Situasi Darfur Yang Memanas | Sosial | DW | 20.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Situasi Darfur Yang Memanas

Setiap hari jatuh korban jiwa. Pengamat menuduh pemerintah Sudan berusaha menyembunyikan parahnya konflik yang terjadi.

Pengungsi ketika melaksanakan sholat Ied di Darfur

Pengungsi ketika melaksanakan sholat Ied di Darfur

Koordinator bantuan untuk Sudan dari Perserikatan Bangsa-bangsa Jan Egeland, baru kembali dari Khartoum, Sudan setelah melaksanakan kunjungannya yang keempat. Dalam laporannya pada PBB Sabtu (18/11) lalu, Egeland mengemukakan:

"Tak disangka dalam kunjungan saya yang terbaru ini, jumlah warga yang memerlukan bantuan bertambah dari satu juta menjadi empat juta orang. Dan tak disangka, rasa ketakutan warga Darfur masih sama seperti yang dirasakan tiga tahun lalu.“

Sementara itu, jumlah korban tewas menurut Egeland masih berkisar 200 ribu dan bahkan menurut organisasi lain, menyebutkan jumlah 300 ribu. Egeland juga melaporkan, sekitar 2,5 juta warga Sudan mengungsi dan menyebar sampai di perbatasan Chad.

Dalam perjalanannya di provinsi wilayah Sudan Barat, Egeland ingin mengunjungi enam daerah. Namun empat daerah menolak kunjungan Egeland dengan alasan keamanan. Makanya Egeland mempersingkat waktu kunjungannya di Darfur. Utusan PBB itu akhirnya hanya mengunjungi dua kota, El Geneina dan El Fasher. Di sana Egeland menemukan para perempuan dan anak-anak mencari keselamatan. Egeland mengatakan:

"Waktu hampir habis. Saya harap kita tak menghabiskan banyak waktu lagi untuk berdebat. Harus dipahami setiap harinya jatuh korban perempuan dan anak-anak. Setiap jamnya mereka berlari tak tentu arah dan itu berarti semakin banyak korban berjatuhan.“

Egeland juga menyerukan pada pemerintah Sudan untuk menghentikan pelarangan pada petugas bantuan di daerah-daerah. Para pengamat menuduh pemerintah Sudan berusaha menyembunyikan parahnya konflik yang terjadi, dengan memberlakukan larangan masuk bagi petugas bantuan, pada saat bersamaan melanjutkan kampanye militer melawan pemberontak di daerah-daerah.

Kamis 16 November lalu, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan mengadakan konferensi dengan wakil dari Afrika, Eropa, dan Liga Arab di Addis Abeba, Ethiopia. Dalam hasil konferensi tersebut diputuskan untuk menempatkan secara bertahap pasukan perdamaian dengan anggota campuran dari PBB dan Uni Afrika. Pemerintah Sudan langsung mengajukan keberatan. Egeland langsung mendesak pemerintah Khartum agar segera menempatkan tentara pelindung penduduk sipil. Egeland juga mengimbau rekan dagang Sudan, seperti Cina dan India, termasuk negara-negara Islam seperti Pakistan dan Mesir, agar mendukung PBB dalam upayanya melindungi warga Darfur.