Tajuk: Gencatan Senjata Antara Israel dan Pejuang Hisbullah | dunia | DW | 14.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tajuk: Gencatan Senjata Antara Israel dan Pejuang Hisbullah

Berdasarkan resolusi Dewan Keamanan nomor 1701, diberlakukan gencatan senjata antara Israel dan pejuang Hisbullah. Berikut komentar mengenainya:

Warga Libanon kembali pulang setelah diberlakukannya gencatan senjata

Warga Libanon kembali pulang setelah diberlakukannya gencatan senjata

Setelah melakukan perdebatan selama berpekan-pekan, Dewan Keamanan PBB berhasil menyepakati resolusi diberlakukannya gencatan senjata di Libanon. Resolusi nomor 1701, bukanlah resolusi pertama mengenai Timur Tengah, yang membangkitkan harapan, tidak pernah terpenuhi. Ini bukan karena Dewan Keamanan PBB tidak berusaha untuk mengakhiri peperangan, melainkan sangat rumitnya situasi krisis dan peperangan dibandingkan dengan yang lainnya. Yang terjadi bukanlah peperangan antara dua negara dengan tentara reguler, melainkan dimulai dengan setiap konflik "yang tidak seimbang“ , yang kemudian menyulut perang "tradisional“.

Berhasil atau tidaknya resolusi PBB, tidak tergantung dari kemauan baik anggota Dewan Keamanan, melainkan hanya tergantung kepada kelompok yang bertikai. Pemerintah Israel memang tidak mengakuinya secara terbuka, tapi harus mengetahui bahwa petualangan militer yang dilakukannya tidak akan mencapai kemenangan di segala tingkat. Dalam menghadapi pejuang Hisbullah yang didukung persenjataan yang baik, mengenal kawasannya serta memiliki semangat juang yang tinggi, tentara Israel tidak berdaya. Adalah sebuah khayalan, bila berpendapat bahwa pejuang Hisbullah dapat dihancurkan atau disingkirkan dengan melancarkan serangan udara. Selain itu dengan melancarkan serangan udara secara besar-besaran terhadap warga sipil dan infra struktur di Libanon, Israel juga kehilangan simpati dari setiap warga Libanon yang tidak mendukung pejuang Hisbullah.

Di dunia internasional juga tidak banyak berbeda. Israel mengeluhkan bahwa laporan media berat sebelah, dan hanya menonjolkan penderitaan warga Libanon ketimbang apa yang dialami warganya. Memang penderitaan warga Libanon lebih menonjol ditampilkan, karena mereka menjadi korban serangan sebuah negara, dimana perdana menterinya baru-baru ini mengatakan, bahwa tentaranya adalah yang paling bermoral didunia. Juga pejuang Hisbullah harus mulai menyadari, tidak akan dapat melakukan peperangan dalam waktu lama, meskipun terutama Israel terkejut dengan ketangguhan dan daya juang yang ditampilkannya. Dan mereka tentunya akan dapat dikalahkan bila dalam waktu lama terus dilancarkan serangan udara besar-besaran.

Sekarang pejuang Hisbullah juga memikul tanggung jawab untuk mengakhiri peperangan. Tapi pejuang Hisbullah menyadari dirinya sebagai satu-satunya kelompok perlawanan yang tangguh. Bila peperangan terus meningkat, kemungkinan pejuang Hisbullah akan kehilangan simpati dikalangan warga Libanon. Untuk menciptakan gencatan senjata dalam waktu lama sampai terciptanya ketenangan yang langgeng, masih merupakan jalan panjang yang harus ditempuh. Diperlukan waktu beberapa pekan, sampai ditariknya tentara Israel dari Libanon Selatan. Dan kemudian digantikan tentara Libanon dan pasukan internasional. Sebelum terlaksana, Israel tidak akan meninggalkan wilayah itu, dan juga pejuang Hisbullah tidak akan meletakkan senjatanya.

  • Tanggal 14.08.2006
  • Penulis Peter Philipp
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPCd
  • Tanggal 14.08.2006
  • Penulis Peter Philipp
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPCd
Iklan