Situasi Pengungsi Palestina di Libanon | Fokus | DW | 01.06.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Situasi Pengungsi Palestina di Libanon

Kondisi warga Palestina yang masih berada di kamp pengungsi Nahr al Bared makin memprihatinkan.

Pertempuran kembali pecah di Nahr al Bared antara militan dan tentara Libanon

Pertempuran kembali pecah di Nahr al Bared antara militan dan tentara Libanon

Serdadu Libanon mengawasi dengan teliti siapa yang masuk dan keluar kamp pengungsian Palestina. Tak ada seorang milisi pun yang boleh lolos, tidak ada seorangpun dari kelompok Fatah al-Islam yang diperbolehkan mencari pertolongan. Sampai sekarang masih ada 8000 orang yang terpaksa masih tinggal di kamp pengungsi Nahr al-Bared di dekat Tripolis, demikian dilaporkan lembaga yang bertanggung jawab dari PBB. Sharin Peloni dari palang merah internasional menyebutkan angka yang lebih tinggi:

„Yang terakhir, menurut informasi kami, ada 15.000 sampai 20.000. Ini juga sulit dikatakan, karena memang tidak jelas berapa banyak yang meninggalkan kamp ini. Sampai sekarang tidak dihitung.“

Mereka yang masih tinggal di Nahr al-Bared khawatir, bahwa rumah-rumah mereka akan dijarah jika mereka meninggalkan kamp pengungsian ini. Yang lain takut akan penembak gelap. Sekarang ini tidak ada listrik dan air tidak mengalir di kamp pengungsian tersebut. Palang Merah adalah salah satu organisasi yang mengurusi orang-orang yang tidak bersedia meninggalkan Nahr al-Bared. Sharin Peloni telah mengorganisir sebuah konvoi Palang Merah.

„Kami telah mengepak 2,8 ton roti, 20.000 liter air dan 14 ton makanan yang diawetkan. Sebaliknya warga Palestina dapat menghubungi kami dalam keadaan daruratnya. Dengan ambulans kami dapat mengevakuasi orang sakit.“

Kebanyakan dari 20.000 sampai 30.000 pengungsi Palestina dari Nahr al-Bared, yang sekarang kembali harus mengungsi, pergi ke al-Badawi, sebuah kamp pengungsian lain dekat Tripoli. Tetapi kata kamp pengunsian mempunyai arti yang luas. Tenda-tenda dan gubuk-gubuk yang kebanyakan dibangun oleh orang Palestina setelah negara Israel didirikan, sudah menjadi rumah susun yang berdempetan. Di rumah-rumah susun inilah para pelarian dari Nahr al-Bared ditampung oleh kenalan atau saudara mereka. Yang lain tinggal di gedung publik. Contohnya di sebuah sekolah yang didirikan oleh PBB. Keluarga Haji Abu Kamals termasuk salah satunya. Ia menceritakan:

„Kami kabur dari sana jam 1 pagi. Dan kami tiba disini tanpa apa-apa. Kami tidak punya uang, tidak punya apa-apa, kecuali baju yang kami pakai. Semuanya ditinggalkan di rumah.“

Dari 27 orang yang ikut dengan Haji Abu Kamal ke al-Badawi, kebanyakan adalah anak-anak. Mereka harus tidur berdesakkan di lantai sekolah diatas kasur yang sangat tipis yang diberikan oleh para petugas PBB. Selain keluarga Abu Kamal, 1200 pengungsi lainnya juga tidur di sekolah ini – mereka tersebar di 24 ruang kelas, memenuhi semua pojokan yang ada.

Banyak pengungsi dari Nahr al-Bared yang jumlahnya sulit dihitung pergi ke kamp-kamp Palestina lainnya di Beirut atau di Libanon selatan. Beberapa juga ditampung oleh orang-orang yang siap menolong. Seperti contohnya Ghali dengan suaminya dan 6 anak serta seorang adik perempuannya. Mereka ditampung oleh sorang perempuan yang memberikan mereka sebuah kamar tidak jauh dari pintu masuk di selatan kamp Nahr al-Bared. Walaupun seorang petugas sebuah organisasi kemanusiaan datang setiap harinya untuk menolong keluarga Ghali, dengan bantuan kesehatan bagi anak-anaknya, tidak ada yang dapat menolong keputusasaan Ghali. Ia tidak tahu apakah anggota keluarga besarnya yang masih tinggal di Nahr al-Bared masih hidup.