Studi Tentang Korban Perang Irak | Sosial | DW | 12.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Studi Tentang Korban Perang Irak

Sebuah studi independen yand dipublikasikan majalah kedokteran on-line "The Lancet" menyebutkan, perang tahun 2003 di Irak menewaskan lebih dari 650.000 orang.

Banyak korban yang tewas karena minimnya fasilitas kesehatan di Irak

Banyak korban yang tewas karena minimnya fasilitas kesehatan di Irak

Berdasarkan perhitungan baru para pakar AS, sejak dimulainya invasi ke Irak sekitar tiga setengah tahun lalu, sudah terdapat lebih dari 650.000 orang yang tewas, tentara dan warga sipil. 600.000 diantaranya adalah korban pertempuran, serangan bunuh diri atau diculik, disiksa dan kemudian dibunuh.

Sekitar 50.000 meninggal dunia akibat berbagai penyakit, sebagai dampak dari buruknya pelayanan medis yang terbengkalai. Studi itu menyebutkan bahwa di Irak setiap hari terdapat sekitar 500 kasus "kematian akibat kekerasan". Dan sejak pecah perang, angka kematian rata-rata kini meningkat empat kali lipat.

Ini adalah gambaran yang suram dibandingkan dengan angka-angka yang selama ini digunakan pemerintahan Bush, yakni 30.000 korban warga sipil, dan menurut para peneliti Inggris jumlah korban berkisar pada 50.000 orang. Studi para dokter dari Universitas John Hopkins di Baltimore, negara bagian Maryland yang menyebutkan jumlah korban lebih dari 650.000 sangat mengejutkan warga AS.

Hasil studi itu dipublikasikan dalam majalah kedokteran online Inggris "The Lancet" dan diakui keseriusannya. Landasan studi itu adalah apa yang disebut sebagai "cluster sampling", yaitu sebuah metode, dimana dicatat jumlah korban di beberapa wilayah tertentu, ditelaah penyebab kematiannya dan kemudian dihitung untuk seluruh wilayah Irak.

Para pengritik studi itu bukan terutama meragukan hasilnya, walaupun banyak yang menilainya berlebihan, melainkan menuduh para peneliti itu menjalankan kampanye pemilu. Kesimpulannya: siapa yang membeberkan gambaran yang sesuram itu, empat minggu sebelum pemilihan Kongres, ia berusaha memanaskan suasana menentang pemerintahan Bush.

Satu-satunya reaksi resmi datang dari Kementrian Pertahanan AS dan dirumuskan secara umum. Seperti "kami menyesalkan tewasnya tiap orang yang tidak bersalah" atau "kami akan melakukan segalanya agar penduduk sipil tidak menjadi korban tewas maupun luka-luka."

Yang lebih konkrit lagi adalah mantan kolonel Jeffrey McCausland lewat pemancar televisi CNN. Menurut dia studi itu menunjukkan betapa mendesaknya kondisi yang buruk di Irak itu. Apalagi di Bagdad kini terdapat semakin banyak pembunuhan. Itu harus dihentikan oleh para serdadu AS. Bulan-bulan depan akan menjadi faktor penentu. Demikian Jeffrey McCausland.

Lalu, apakah perlu dikirim lebih banyak tentara ke Irak termasuk Bagdad? Mungkin ini memang salah satu jalan penyelesaian. Tetapi pada masa dimana di AS terdapat kejemuan perang, itu tidak dapat dilaksanakan. Apalagi mengingat kenyataan bahwa tentara AS sekarang sudah sampai ke batas kemampuannya, atau mungkin sudah melampauinya.

Jadi, hanya soal waktu sampai para peneliti di Universitas John Hopkins menyebutkan jumlah satu juta korban? Kelihatannya begitu. "Kalau tentara AS tidak berhasil menghentikan kekerasan antar penganut aliran agama yang berbeda, maka Irak terancam perang saudara." Demikian kata McCausland selanjutnya.