Suling di Eropa dan Indonesia. Hanya Alat Musik Pemula? | Sosial | DW | 11.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Suling di Eropa dan Indonesia. Hanya Alat Musik Pemula?

Di sekolah-sekolah di Indonesia anak-anak menggunakan suling sebagai instrumen pertama dalam pelajaran musik. Yaitu suling yang dalam bahasa Inggris disebut "recorder" dan dalam bahasa Jerman "Blockflöte". Tetapi apakah suling ini hanya sesuai untuk anak-anak? Jadi hanya instrumen bagi pemula?

Suling yang juga kerap dimainkan anak sekolah di Indonesia

Suling yang juga kerap dimainkan anak sekolah di Indonesia

Seperti halnya di Indonesia, di Jermanpun alat musik ini digunakan anak-anak yang baru mulai belajar musik. Dan suling bagi mereka berbeda-beda sesuai usia. Ada yang khusus dibuat untuk anak kecil yang baru berusia empat tahun. Sulingnya lebih pendek dan lebih mudah dipegang oleh tangan yang kecil. Anak-anak yang lebih tua menggunakan suling yang lebih panjang.

Digunakan di Sekolah-Sekolah

Apa sebenarnya yang menyebabkan suling kerap dipakai sebagai instrumen pertama di sekolah-sekolah? Meike Herzig yang mengajar penggunaan suling di sekolah musik di Bonn mencoba memberikan penjelasannya. Menurutnya, kemungkinan besar karena harganya, yang relatif murah. Lain halnya jika seorang anak ingin belajar main biola, misalnya. Orang tua pasti akan keberatan karena mahal.

Seperti halnya di Jerman, tentunya alasan ekonomi jugalah yang menyebabkan anak sekolah dasar di Indonesia menggunakan suling sebagai alat musik pertama. Selain murah, suling asal Eropa ini ada yang terbuat dari plastik. Jadi setelah digunakan bisa langsung dicuci. Sehingga secara higienis juga sesuai dengan kebutuhan anak-anak.

Paling Cocok untuk Anak-Anak?

Jadi alat musik inikah yang paling cocok sebagai instrumen pertama? Ternyata tidak semudah itu. Guru musik Meike Herzig kerap melihat kesulitan yang dialami anak-anak karena secara bersamaan harus meniup serta mengkoordinasi jari-jari. Terutama bagi anak-anak yang sangat kecil, yang belum mampu menggerakkan jari-jari secara halus, instrumen ini sama sekali tidak mudah untuk dimainkan.

Profesor Michael Schneider yang mengajar di sekolah tinggi musik di Frankfurt juga ragu, bahwa instrumen inilah yang tepat digunakan secara pedagogis. Menurut Schneider, memang suling jenis ini memiliki segi yang bagus. Yaitu mudah dimengerti dan dengan mudah orang bisa meniupkan nada yang merdu. Tetapi dalam waktu singkat kesulitan pertama muncul. Misalnya masalah lubang mana yang harus ditutup untuk menghasilkan nada tertentu, yang kerap nampak tidak logis. Namun demikian, kita harus menerima bahwa alat musik ini sudah menjadi instrumen pedagogis di berbagai negara. Demikian ditambahkan Schneider. Sekarang, yang penting bagi guru musik adalah meningkatkan kualitas dan tuntutan bagi siswa yang berminat memperdalam teknik memainkan suling ini.

"Blockflöte" dari Awal hingga Masa Kini

Suling yang dalam bahasa Jerman disebut “Blockflöte“ ini adalah hasil perpaduan dari jenis suling, yang sudah dimainkan di Eropa sejak sebelum Masehi, dan pengaruh suling lain yang berasal dari Eropa Timur, Afrika dan Asia. “Blockflöte“ mencapai masa jayanya di jaman kebudayaan Renaissance dan Barock, yaitu sekitar tahun 1500 hingga 1750. Sekitar abad ke 18 jenis suling ini tergeser dari orkestra oleh jenis suling lain. Baru di akhir abad ke 20 jenis suling ini kembali banyak dimainkan, dan menjadi instrumen pedagogis. Kemungkinan besar seiring dengan kolonisasi negara-negara Eropa di masa lalu, suling jenis ini juga menyebar ke negara-negara lain, di antaranya Indonesia. Sudah sejak awalnya, “Blockflöte“ selain dimainkan secara solo, kerap juga dimainkan dalam satu kelompok. Jadi sepertihalnya dalam paduan suara, ada suling sopran, alto, tenor dan bas, sehingga disebut ”Blockflötenfamilie” atau keluarga suling.

Karel van Steenhoven yang menjadi anggota grup suling kenamaan Amsterdam Loeki Stardust Quartet menceritakan, jenis suling ini sangat terkenal pada masa Renaissance. Dan pada saat itu orang sering bermain dalam satu kelompok. Inilah yang mereka jadikan tradisi, setelah kelompoknya memutuskan untuk memfokuskan diri pada jenis musik dan instrumen ini. Karel van Steenhoven menambahkan, kuartet yang memainkan instrumen ini secara profesional kini sudah dapat ditemukan di berbagai negara, juga di luar Eropa.

Juga untuk Yang Berusia di Atas 50 Tahun

Selain dimainkan anak-anak, ternyata instrumen ini juga cocok untuk yang berusia di atas 50 tahun. Hal ini dapat dilihat dalam "work shop" yang diadakan perusahaan Mollenhauer, yaitu salah satu perusahaan terbesar yang memproduksi "Blockflöte" di Jerman. Gisela Rothe dari perusahaan Mollenhauer menjelaskan, trend paling menonjol saat ini adalah orkestra yang terdiri dari pemain suling dalam jumlah banyak. Di AS dan Inggris trend ini sudah lama bisa disimak. Tetapi di Jerman baru mulai dikembangkan.

Menurut Rothe trend inilah yang mendorong semakin banyaknya pemain suling yang berusia di atas 50 tahun. Mereka terdiri dari pensiunan atau juga ibu rumah tangga yang bisa dibilang sudah menyelesaikan tugas mendidik anak-anak, dan kini memiliki waktu untuk memperdalam ketertarikan mereka kepada musik. Dan instrumen ini, rupanya memang sangat cocok untuk menjadi alat musik bagi pemula. Berbeda dengan anak-anak yang kadang mengalami kesulitan dalam mengkoordinir jari-jarinya, orang dewasa yang tergabung dalam kelompok ini secara fisik dapat memainan instrumen dengan lebih baik.

Menarik Karena Keterbatasannya

Jadi, alat musik yang nampaknya mudah dimainkan, serta kerap dianggap ringan, karena dianggap instrumen pemula, sebenarnya memiliki banyak segi. Oleh sebab itu, salah satu pemain suling terkenal Jerman, Dorothee Oberlinger memilih untuk memperdalam studi musiknya di bidang suling jenis "Blockflöte". Menurutnya, keterbatasan instrumen inilah yang menjadi tantangan paling besar. Karena dengan keterbatasannya itu alat musik ini tetap dapat digunakan untuk menampilkan karya musik yang indah. Itulah yang menyebabkan suling ini sangat menarik.

  • Tanggal 11.02.2007
  • Penulis Marjory Linardy
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPVP
  • Tanggal 11.02.2007
  • Penulis Marjory Linardy
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPVP