1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Presiden Taiwan Tsai Ing-wem (kanan) dan mantan menteri luar negeri AS Mike Pompeo (kiri) di taipei
Presiden Taiwan Tsai Ing-wem (kanan) menerima kunjungan delegasi AS dipimpin mantan menteri luar negeri Mike Pompeo (kiri) di Taipei. Foto: Taiwan Presidential Office/AP/picture alliance

Taiwan Pelajari Strategi Ukraina Hadapi Musuh Lebih Kuat

1 April 2022

Para ahli militer Taiwan mempelajari strategi perlawanan militer Ukraina ketika Rusia melancarkan invasi. Cina memang pernah mengutarakan ancaman untuk "mengembalikan“ Taiwan secara paksa.

https://www.dw.com/id/taiwan-pelajari-strategi-ukraina-hadapi-musuh-lebih-kuat/a-61330903

Taiwan belakangan meningkatkan kesiagaan, sekalipun dari Cina belum ada nada ancaman baru. Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengajukan gagasan "perang asimetris" untuk membuat pasukannya lebih sulit diserang. Militer Taiwan kini mempelajari situasi perang di Ukraina.

Yang dicermati Taiwan adalah penggunaan rudal presisi oleh Rusia, serta taktik pasukan Ukraina yang memberikan perlawanan dengan taktik yang baik, sekalipun mereka di atas kertas kalah jauh dalam kekuatan personel maupun persenjataan.

Ma Cheng-Kun, direktur Institut Pascasarjana Studi Urusan Militer Cina di Universitas Pertahanan Nasional Taiwan mengatakan, Ukraina telah menggunakan konsep yang jitu dengan persenjataan portabel untuk menghadang pasukan Rusia.

"Militer Ukraina telah memanfaatkan sepenuhnya perang asimetris, sangat efektif, dan sejauh ini berhasil menahan kemajuan Rusia," kata Ma Cheng Kun, yang juga penasihat pemerintah dalam masalah keamanan.

"Itulah yang juga dikembangkan secara proaktif oleh angkatan bersenjata kami,” jelasnya, menunjuk pada sistem senjata seperti roket anti kendaraan lapis baja-yang bisa ditembakkan dari bahu dan dirancang untuk perang jarak dekat. "Dari penampilan Ukraina, kami bisa lebih percaya diri dengan penampilan kami sendiri," tambah pakar keamanan Taiwan itu.

Latihan militer dengan sistem rudal Taiwan Hsiung Feng II
Latihan militer dengan sistem rudal Taiwan Hsiung Feng IIFoto: Daniel Ceng Shou-Yi/ZUMA Press Wire/picture alliance

Taiwan terlindung hambatan alami

Kementerian pertahanan Taiwan pekan lalu mengatakan, pihaknya berencana untuk menggandakan lebih dari dua kali lipat kapasitas produksi rudal menjadi hampir 500 unit pada tahun ini. Termasuk versi upgrade dari rudal Hsiung Feng IIE, rudal serangan darat jarak jauh yang menurut pakar militer. mampu mencapai target lebih jauh ke pedalaman Cina.

Para pengamat pertahanan juga menunjuk pada perbedaan besar antara posisi Taiwan dan Ukraina. Pemerintah Taiwan misalnya berulang kali menekankan, ada penghalang alami Selat Taiwan yang memisahkannya dari daratan Cina. Sedangkan Ukraina memiliki perbatasan darat yang sangat panjang dengan Rusia.

Hal itu memudahkan militer Taiwan mendeteksi tanda-tanda gerakan militer Cina, sehingga lebih mudah membuat persiapan menjelang invasi. Jika Cina mengerahkan ratusan ribu tentara dan peralatan berat seperti kapal, ini dapat dengan mudah menjadi sasaran rudal Taiwan.

"Jadi risikonya jauh lebih tinggi bagi Cina", kata Su Tzu-yun, peneliti di think tank militer top Taiwan, Institute for National Defense and Security Research. 

Bukan hanya tentang senjata

Hal lain yang sering dibahas adalah, apakah AS akan mengerahkan pasukan untuk mendukung Taiwan jika terjadi serangan Cina. Dalam kasus Ukraina, AS dan negara-negara NATO secara tegas menolak keterlibatan pasukannya di darat. Dalam kasus Taiwan, ada komitmen AS untuk turut mempertahankan negara itu dari invasi "pihak asing."  Namun sejauh ini, tidak ada pernyataan langsung dari Washington tentang pengerahan pasukan ke Taiwan.

Lo Chih-cheng, anggota parlemen senior dari Partai Progresif Demokratik yang berkuasa dan duduk di komite pertahanan dan urusan luar negeri parlemen mengatakan, pemerintahan Biden telah mengirim tim yang terdiri dari mantan pejabat tinggi ke Taiwan tak lama setelah Ukraina diserbu Rusia.

"Ini ibarat pesan kepada orang-orang Taiwan, bahwa Amerika Serikat adalah negara yang dapat dipercaya," katanya hari Selasa (29/3) di siaran podcast partai.

Taiwan, sebagai produsen semikonduktor utama, juga berharap bahwa kepentingan geografis dan rantai pasokan akan membuatnya berbeda dari Ukraina.

hp/as (rtr)