1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Seorang petugas paramiliter India berjaga di luar kompleks Masjid Jamia di New Delhi (26/11)
Seorang petugas paramiliter India berjaga di luar kompleks Masjid Jamia di New Delhi (26/11)Foto: Mukhtar Khan/AP Photo/picture alliance
SosialIndia

Sulitnya Umat Muslim di India Cari Tempat untuk Salat Jumat

24 Desember 2021

Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok-kelompok kanan Hindu di Gurgaon dekat New Delhi kerap mengganggu jalannya ibadah salat Jumat di tempat terbuka. Mereka menganggap orang muslim menimbulkan risiko "keamanan."

https://www.dw.com/id/sulitnya-umat-muslim-di-india-cari-tempat-untuk-salat-jumat/a-60248593

Dinesh Bharti (40) bersama aktivis lainnya yang berkeliling di sekitaran Kota Gurgaon tak berhenti mengganggu umat muslim yang tengah menunaikan ibadah salat Jumat di tempat-tempat terbuka. Hal ini semakin meningkatkan ketegangan sektarian di bawah pemerintah nasionalis Hindu India.

"Umat muslim yang salat di tempat terbuka menciptakan masalah di negara dan seluruh dunia," kata Bharti yang memiliki tilak merah di dahinya, menandai dia sebagai umat Hindu yang taat.

Terpilihnya Narendra Modi sebagai Perdana Menteri India pada tahun 2014 lalu menguatkan pandangan kelompok garis keras yang melihat India sebagai negara Hindu dan di mana 200 juta minoritas muslim di negara itu sebagai orang luar yang berpotensi menghadirkan ancaman. Namun, pemeritah Modi menegaskan bahwa orang-orang dari semua agama memiliki hak yang sama.

Gurgaon adalah kota satelit modern di pinggiran ibu kota New Delhi. Kota ini jadi surga bagi para pekerja migran di sana. Diperkirakan sekitar 500.000 orang muslim tinggal di sana.

Di kota ini terdapat 15 masjid yang bisa digunakan umat muslim untuk beribadah, tetapi pemerintah setempat menolak izin untuk membangun lebih banyak lagi masjid, walau ketika jumlah candi Hindu di sana terus bertambah.

Akibatnya, umat muslim terpaksa menunaikan salat Jumat di tempat-tempat terbuka seperti lapangan parkir, tanah milik pemerintah di dekat pabrik, pasar, dan di lingkungan permukiman. Dilansir kantor berita AFP, pemerintah daerah terus memangkas jumlah tempat ibadah di tempat terbuka yang disetujui.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok-kelompok Hindu terus mengganggu mereka dengan meneriakkan berbagai slogan, memblokir jalan, dan mencela jemaah dengan menyebut mereka sebagai jihadis dan orang Pakistan.

'Tidak lagi ditoleransi'

Awal bulan ini, kepala menteri negara bagian Haryana, yang merupakan anggota Partai Bharatiya Janata Modi, menyatakan bahwa salat di luar ruangan di Gurgaon "tidak akan lagi ditoleransi".

Pada hari Jumat (17/12) dilaporkan bahwa ratusan orang muslim di seluruh kota harus antre untuk bergiliran beribadah di salah satu dari hanya enam tempat salat yang tersisa yang masih tersedia.

Sementara di lokasi lainnya, umat muslim dicemooh dan dipaksa untuk meneriakkan slogan-slogan seperti "Salam Dewa Ram" - dewa Hindu - oleh kelompok-kelompok kanan Hindu.

"Jika pemerintah tidak menemukan solusi untuk masalah ini, itu akan menjadi lebih rumit dan serius," kata Sabir Qasmi, seorang ulama muslim di kota itu.

Garis keras seumur hidup

Modi sendiri adalah anggota seumur hidup dari kelompok nasionalis Hindu Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS). Dia sempat dilarang masuk ke Amerika Serikat (AS) karena kerusuhan agama di Gujarat pada tahun 2002 ketika dia menjabat menteri kepala negara bagian Gujarat.

Sejak dia berkuasa, serangkaian hukuman mati tanpa pengadilan terhadap muslim oleh kelompok Hindu untuk apa yang disebut perlindungan sapi - hewan suci bagi banyak umat Hindu - dan kejahatan rasial lainnya telah menebarkan ketakutan dan keputusasaan di masyarakat.

Beberapa negara bagian telah mengeluarkan undang-undang anti-konversi ke Kristen dan Islam, termasuk melalui pernikahan - atau "jihad cinta" seperti yang disebut garis keras Hindu.

Kelompok-kelompok kanan Hindu di Gurgaon mengatakan salat di tempat terbuka menimbulkan risiko "keamanan", menyebabkan masalah lalu lintas, dan mencegah anak-anak bermain kriket - olahraga populer di India.

Namun, para kritikus mengatakan alasan sebenar umat muslim menunaikan salat di tempat terbuka karena mereka tidak memiliki masjid baru karena kebijakan pemerintahan Modi.

Pengamat politik Arati R. Jerath mengatakan ada agenda untuk mengubah India dari negara yang pluralistik dan sekuler menjadi "negara Hindu."

"Apakah itu ruang ekonomi atau ruang untuk beribadah, atau ruang untuk makanan dan adat istiadat atau apa pun dengan identitas muslim, itu akan menjadi bagian dari proyek," kata Jerath kepada AFP. "Ini belum tentu proyek yang disponsori pemerintah, tetapi tentu saja proyek oleh para pendukung pemerintah ini, yang...mendapatkan dukungan diam-diam dari pemerintah."

Dalam beberapa bulan terakhir puluhan orang dari kelompok kanan Hindu telah ditangkap karena kerap mengganggu jalannya ibadah salat Jumat di Gurgaon. Ibadah salat Jumat di sana sekarang digelar dengan pengamanan dari kepolisian.

"Situasinya menakutkan. Kami tidak pernah menduga keadaan ini akan terjadi di Gurgaon," kata Altaf Ahmad, salah satu pendiri Dewan Muslim Gurgaon, organisasi masyarakat setempat.

rap/ha (AFP, AP)