Skandal Dinas Rahasia Jerman Bertambah | Fokus | DW | 17.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Skandal Dinas Rahasia Jerman Bertambah

Penyelidikan tentang tuduhan bahwa petugas BND meneruskan informasi tentang target pemboman di Irak kepada tentara Amerika belum lagi tuntas, ketika terungkap bahwa BND memata-matai wartawan Jerman.

Apakah BND secara rahasi mendengarkan pembicaraan telepon?

Apakah BND secara rahasi mendengarkan pembicaraan telepon?

BND kini menghadapi situasi serius. Segera akan diselidiki, dengan cara apa saja dinas rahasia Jerman itu memata-matai wartawan. Sebuah laporan mengenainya, yang selama ini bersifat rahasia, tidak lama lagi akan dibuka. Demikian dikatakan Ketua Dewan Pengawas Parlemen Jerman Norbert Röttgen. Namun, orang-orang yang tersangkut tetap memiliki hak jawab untuk menerangkan duduk persoalannya. Laporan setebal 170 halaman itu disusun mantan hakim Jerman Gerhard Schäfer.

Skandal BND ini melebar dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan baru. Apakah dinas rahasia Jerman, yang tahun ini berusia 50 tahun, bukan hanya memata-matai aktivitas wartawan tetapi juga menguping pembicaraan telepon mereka? Padahal tindakan menguping itu membutuhkan ijin dari apa yang dikenal sebagai Komisi G-10. Komisi itu terdiri dari pakar independen yang ditugaskan oleh dewan pengawas di parlemen. Apakah BND mendengarkan pembicaraan telepon tanpa ijin, mengingat dewan pengawas tidak tahu menahu mengenainya?

Beberapa hari terakhir ini, semakin tinggi tekanan terhadap Dewan Pengawas untuk mengawasi sepak terjang dinas rahasia jerman BND. Semakin banyak politisi yang menuntut agar membuka masalah tersebut, juga kepada publik. Hari Kamis (11/05) pemerintah Jerman memerintahkan pada BND untuk tidak memata-matai wartawan lokal. Jurnalis juga tidak boleh digunakan sebagai sumber informasi. Jurubicara pemerintah Ulrich Wilhelm mengindikasikan bahwa sejumlah petinggi BND bisa dicopot dari jabatannya akibat skandal tersebut.

Skandal terbaru BND itu terungkap pekan lalu, ketika koran Suddeutsche Zeitung menurunkan laporan bahwa Dinas Rahasia Jerman mengawasi para jurnalis selama tahun 80-an dan 90-an, bahkan terkadang mengupah jurnalis Jerman untuk memata-matai rekan seprofesinya. Tujuannya, mencari tahu sumber kebocoran informasi dari jajaran BND sendiri.

Majalah Berita Der Spiegel, yang memiliki reputasi dalam membongkar kasus korupsi dan membeberkan para politisi yang melakukannya, tampaknya banyak menjadi fokus agen BND, begitu pula majalah Stern.

Kamis (11/05), Pemimpin Redaksi Der Spiegel, Stefan Aust mengatakan, sampai sekarang ia tidak tahu bagaimana foto-fotonya, yang menunjukkan ia berada di kandang kuda miliknya, bisa tersimpan dalam data BND. Aust tidak tahu apakah agen rahasia yang mengambil foto itu, ataukah orang lain yang memberikannya pada BND. Foto-foto itu termasuk yang diserahkan kepada komisi khusus di Parlemen Jerman Bundestag yang menyelidiki aktivitas BND.

Penerbit der Siegel, Stern serta majalah berita Jerman lainnya, Focus, menyatakan akan mengambil langkah hukum terhadap Dinas Rahasia Jerman.