Superflu Paling Banyak Serang Balita dan Anak Usia Sekolah
6 Januari 2026
Menurut Kementerian Kesehatan, kasus superflu didominasi oleh kelompok anak-anak usia 1-10 tahun sebanyak 35 persen.
Menanggapi situasi ini, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), memberikan imbauan untuk orang tua agar memperkuat perlindungan anak. Ia menekankan pentingnya gaya hidup bersih, imunisasi influenza, dan makanan yang bernutrisi.
"Intinya di penerapan kembali PHBS, imunisasi influenza dan nutrisi bergizi tinggi serta mengurangi asupan makanan tak sehat yang tinggi gula dan UPF (ultra-processed food)," ucap dr Piprim kepada detikHealth, Senin (05/01).
Ia menambahkan, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker jika anak merasa kurang fit, dan etika batuk harus kembali didisiplinkan di lingkungan sekolah.
Kemenkes akan lakukan pengawasan
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr Prima Yosephine dalam laman Antara menjelaskan, superflu tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.
Kemenkes akan terus memperkuat surveilans atau pemantauan kondisi kesehatan masyarakat, pelaporan, serta kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan situasi influenza sesuai dinamika yang ada.
Melihat situasi ini, Profesor Riset BRIN Bidang Epidemiologi dan Biostatistik, Prof Masdalina Pane, mengatakan jika pengendalian wabah sangat bergantung pada optimalisasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Secara teori, sistem ini bekerja seperti radar yang memantau ambang batas epidemiologi.
Namun, Masdalina berpendapat, upaya pemerintah juga tentunya harus dibarengi dengan langkah masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh.
"Pastikan kualitas istirahat dan hidrasi yang cukup, penuhi nutrisi harian dengan mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung banyak vitamin dan mineral. Jangan lupa aktivitas fisik," pesan Masdalina dalam Antara, Senin (05/01).
Apa itu Superflu?
Mengutip Gavi The Vaccine Alliance, Direktur Pusat Influenza Dunia Prof Nicola Lewis menegaskan bahwa istilah superflu tidak bersifat ilmiah dan tidak ada bukti bahwa Subclade K lebih berbahaya dibanding virus influenza A (H3N2) lain yang saat ini beredar.
Munculnya istilah superflu dipicu anggapan Subclade K merupakan penyakit baru. Padahal, virus ini termasuk dalam kelompok influenza musiman. Perbedaannya terletak pada tingkat penularan yang lebih cepat, di mana satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada dua hingga tiga orang di sekitarnya.
Meski demikian, cara penularan Subclade K tetap sama seperti influenza pada umumnya, yakni melalui droplet saat batuk, bersin, atau berbicara, serta kontak dengan permukaan benda yang terkontaminasi virus.
Baca selengkapnya di Detik
Awas, Super Flu Paling Banyak Serang Balita-Anak Usia Sekolah
Apa Itu Super Flu? Ini Penjelasan Subclade K, Gejala dan Pencegahannya