai penghancuran dan pembangunan kembali, Israel tidak akan menjadi anggota Uni Eropa dalam waktu dekat. Dan negara-negara tetangga Israel itu juga tidak akan bersikap seperti Finlandia, seperti yang diharapkan seorang konsultan mantan Perdana Menteri Ariel Sharon. Israel harus bisa hidup bersama, berdampingan dengan tetangga Arabnya dan mengingat, perang bukan resep untuk itu.

  • Tanggal 04.08.2006
  • Penulis Bettina Marx
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPCr
  • Tanggal 04.08.2006
  • Penulis Bettina Marx
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPCr
Iklan