Stabilitas Libanon Dalam Bahaya | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 22.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Stabilitas Libanon Dalam Bahaya

Suriah membantah memberi dukungan kepada kelompok militan Fatah Al- Islam di Libanon

Militer Libanon mengepung pusat militan dekat Tripolis

Militer Libanon mengepung pusat militan dekat Tripolis

Tidak ada bukti, bahwa kelompok Islam militan di kamp pengungsian Nahr Al-Bared dikontrol dari Suriah. Dan sepertinya memang tidak akan ditemukan bukti – salah satunya karena persekongkolan politis hanya dapat diduga tetapi tidak dapat dibuktikan dengan fakta-fakta.

Baik Suriah maupun Kelompok Fatah Al-Islam sendiri menyangkal bekerjasama, sementara banyak pihak dari pemerintahan yang pro barat memandang persekongkolan dengan Suriah sebagai sesuatu yang wajar. Satu alasan yang mungkin adalah bahwa Suriah ingin mencoba menggagalkan kasus pembunuhan mantan kepala pemerintahan Rafik Hariri di pengadilan internasional dengan menimbulkan kekacauan dan kekerasan di Libanon. Tetapi hal ini memang dapt mudah sekali dituduhkan kepada Damaskus: Karena dalam kasus pembunuhan Hariri, Suriah menjadi salah satu tersangka yang diduga mengontrol pembunuhan ini dari belakang.

Tetapi yang dapat menyangkal teori kontrol jarak jauh Suriah ini adalah kenyataan, bahwa Suriah sementara ini menjaga jarak dari para pejuang militan di Libanon utara. Kelompok ini tidak melayani kepentingan Palestina dan juga tengah diusut secara hukum di Suriah, seperti dilaporkan dari Damaskus. Ini bukan merupakan tanda dukungan politis Suriah. Kata-kata sejelas itu ditujukan kepada militan Hisbullah yang berhubungan dengan Suriah tidak pernah terdengar sebelumnya.

Yang semua orang tahu adalah kedekatan kelompok Fatah Al-Islam dengan jaringan teror Al-Kaida. Tetapi ini tidak tergantung pada keikutcampuran Damaskus, Al-Kaida atau keduanya. Situasi di Libanon menjadi semakin parah dengan cara yang sangat berbahaya. Dan hal ini dapat melebar setiap saat dan menjadi tidak terkendali. Seperti yang ditunjukkan oleh serangan-serangan bom baru-baru ini di ibukota Beirut. Ini bukan pertama kalinya, dimana iklim politik di Libanon menjadi tegang setelah perseteruan yang disertai kekerasan antara pendukung pemerintah dan pihak oposisi. Berbagai kelompok politis dan kelompok agama berjuang untuk merebut kekuasaan dan mereka masih punya banyak hal yang belum terselesaikan dari masa perang saudara. Dan tidak hanya organisasi militan Palestina dan Hisbullah, tetapi kelompok Suni dan kelompok Kristen juga sejak lama sudah dipasok dengan senjata kembali.

Kejadian kecil saja sudah cukup untuk kembali menimbulkan berbagai konfllik di Libanon: antara berbagai kelompok agama atau juga antara berbagai kelompok Libanon dan Palestina. Dimasa lalu kerusuhan politis selalu timbul dari kemiskinan dikamp-kamp Palestina. Disana berlaku struktur mafia dan kerusuhan politis. Libanon dahulu juga memastikan untuk tidak ikut campur permasalahan disana dengan pasukannya. Ini sekarang adalah aksi balas dendam dan hal ini tidak boleh dibiarkan. Pasukan keamanan Libanon tidak akan mempunyai pilihan di masa depan, selain memerangi kelompok militan ini dengan kekerasan. Tetapi mereka harus bertindak dengan hati-hati dan tidak merugikan penduduk. Stabilitas Libanon yang rapuh berada dalam bahaya.

Iklan