Steinmeier di Cina | Fokus | DW | 23.02.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Steinmeier di Cina

Hubungan bilateral yang baik dan stabil antara Cina dan Jerman terutama didasari oleh kemitraan ekonomi.

default

Cina adalah mitra dagang Jerman yang terpenting di Asia. Perusahaan Jerman menginvestasi lebih dari sepuluh milyar dollar AS di Cina. Saat ini berita tentang pembajakan “know-how” atau teknologi barat oleh perusahaan Cina memarak. Tema ini juga merupakan agenda pembicaraan menteri luar negeri Jerman di Beijing.

Pada akhir kunjungannya selama lima hari di Asia, Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier hari Rabu (22/02) tiba di Cina untuk mengadakan pembicaraan dengan pemimpin pemerintah Cina. Hari Kamis (23/02) Steinmeier bertemu dengan Presiden Cina dan Ketua Partai Hu Jintao.

Steinmeier Diterima Hu Jintao

Hubungan Jerman dan Cina dianggap baik. Kenyataan bahwa Menteri Luar Negeri Jerman bahkan diterima oleh Hu Jintao, Presiden Cina dan Ketua Partai, menegaskan hal itu. Hubungan baik ini tidak hanya terbatas dalam bidang ekonomi, tetapi dalam berbagai tingkat, misalnya pimpinan pemerintahan mengadakan pertemuan setiap tahun, berbagai kementerian menjalin kerja sama yang erat dan bermacam delegasi saling mengunjungi dan bertukar pengalaman tanpa putus-putusnya.

Jika kita kita melihat kenyataan ini, maka dapat diasumsikan bahwa kunjungan Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier adalah suatu lawatan rutin. Namun, bila disimak lebih teliti, perubahan dalam hubungan antara kedua negara terlihat. Pergeseran aksentuasi tampak nyata. Pendekatan Jerman ke Amerika Serikat dan penjauhan diri secara hati-hati dari Moskow seiring dengan pendekatan ke Jerman Jepang dan penjauhan diri secara hati-hati dari Beijing.

Hubungan Tokyo - Beijing

Steinmeier adalah menteri luar negeri Jerman pertama sejak lima tahun ini yang mengunjungi Tokyo. Dan kunjungannya itu dilaksanakan sebelum dia melawat ke Beijing. Dalam menghadapi Cina yang adalah musuh bebuyutan Jepang, Steinmeier justru berpaling dari politik pemerintah Jerman sebelumnya dalam menyikapi masalah embargo senjata Uni Eropa terhadap Cina. Mantan Kanselir Gerhard Schröder berupaya keras agar larangan menjual senjata ke Cina yang diterapkan sejak tahun 1989, dicabut. Sementara Menteri Luar Negeri Jerman yang sekarang menyatakan bahwa embargo hanya dapat dicabut atas persetujuan Uni Eropa.

Raksasa Dagang Cina

Tema pembicaraan lain yang tidak nyaman namun harus diutarakan oleh Steinmeier adalah masalah pembajakan hak paten di Cina. Keluhan atas pembajakan teknologi oleh Cina semakin meningkat di Jerman. Yang membuat jengkel pengusaha Jerman, misalnya, produk Cina yang teknologinya merupakan bajakan dari Jerman bahkan juga muncul di pasaran Jerman. Ini bisa dikatakan sebagai nasib yang ironis.

Meskipun Cina adalah anggota dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang harus menaati undang-undang hak paten, namun pada prakteknya di Cina, pelaksanaan peraturan ini masih bermasalah. Hal ini juga diakui oleh Menteri Luar Negeri Cina Li Zhaoxing.

Apakah yang disebut pemerintah Cina sebagai 'kebangkitan damai' benar-benar akan mengindahkan sistem internasional dengan tidak menimbulkan masalah besar? Hal ini tergantung pada pertanyaan: Sejauh mana Cina bersedia menggunakan kemampuannya yang semakin meningkat, secara bertanggung jawab? Sejauh mana Cina bersedia untuk menaati kesepakatan dan peraturan permainan internasional?

Pelanggaran HAM

Agenda pembicaraan Steinmeier di Beijing menggaris-bawahi hal itu dan diwujudkan dalam topik: Sengketa atom dengan Iran, politik yang disebut Cina sebagai 'politik luar negeri yang berorientasikan kekayaan alam' dan masalah HAM di Cina.

Jalan yang terbaik adalah tetap mengadakan dialog. Terutama jika tidak hanya melaksanakan pembicaraan dengan pemerintah saja, melainkan juga dengan organisasi non pemerintah (NGO). Pertemuan Steinmeier dengan wakil-wakil NGO adalah sinyal yang benar. Mereka berhak menerima bantuan dalam upaya memperluas ruang gerak mereka yang sangat sempit.