Sudah Lebih Dari 1200 Orang Tewas Dalam Bencana Longsor di Cina | dunia | DW | 16.08.2010
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Sudah Lebih Dari 1200 Orang Tewas Dalam Bencana Longsor di Cina

Kondisi di kawasan Cina yang terkena bencana lumpur longsor akibat hujan yang tak kunjung berhenti belum juga membaik. Usaha penyaluran bantuan terkena hambatan.

default

Longsor di Zhouqu, Cina

Jalanan tertutup oleh lumpur, sehingga bahan pangan dan obat-obatan tidak bisa sampai ke tujuan di utara Cina. Ribuan tentara yang dikirim ke Zhouqu, daerah terpencil di provinsi Gansu, berhenti melakukan aksi pencarian mayat untuk mencegah tersebarnya wabah penyakit. Angka kematian resmi yang dilaporkan kantor berita Xinhua, Senin kemarin adalah 1254 orang dan 490 lainnya masih dinyatakan hilang. Untuk mengenang korban yang tewas, hari Minggu lalu, diadakan upacara duka.

Di ibukota provinsi Gansu di Lanzhou, sirene berbunyi. Begitu juga di Zhouqu, yang juga dilanda longsor lumpur. Di kedua kota tersebut berpusat upacara duka. Menurut kantor berita pemerintah Xinhua lebih dari 10 ribu orang berkumpul di Lanzhou. Di Zhouqu, petugas penyelamat untuk sementara menghentikan pekerjaan mereka. 5000 orang berkumpul disana di dekat reruntuhan desa Dongjie yang tertimbun longsor.

Pukul 10 pagi, massa yang berkumpul diminta untuk mengheningkan cipta selama tiga menit. 5000 orang menundukkan kepala mereka. Pada spanduk besar berwarna hitam tertera ‚Duka yang dalam atas meninggalnya warga desa kami‘. Bencana lumpur longsor paling parah mengenai desa Dongjie. Disana lebih dari 300 orang tewas.

Tim penyelamat, tentara militer pembebasan rakyat, dokter dan perawat menyanyikan lagu kebangsaan. Usai mengheningkan cipta, mereka bekerja kembali. Membersihkan puing-puing, melakukan proses desinfeksi dan mengurus korban yang selamat.

Di seluruh Cina, semua acara hiburan yang dijadwalkan hari Minggu lalu dibatalkan. Bioskop dan bar karaoke tutup. Harian-harian besar tidak mencetak foto berwarna, kebanyanakan situs internet tampil dengan warna hitam-putih sebagai pertanda duka.

Tahun ini Cina sering terkena bencana alam. Begitu isi tajuk sebuah harian remaja Beijing. ‘Kita harus berani menghadapi tantangan ini dan mengatasinya.', begitu kutipan tajuk tersebut.

Menjelang matahari terbit, tentara berbaris lapangan Tiananmen di Bejing untuk melaksanakan upacara bendera harian. Sekitar 10 ribu warga turut menyaksikan bendera merah dengan bintang kuning yang dinaikkan setengah tiang beriringan dengan lantunan lagu kebangsaan. Banyak diantara warga yang hadir menyematkan bunga kertas putih sebagai tanda duka mereka.

„Maju Zhouqu‘ demikian seruan beberapa orang diantara massa yang berkumpul. Di televisi tampak warga yang tampak lebih kompak di masa bencana ini.

Di seluruh negeri, bendera dinaikkan setengah tiang. Stasiun televisi resmi pemerintah menunjukkan Presiden Hu Jintao dan pejabat tinggi lainnya yang turut mengheningkan cipta di ruang rapat. Selama satu hari penuh, televisi CCTV melaporkan tentang kawasan yang terkena bencana dan proses upaya penyelamatan. Pemerintah terus memperingatkan akan adanya hujan deras dan tanah longsor baru. Beberapa hari yang lalu, usai hujan deras, di kota tetangga Longnan dilaporkan setidaknya 31 orang tewas.

Ruth Kirchner / Vidi Legowo-Zipperer

Editor : Hendra Pasuhuk