Studi: Manusia Telan Plastik Seukuran Kartu Kredit Per Pekan | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 13.06.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kesehatan

Studi: Manusia Telan Plastik Seukuran Kartu Kredit Per Pekan

Manusia di Bumi rata-rata mengkonsumsi lima gram plastik per pekan atau setara dengan selembar kartu kredit. Meski demikian ilmuwan belum bisa memastikan dampak buruk pencemaran plastik mikro pada kesehatan manusia.

Temuan itu diungkap dalam sebuah studi Universitas of Newscastle di Australia, atas kerjasama dengan organisasi konservasi World Wide Fund for Nature (WWF). Menurut ilmuwan, sumber terbesar pencemaran plastik adalah air, entah itu dalam bentuk botol kemasan atau dari air ledeng. Kerang, bir dan garam adalah tiga produk konsumen yang paling banyak terpapar plastik mikro.

Penelitian tersebut mengolah data dari sekitar 50 studi lainnya seputar konsumsi plastik mikro di seluruh dunia. Menurut temuan ilmuwan, setiap pekan manusia mengkonsumsi 2.000 partikel plastik mikro per pekan, atau sekitar 250 gramm per tahun.

Baca juga:Bagaimana Negara Barat Hadapi Arus Balik Limbah Plastik? 

Studi tersebut juga mengungkap perbedaan variasi cemaran plastik mikro. Pencemaran air di Amerika Serikat dan India misalnya dikabarkan dua kali lipat lebih tinggi ketimbang di Eropa atau Indonesia.

"Meski kesadaran terhadap bahaya plastik mikro dan dampaknya terhadap lingkungan terus meningkat, penelitian ini membantu menyediakan kalkulasi yang akurat tentang konsumsi plastik untuk pertamakalinya," kata Thava Palanisami, wakil ketua tim peneliti.

Tonton video 06:06

Melacak Impak Plastik Mikro Dalam Rantai Makanan

Marco Lambertini, Direktur Jendral WWF Internasional mengatakan temuan ilmuwan selayaknya menjadi "alarm bahaya" untuk semua negara di dunia. "Plastik tidak cuma mencemari samudera, sungai dan membunuh satwa laut, tapi juga mencemari kesehatan kita semua. Kita tidak bisa berhenti mengkonsumsi plastik," kata dia.

"Aksi global diperlukan untuk menanggulangi krisis ini," imbuhnya.

Harapan tersebut jauh panggang dari api. Krisis limbah plastik dan pencemaran plastik mikro sejauh ini belum mampu menghentikan laju konsumsi plastik yang ironisnya kian meningkat. Menurut laporan Grand View Research, hingga 2025 industri plastik diprediksi akan menikmati pertumbuhan sebesar 4%.

Padahal lebih dari 75% produk plastik yang dijual di seluruh dunia berakhir sebagai sampah. Sepertiga dari jumlah tersebut, sekitar 100 juta ton, dibuang ke kawasan hijau dan mencemari samudera atau sungai.

Baca juga: Filipina Banjir Sampah Asing, Mengapa Negara Maju Gagal Kelola Limbah Sendiri?

Menurut studi The New Plastic Economy yang dipublikasikan awal 2019 silam, jika rata-rata konsumsi plastik tidak berkurang maka pada 2025 samudera Bumi akan menampung satu ton sampah plastik untuk setiap tiga ton ikan. 

Belum lama ini partikel plastik bahkan ditemukan mencemari ikan di laut dalam hingga dataran salju di pegunungan Pirenia antara Spanyol dan Italia.

Ilmuwan dari University of Newcastle pun mewanti-wanti betapa dunia medis saat ini belum mampu memahami sepenuhnya dampak konsumsi plastik mikro kepada tubuh manusia.

rzn/hp (dpa, rtr)

Tonton video 01:12

Malaysia Tegas Kirim Balik Sampah Plastik ke Negara Maju

 

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait