1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Obama Rede Berlin

Daniel Scheschkewitz25 Juli 2008

Senator Barack Obama berpidato di Tugu Kemenangan, Berlin, Kamis (24/07). Pidatonya mengikuti tradisi retorika gemilang para presíden besar AS.

https://p.dw.com/p/EjfL
Calon presiden AS dari kubu Demokrat Barack Obama berpidato di depan lautan manusia di Berlin, Kamis (24/07)Foto: AP

Berlin menyambut Barack Obama bagai seorang superstar. Media ibu kota yang haus even dan puluhan ribu orang yang datang untuk menyaksikan calon presiden Amerika Serikat memproyeksikan kerinduan dan harapan mereka pada sang kandidat karismatik yang berambisi menduduki jabatan terpenting dunia ini.

Mereka merindukan lahirnya seorang Anti-Bush, tokoh yang sama sekali berbeda dalam mengambil keputusan dan bertindak daripada pemegang jabatan saat ini yang sudah kehilangan simpati Eropa. Obama diharapkan menampilkan tipe politisi yang beda, yang memungkinkan warga Jerman melupakan jajaran politisi Jerman yang membosankan dan hampir tak punya pengaruh apappun

Obama menyampaikan pidato dengan retorika gemilang yang sudah merupakan tradisi presiden-presiden besar Amerika Serikat seperti Ronald Reagen atau John F Kennedy. Tapi, dari pidato yang terutama ditujukan pada para pemilih di Amerika Serikat sama sekali tak dapat disarikan mengenai haluan politik yang akan dianut Obama bila ia terpilih sebagai presiden.

Obama memuji Berlin sebagai kota kebebasan dan harapan, kata-kata yang diucapkan tiap presiden Amerika yang berada di lokasi yang sama. Ia merujuk pada jembatan udara 60 tahun lalu. Dan karena perang dingin telah usai, ia memakai contoh baru yaitu penghubung untuk menjembatani jurang antar agama dan kelompok masyarakat di abad ke-21 ini. Ungkapan lain yang kaya harapan adalah penolakan terhadap segala bentuk kebijakan isolasi, yang saat ini merambahi kancah politik Amerika dan Eropa.

Sesuai dengan perkiraan, dalam pidatonya Obama mendesak untuk mewujudkan masyarakat transatlantik yang siap memikul tanggung jawab lebih besar dalam perang anti-teror. Namun, tuntutan Obama yang sangat jelas untuk meningkatkan dana bantuan dan jumlah pasukan bagi tujuan tersebut tak sesuai dengan selera masyarakat Jerman.

Tak heran bila tepuk tangan mereda saat Obama menyinggung hal ini dalam pidatonya. Ungkapan senada bisa saja dicetuskan Bush. Selain itu perlu dipertanyakan seberapa realistis tuntutan Obama untuk mewujudkan dunia yang bebas dari senjata atom mengingat makin gencarnya upaya untuk meningkatkan arsenal persenjataan nuklir oleh sejumlah rezim, yang tak menggubris mekanisme pengawasan internasional. Contohnya, Pakistan dan Iran Dukungan Obama bagi politik lingkungan yang global, tak hanya mendekatkannya pada fansnya di Jerman tapi juga pesaing politiknya dari kubu Republik John McCain.

Obama paling meyakinkan saat ia dalam pidatonya membangkitkan kembali harapan pendengar Jerman bahwa Amerika adalah negara yang bebas dan cinta keadilan. Yang membedakannya dari Bush adalah pengakuan Obama, bahwa Amerika pun tak bebas dari kesalahan. Pengakuan tersebut membuat janji Obama untuk mewujudkan kemitraan transatlantik yang lebih erat tak hanya terkesan sebagai basa-basi belaka. Obama jelas menang dalam persaingan untuk merebut simpati Eropa. Namun, rakyat Amerika lah yang akan memilih presiden Amerika yang baru bulan November mendatang. Dan saat itu gambar-gambar kampanenya di Berlin mungkin sudah pudar dari ingatan pemilih Amerika. (zer)