Situasi di Jalur Gaza Makin Kritis | dunia | DW | 11.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Situasi di Jalur Gaza Makin Kritis

Tokoh politik Palestina Saeb Erakat menyebut situasi saat ini menuju 'krisis humaniter'.

Serdadu israel menggiring anggota militan Palestina di utara Jalur Gaza

Serdadu israel menggiring anggota militan Palestina di utara Jalur Gaza

Selain serangan-serangan udara dan penembakkan artileri yang dilancarkan Israel, penduduk juga harus mengalami penggeledahan rumah oleh tentara Israel. Tidak hanya digeledah, banyak rumah penduduk sipil juga yang ditembaki. Juru runding Palestina Saeb Erakat menyebut situasi ini sebagai krisis kemanusiaan.

Saeb Erakat: "Di Jalur Gaza sudah tidak ada lagi bahan makanan pokok, tidak ada bensin, tidak ada listrik, tidak ada air. Hidup 1,3 juta penduduk Gaza merana. Ini krisis kemanusiaan. Bisa menyebabkan munculnya epidemi.“

Selain dari kesulitan kehidupan sehari-hari, yang lebih mengkhawatirkan adalah, rasa kebencian terhadap Israel makin luas. Di Beit Hanun hari ini digelar upacara penguburan 3 anak muda Palestina. Ahmed Abu Amsa , Amhed Shabaat dan Farid Nasser, yang berusia antara 17 sampai 19 tahun, tewas dalam serangan roket Isreal. Roket itu meledak ketika mereka sedang bermain bola di lapangan di depan sebuah sekolah. Naasnya, para anak muda ini bermain bola dekat lokasi penembakkan roket jenis Kassam ke kawasan Israel. Israel lalu melakukan serangan balasan.

Sampai saat ini, sudah sekitar 50 orang tewas dalam berbagai serangan militer Israel, yang bertujuan untuk menghentikan penembakkan roket dari Palestina ke Israel. Korbannya adalah penduduk sipil, anggota militan Palestina dan seorang serdadu Israel. Sampai saat ini, militer Israel belum berhasil menghentikan aksi penembakkan roket itu. Tapi Perdana Menteri Israel Ehud Olmert membela keputusannya mengerahkan militer.

Ehud Olmert: „Kami tidak punya minat besar menggulingkan pemerintahan Hamas. Kepentingan kami adalah mencegah para teroris merusak Israel. Siapa saja yang terlibat dalam aksi teror, akan membayar untuk tindakannya.“

Operasi militer Israel awalnya bertujuan untuk membebaskan Gilat Shavit, seorang serdadu yang diculik anggota kelompok militan Palestina dua minggu lalu. Israel sampai saat ini secara tegas menolak perundingan untuk pembebasannya. Menurut penyelidikan internal militer Israel, satuan Gilat Shavit berlaku ceroboh. Sebelumnya sudah ada peringatan tentang kemungkinan serangan gelap kelompok militan Palestina. Selain itu, Gilat Shavit baru dilaporkan hilang 90 menit setelah aksi penculikan. Para pelaku punya cukup banyak waktu untuk menghilang.

Politisi Palestia Saeb Erakat sekarang meningimbau pimpinan Israel untuk kembali ke pencarian solusi damai.

Saeb Erakat: „Saya harap, krisis di gaza bisa diselesaikan dengan damai. Jadi terbuka lagi kemungkinan untuk melanjutkan perundingan antara Israel dan Palestina. Presiden Abbas siap melakukan itu. Tapi untuk saat ini, kami minta pemerintah Israel, terutama Perdana Menteri Olmert, untuk mengakhiri pendudukan Jalur Gaza.“

Iklan