Situasi Kemanusiaan di Libanon Kian Buruk | Fokus | DW | 28.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Situasi Kemanusiaan di Libanon Kian Buruk

Mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan dengan kondisi membusuk.

Konvoi bantuan PBB menuju Beirut

Konvoi bantuan PBB menuju Beirut

Kekhawatiran terburuk organisasi-organsiasi bantuan interansional, tampaknya menjadi kenyataan. Situasi keamnusiaan di Libanon Selatan semakin buruk. Komite Internasional Palang Merah melaporkan, di sejumlah desa di daerah perbatasan, mayat-mayat korban bergelimpangan di jalan-jalan, dengan kondisi membusuk.

Di banyak tempat, orang sudah tak berani lagi keluar rumah karena takut ada serangn, karena itu korban yang tewas belum dikuburkan. Ketika petugas Palang Merah tiba di kota kecil Blida, mereka mendapati sebuah mesjid, penuh sesak oleh 700 orang yang ketakutan mencari perlindungan. 300 di antaranya adalah anak-anak. Di Libanon Selatan, sangat sulit mencari air minum, bahan pangan dan obat-obatan.

Hari Kamis (27/07) di Beirut, sejumlah dokter dan paramedis turun ke jalan, memprotes situasi yang terus memburuk. Salah seorang demonstran, dokter Louise Akl mengatakan:

"Kita menghadapi krisi kemanusiaan di Libanon Selatan, karena kebanyakan rumah sakit dibom, dokter-dokter diserang. Untuk itulah kami berada di sini hari ini. Para dokter dan paramedis, harus dikeluarkan dari perang ini. Mereka tidak bisa membantu jika mereka dijadikan sasaran. Enam petugas palang merah diserang hari Rabu (26/07) ketika memindahkan pasien. RS-RS di Libanon Selatan tidak memiliki peralatan memadai terutama untuk bedah, anestesi misalnya, alat-alat dasar untuk melakukan operasi".

Seperti yang sudah-sudah, PBB mengkhawatirkan keselamatan konvoi bantuan, kata Koordinator Bantuan Darurat Jan Egeland. Rabu malam (26/07) angkatan udara Israel menyerang 3 truk yang mengangkut bahan pangan dan obat-obatan, dua supirnya dibunuh.

Hasil Konferensi Roma yang sangat minim sangat mengecewakan rakyat Libanon. Menurut Menteri Perekonomian Sami Hadad, rakyat tidak menghendaki koridor yang aman, yang mereka inginkan adalah perang berakhir. Ia mengatakan:

"Kami sangat membutuhkan gencatan senjata segera, karena rakyat kami sangat menderita dan perekonomian kami hancur. AS bilang ingin membantu Libanon dan pemerintahnya. Tapi tidak menolong namanya jika juga mengijinkan Israel terus menyerang dan menghancurkan negeri kami. Karena itulah yang mereka lakukan."

Hingga kini, kerugian yang diakibatkan serangan Israel di Libanon mencapai nilai 2 juta miliar dolar AS, kata Hadad.

Dua pekan setelah dimulainya serangan Israel, organisasi Al Qaedah Kamis ikut mendukung rakyat Libanon dengan suara berapi-api. Dalam rekaman video yang disiarkan stasiun televisi Al Jazeera hari Kamis, orang nomor dua Al Qaeda, Ayman Al Sawahiri mengatakan tidak bisa tinggal diam melihat bom-bom itu dijatuhkan. Ia juga mengritik pemerintah negara-negara Arab, yang ia sebut impoten dan pengkhianat, yang bereaksi lemah terhadap serangan Israel.