Sri Paus di Afrika | Sosial | DW | 18.03.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosial

Sri Paus di Afrika

Paus Benediktus XVI menyadari berbagai masalah yang dihadapi benua Afrika, tetapi bukan berarti tidak ada harapan. Hanya dalam soal kontrasepsi, tidak ada toleransi.

Sambutan meriah bagi Paus Benediktus XVI di Kamerun.

Sambutan meriah bagi Paus Benediktus XVI di Kamerun.

"Paus Pembawa Harapan" demikian antara lain tertulis pada spanduk yang dibawa ribuan warga di Yaounde, Kamerun, untuk menyambut kedatangan Paus Benediktus XVI. Di jalan dari bandar udara ke pusat kota Yaounde yang memerlukan waktu selama sekitar satu jam, dia dielu-elukan dengan seruan meriah, tari-tarian dan musik.

Banyak orang membawa anak-anak mereka yang masih kecil, dan benda-benda keagamaan untuk diberkati. Ketika itu warga di jalanan belum mengetahui tentang hal-hal yang dikemukakan Sri Paus dalam konferensi persnya saat masih berada di dalam pesawat sebelum mendarat. Beberapa pakar mengenai Vatikan menganggap awal lawatan Sri Paus sudah terbebani oleh ucapannya mengenai masalah Aids. Seperti pendahulunya, Paus Yohannes Paulus II, dalam soal Aids dan kontrasepsi Paus Benediktus XVI menganut pendapat yang sama. Tidak ada toleransi bagi penggunaan kondom, sebaliknya orang harus dapat menahan diri dalam soal seksualitas.

Sri Paus mengemukakan: "Penyakit Aids tidak dapat ditanggulangi dengan membagi-bagikan kondom. Sebaliknya, itu hanya memperbesar permasalahannya. Penyelesaiannya terletak pada kebangkitan spiritualitas manusia."

Pernyataan Paus Beneediktus XVI itu menimbulkan kritik dari berbagai pihak, bahkan juga sulit dipahami oleh para imam dan biarawati yang setiap harinya berhadapan langsung dengan masalah Aids. Tetapi di mata Sri Paus, banyaknya lembaga bantuan sosial dan program penyuluhan Aids dari pihak gereja, tentunya tidak dapat dijabarkan bahwa gereja merupakan faktor penghalang pencegahan Aids di benua dengan sekitar 22 juta penderita Aids. Kritik dilancarkan pula oleh Badan Bantuan Anak-anak PBB, UNICEF.

Pada awal kunjungannya Sri Paus baru memberikan pernyataan secara umum mengenai benua Afrika. Disebutkannya berbagai konflik lokal yang terjadi, krisis bahan pangan, termasuk pula berbagai bentuk perdagangan manusia dan perbudakan yang terutama mengorbankan perempuan dan anak-anak. Dikemukakannya, walaupun Afrika menghadapi banyak masalah, bukan berarti tidak ada harapan. Dikatakannya: "Mengingat banyaknya penderitaan, kekerasan, kemiskinan atau kelaparan, korupsi dan penyalah-gunaan kekuasaan, seorang kristen tidak dapat berdiam diri."

Kata-kata Paus Benedktus XVI itu tentunya terasa menyejukkan bagi masyarakat yang sebagian besarnya hidup dalam kemiskinan. Sebab penghasilan negara yang diperoleh dari minyak, hanya dinikmati oleh segelintir warga, kalangan elit di negara itu.

Pada hari kedua kunjungannya, Paus Benediktus XVI bertemu dengan Presiden Paul Biya, yang memerintah di Kamerun sejak tahun 1982, di istana Palais de l'Unite. Hari Jumat (20/03) lusa Sri Paus akan melanjutkan lawatannya ke Angola. (dgl)