St. Petersburg Tuan Rumah KTT G8 | dunia | DW | 13.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

St. Petersburg Tuan Rumah KTT G8

St. Petersburg akan menjadi pusat perhatian media pada akhir pekan ini. Presiden Rusia Vladimir Putin akan menjamu para pemimpin negara anggota G8 di Konstantin Palais yang megah.

St. Petersburg

St. Petersburg

Diperkuat oleh pemasukan milyaran Euro dari bisnis minyak dan gas, Presiden Putin menempatkan tema keamanan energi di posisi teratas agenda KTT G8. Semenjak Kremlin awal tahun ini menutup aliran gas ke Ukraina, banyak yang mempertanyakan motif Putin sesungguhnya. Putin sendiri, merasa pihak Barat salah mengerti.

Vladimir Putin : “Beberapa mengamati kami melalu prisma khusus dengan praduga dari masa lalu kami. Dan mereka melihat ancaman dari Rusia yang kuat, yang sekarang kembali bangkit. Beberapa bahkan siap menyalahkan kami, bahwa kami memiliki ambisi dari negara kaya baru. Atau, seperti yang kami dengar baru-baru ini, kami bahkan dituduh melakukan ‘pemerasan energi’.”

KTT G8 di St. Petersburg ingin mengesahkan ‘Aksi Global Keamanan Energi’, penyediaan energi yang aman dengan harga yang masuk akal. Masalahnya, rencana ini berarti penggunaan energi alternatif yakni tenaga nuklir. Jerman satu-satunya negara anggota G8 yang menolak perluasan tenaga nuklir. Karena di G8 berlaku prinsip konsensus, maka untuk sementara keberatan Jerman harus dipertimbangkan. Aspek lain dalam hal penyediaan energi diungkapkan oleh Sekjen PBB Kofi Annan: perang melawan kemiskinan tanpa listrik, tidak akan berjalan.

Kofi Annan : “Lebih dari seperempat milyar orang hidup tanpa listrik. Sementara banyak diantara mereka yang punya listrik, tetap harus sering mengalami listrik padam karena kurangnya kapasitas dan jaringan listrik yang rusak. Tanpa penyediaan energi yang dapat diandalkan, orang-orang ini dihukum untuk menjadi miskin selamanya.”

Perang melawan kemiskinan di dunia tidak terncantum secara terperinci dalam agenda KTT. Namun, kedelapan negara tersebut tidak akan dapat mengelak dari tema tersebut. Setahun yang lalu di Gleneagles, Skotlandia, telah disetujui pembebasan hutang bagi negara-negara termiskin dunia. Jürgen Hammelehle dari lembaga politik pembangunan merasa keputusan itu saja tidaklah cukup.

Jürgen Hammelehle : “Banyak langkah penting yang terjadi di KTT G8 di Gleneagles. Tetapi kami pikir, apa yang ingin kami capai, masih belum terjadi. Karena itu menurut kami, negara-negara G8 harus mendukung pembiayaan pembangunan dan kerja sama pembangunan dengan menyediakan setiap tahunnya 50 milyar dolar Amerika hingga tahun 2010.”

Selain masalah energi dan pembangunan, topik aktual dalam politik dunia seperti kasus atom Iran atau uji roket Korea Utara, akan diperbincangkan dalam KTT yang berlangsung selama dua hari ini. Bahkan masalah perdagangan bebas WTO, Organisasi Perdagangan Dunia, juga tidak akan luput dari sorotan.

Hari Senin (17/7), KTT akan diperluas. Para pemimpin dari negara-negara yang berpengaruh dalam perekenomian dunia seperti Cina, India, Brasil, Afrika Selatan dan Meksiko. Bersama dengan mereka juga akan hadir perwakilan PBB, Uni Afrika, Badan Energi Internasional, Organisasi Kesehatan Dunia dan UNESCO.
Iklan