Somalia Tunggu Pasukan Perdamaian | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 04.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Somalia Tunggu Pasukan Perdamaian

Masih belum jelas kapan pasukan perdamaian datang. Kenya perketat pengawasan di perbatasan.

Tentara Etiopia di kota pelabuhan Kismayo

Tentara Etiopia di kota pelabuhan Kismayo

Helikopter terbang di atas desa-desa, sesekali menembakkan peluru. Di Somalia Selatan, tentara Etiopia mengejar milisi Islam. Pengejaran dipusatkan di pegunungan dekat perbatasan dengan Kenya. Mereka keliru membombardir sebuah pos pengawas perbatasan Kenya, namun dilaporkan tidak ada korban. Kenya sendiri menempatkan tentaranya di perbatasan dan tidak akan membiarkan pengungsi Somalia memasuki wilayahnya. Ratusan orang sudah dipulangkan.

Situasi di Somalia masih tidak stabil. Wakil PM Mohamed Hussein Aidid pada konferensi pers di Mogadishu, Kamis kemarin mengatakan, sekitar 3000 militan radikal Islam masih bertahan di Mogadishu, seminggu setelah gerakan mereka dikalahkan oleh pasukan pemerintah Somalia yang didukung tentara Etiopia. Aidid mengatakan pula, di Somalia kini terdapat 12.000 tentara Etiopia yang akan segera pulang setelah operasi selesai dilaksanakan. Kapan tepatnya, wakil PM Somalia Aidid menjawab:

"Bagaimanapun juga kita membutuhkan kehadiran pasukan perdamaian. Pemerintah tidak memiliki kapasitas untuk melucuti militan, membangun kembali institusi pemerintahan dan memulai proses rekonsiliasi, pada waktu bersamaan."

Setelah kekacauan selama 15 tahun, Somalia harus dibangun kembali, mulai dari dasar. Dan itu tak bisa dilakukan tanpa bantuan pihak luar negeri. Tema itu pula yang dibahas Menlu Jerman Frank Walter Steinmeier dan anggota kelompok kerja UE bagi Somalia. Jika tidak ada pasukan perdamaian yang dikirim ke Somalia, maka Etiopia harus terus mendukung pemerintah transisi yang tak bergigi.

Di pihak lain, milisi radikal Islam Somalia menyatakan akan tetap melancarkan perlawanan, baik terhadap pemerintah transisi maupun Etiopia. Ini merupakan penguat alasan bagi pemerintah transisi untuk emmpertahankan keberadaan tentara Etiopia. Wakil PM Mohamed Hussein Aidid mengatakan:

"Kami hanya memiliki 1000 polisi. Jumlah keseluruhan aparat keamanan hanya 9000 orang. Itu tidak cukup untuk negara yang luas ini. Apalgi masih ada banyak senjata di tangan rakyat sipil."

Singkatnya, perang sudah dimenangkan tapi perang saudara masih belum berakhir. Setelah terusirnya militan Islam, para penaamat kini mengkhawatirkan para panglima perang yang lama akan kembali membagi-bagi wilayah Somalia antarmereka. Pemerintah transisi ingin melucuti mereka namun itu sebuah pekerjaan yang betul-betul sulit. Hanya dengan bantuan militer Etiopia lah, PM Mohamed Ghedi bisa bertahan di Mogadishu. Ia sendiri yakin, masa jaya para panglima perang telah berlalu, dan tak akan terulang lagi.

Ghedi: "Sudah pasti, para panglima perang tidak akan punya ruang gerak lagi untuk melakukan aktivitas negatif apapun di negara ini."

Sebuah pernyataan penuh percaya diri bagi sebuah pemerintahan yang tak berdaya. Somalia masih menantikan pasukan perdamaian yang dijanjikan Uni Afrika, yang akan mengambil alih tugas tentara Etiopia. Tapi sejauh ini tak ada negara Afrika yang memastikan janjinya. Seperti juga tak ada kepastian tentang pembiayaan pasukan perdamaian.

Iklan