1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Polisi Jerman berjaga-jaga di depan sebuah sinagoga di Berlin
Polisi Jerman berjaga-jaga di depan sebuah sinagoga di BerlinFoto: Markus Klümper/Sauerlandreporter/dpa/picture alliance
ReligiJerman

Studi: Antisemitisme “Mengakar Kuat” di Masyarakat Jerman

Christoph Strack
16 Mei 2022

Survey menunjukkan masih tingginya tingkat kebencian terhadap bangsa Yahudi di Jerman. Simpatisan partai populis kanan dan muslim konservatif merupakan kelompok yang paling rentan terpapar paham antisemitisme.

https://www.dw.com/id/studi-antisemitisme-mengakar-kuat-di-masyarakat-jerman/a-61810057

Kepolisian mencatat sebanyak 3.028 kasus kejahatan antisemitisme terjadi di sepanjang tahun 2021. Angka tersebut merupakan rekor tertinggi sejak pencatatatan angka kriminalitas di Jerman.

Kini, survey yang dibuat Allensbach Institute atas pesanan organisasi Yahudi-Amerika Serikat, American Jewis Committee, menunjukkan antisemitisme bukan cuma isu politik belaka, tetapi masih "mengakar kuat” di masyarakat Jerman.

Meski diklaim marak di kalangan ekstrem kanan dan muslim konservatif, antisemitisme diyakini tersebar luas di Jerman oleh sekitar 60 persen responden. Sekitar dua pertiga menanggap kebencian terhadap Yahudi meningkat sejak satu dekade terakhir. Fenomena ini dipercaya berasal dari ideologi ekstrem kanan, yang diperkuat sikap anti-Israel dan pengaruh paham Islam garis keras.

Survey tersebut terutama membidik warga muslim yang hidup di Jerman. Sebanyak 31 persen kaum muslim meyakini sikap anti-Israel sebagai alasan utama kemunculan sentimen anti-Yahudi, sementara pada responden umum jumlahnya sekitar 21 persen. 

Lebih dari separuh warga muslim meyakini antisemitisme tersebar luas di Jerman. Pengaruhnya menguat terutama sejak beberapa tahun terakhir. 

"Antisemitisme adalah dampak dari minimnya pendidikan, minimnya rasa toleransi. Masalah Timur Tengah juga merupakan isu aktual,” kata Aziz Fooladvand, seorang guru di sebuah sekolah dengan 80 persen murid muslim di barat Jerman. 

"Kita mencoba menjelaskan perbedaan antara Yahudi dan Israel,” imbuhnya kepada stasiun radio, Deutschlandfunk. "Ini adalah hal baik karena kita harus memisahkan antara agama dan politik.”

Politik Antisemitisme

Walaupun antisemitisme berakar kuat, survey tersebut juga menunjukkan fenomena rasisme terhadap "warga asing”, di mana kelompok masyarakat berkulit gelap, muslim atau anggota etnis Sinti dan Roma tergolong yang paling tidak disukai.

Dilihat dari spektrum politik, kelompok populis kanan, terutama simpatisan Partai Alternatif untuk Jerman (AfD), memiliki porsi terbesar dalam peningkatan fenomena antisemitime. Contohnya, lebih dari sepertiga pendukung AfD mengamini pernyataan bahwa "kaum Yahudi memiliki kekuasaan politik yang terlalu besar.” Jumlah tersebut dua kali lipat lebih besar ketimbang angka rata-rata nasional.

Meski demikian, jajak pendapat Allensbach Institute juga menghasilkan kesimpulan muram buat seluruh spektrum politik. Semua partai dianggap menunjukkan "kehati-hatian khusus” terkait isu antisemitisme, dan dengan begitu "menyerahkan ruang politik kepada AfD,” kata Direktur AJC Berlin, Remko Leemhuis.

Dia tidak cuma mengritik AfD, tetapi juga anggota partai sebagai "bagian kritis dari masalah ini.”

Agama menguatkan prasangka rasial

Sementara di sisi kaum muslim, survey menunjukkan "keterkaitan yang kuat” antara kebencian terhadap Yahudi dan relijiusitas. Muslim yang mengaku taat beribadah, mencatatkan tingkat antisemitisme yang lebih tinggi ketimbang warga muslim lain. 

Contohnya, sekitar 68 persen warga muslim konservatif mendukung pernyataan bahwa "Yahudi memiliki kekuasaan ekonomi dan keuangan yang terlalu besar.” Jumlahnya pada kaum muslim moderat berkisar pada angka 39 persen.

Dalam hal ini, aliran dana sumbangan dari Timur Tengah ke masjid-masjid Jerman turut dijadikan alasan. Mereka tidak hanya menyumbang dana, tetapi juga mengirimkan imam dan ustadz untuk mengisi kekosongan tenaga pengajar. 

"Kita punya banyak komunitas muslim yang tidak punya masalah sama sekali. Kita harus melibatkan mereka dengan lebih besar,” kata Felix Klein, Komisioner untuk urusan Yahudi dan Penanggulangan Antisemitsme di Jerman.

Menurutnya, adalah hal penting untuk tidak membedakan jenis kebencian terhadap bangsa Yahudi, "tetapi menolak semua bentuk antisemitisme.” (rzn/vlz)