Somalia Sesudah Tersingkirnya Majelis Islamiyah | Fokus | DW | 07.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Somalia Sesudah Tersingkirnya Majelis Islamiyah

Tentara Ethiopia akan segera ditarik. Pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika disiapkan sebagai penggantinya

Serdadu Ethiopia dan warga sipil Somalia

Serdadu Ethiopia dan warga sipil Somalia

Para milisi Majelis Islamiyah Somalia yang semula menguasai berbagai wilayah Somalia, termasuk ibukota Mogadishu telah terusir. Pasukan pemerintah interim Somalia dan tentara Ethiopia yang membantunya mengambil alih kendali. Namun situasi negeri miskin Afrika itu masih jauh dari beres.

Sementara itu, masyarakat internasional harus bekerja keras untuk mencari penyelesaian yang langgeng dan menjaga stabilitas Somalia. Para diplomat negara-negara Barat dan sejumlah pemimpin Afrika melakukan perundingan di Nairobi, Kenya. Hadir antara lain perdana menteri Somalia Ali Mohamed Gedi dan diplomat senior Amerika spesialis urusan Afrika, Jendayi Frazer. Topik utama perundingan itu adalah membangun pasukan penjaga keamanan Uni Afrika. Karena tentara Ethiopia yang mendukung pemerintah Somalia akan segera ditarik dalam tempo beberapa pekan ini. Pemerintah Ethiopia menyatakan tak sanggup menanggung biaya operasi serdadunya jika harus berlama-lama. Diplomat senior Amerika, Jendayi Frazer:

Jendayi Frazer:

Kontak-kontak kami tegas menyatakan, tidak ada kevakuman menyangkut perkara keamanan di Somalia. Namun betapapun, kami merasa bahwa terdapat kebutuhan mendesak untuk mengirim suatu pasukan pemelihara stabilitas ke Somalia"

Tetapi hanya beberapa saat setelah pertemuan itu, sejumlah orang bersenjata menembaki tentara Ethiophia di Mogadishu. Beberapa orang terbunuh, termasuk seorang gadis berumur 13 tahun yang jadi korban peluru nyasar. Sejak Sabtu, berbagai perlawanan memang muncul secara sporadis. Ditandai demonstrasi anti Ethiopia yang berbuntut kekerasan. Demonstrasi itu dilancarkan untuk menentang rencana pemerintah melakukan perlucutan sencata terhadap penduduk sipil. Aksi itu lumayan berhasil. Pemerintah menunda rencana itu.

Di lain pihak, muncul pula kekuatiran kemungkinan jaringan teroris Al Kaida melibatkan diri di Somalia. Lebih-lebih setelah pemunculan video Ayman Al Zawahiri, orang nomor dua Al Kaidah, yang menyerukan jihad di Somalia. Kembali Jendayi Frazer

Jendayi Frazer:

Kami menaruh perhatian besar terhadap ancaman Al Kaidah itu. Namun cara fundamental untuk menangani ancaman itu adalah menciptakan stabilitas di Somalia.

Namun Nancy Dahdough seorang analis dari Pusat Penelitian Terorisme di Virginia, Amerika Serikat menyatakan, ancaman Al Kaidah tak bisa dipandang enteng. Disebutkan Nancy Dahdough:

Dahdough

: Saya yakin bahwa Majelis Islamiah Somalia dan kaum ekstrimis menganggap bahwa Amerika kembali terlibat langsung membantu pemerintah interim Somalia dan tentara Ethiopia. Ini bisa memicu kembali terulangnya peristiwa tahun 92-93. Dan mereka bisa melancarkan serangan dengan sasaran apapun yang melibatkan kepentingan Barat. Karena mereka merasa negeri mereka diduduki.

Untuk menjaga stabilitas Somalia sepeninggal pasukan Ethiopia nanti, masyarakat internasional menjanjikan berbagai bantuan dana bagi biayai pasukan penjaga perdamaian Afrika di Somalia. Uni Eropa dan Amerika Serikat sudah memastikan kesediaan mereka. Sejumlah negara Afrika juga sudah menyatakan kesanggupan untuk mengirim pasukan mereka. Namun di luar itu, para diplomat dunia juga mendesak pemerintah Ethiopia untuk melibatkan kelompok Majelis Islamiyah Somalia yang mereka tumpas, untuk membangun Somalia yang baru. Seperti digambarkan Jendayi Frazer:

Jendayi Frazer:

Menurut pendapat saya, sangat penting untuk berunding dengan Majlis Syariah Islamiah Somalia, atau kelompok moderat di dalamnya. Karena mereka telah memiliki pengalaman. Dalam derajat tertentu mereka telah menciptakan ketertiban di Mogadishu.