1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikGlobal

SIPRI: Dunia Menuju Tren Baru Perlombaan Senjata Nuklir

13 Juni 2022

Jumlah hulu ledak nuklir di dunia diprediksi akan bertambah setelah menyusut selama 35 tahun terakhir. Invasi Rusia di Ukraina dan ketegangan di Asia Pasifik menciptakan tren baru perlombaan senjata pemusnah massal

https://p.dw.com/p/4Cbkx
Uji coba senjata nuklir di Atol Mururoa
Uji coba senjata nuklir di Atol Mururoa oleh Prancis, 1971Foto: dpa/picture alliance

Kesembilan negara adidaya nuklir dunia, yakni Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Cina, Prancis, India, Israel, Korea Utara dan Pakistan, tercatat memiliki 12.075 hulu ledak nuklir pada awal 2022. Jumlah tersebut berkurang sebanyak 375 hulu ledak dari tahun 2021, menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Senin (13/6).

Cadangan senjata nuklir di dunia saat ini sudah jauh lebih sedikit dibandingkan 70.000 hulu ledak nuklir pada tahun 1986, ketika perlombaan senjata antara AS dan Rusia memasuki puncaknya. Sejak itu, kedua negara mulai mengurangi cadangan senjata nuklirnya seiring berakhirnya Perang Dingin.

Cadangan hulu ledak nuklir di dunia
Cadangan hulu ledak nuklir milik sembilan negara di dunia

Namun tren tersebut dikhawatirkan bakal berakhir seiring risiko perang nuklir yang meningkat ke level tertinggi, tulis SIPRI dalam laporannya. "Tidak lama lagi, kita akan tiba di titik, di mana untuk pertama kalinya sejak berakhirnya Perang Dingin, jumlah senjata nuklir di dunia akan bertambah,” kata Matt Korda, salah seorang peneliti SIPRI.

Menurutnya, setelah penyusutan "kecil” pada tahun lalu, "jumlah hulu ledak nuklir diprediksi akan bertambah pada dekade depan,” dan ini merupakan "wilayah yang berbahaya,” imbuhnya.

Retorika perang nuklir terutama banyak dilayangkan sejak invasi di Ukraina. SIPRI mencatat, sejumlah negara nuklir, seperti Cina dan Inggris, saat ini sedang meremajakan cadangan persenjataan nuklirnya.

"Akan sangat sulit memajukan perlucutan senjata nuklir di tahun-tahun ke depan karena perang Ukraina, dan karena bagaimana Putin berbicara tentang senjata nuklirnya,” tutur Korda. Retorika Moskow dinilai mendorong "banyak negara nuklir untuk mengkaji strategi nuklirnya sendiri.”

Perang Dingin jilid dua?

Rusia dan AS saat ini menguasai 90 persen jumlah senjata nuklir di dunia. Pada awal 2022, Moskow melaporkan 5.977 hulu ledak nuklir, atau berkurang 280 unit sejak 2021. Adapun AS memiliki 5.428 hulu ledak nuklir setelah menyusut sebanyak 120 buah dibandingkan tahun lalu.

Sementara itu, Cina melaporkan kepemilikan sebanyak 350 senjata nuklir, diikuti Prancis dengan 290, Inggris dengan 225, Pakistan dengan 165, India dengan 160 dan Israel yang diprediksi memiliki 90 senjata nuklir.

Masalah Energi Nuklir Yang Belum Terpecahkan Sejak Separuh Abad Lalu

Adapun Korea Utara, yang oleh SIPRI untuk pertama kalinya didekalarasikan sebagai negara adidaya nuklir, ditaksir mempunyai 20 hulu ledak nuklir. 

Pada awal 2022 lalu, lima negara Dewan Keamanan PBB, yakni Inggris, CIna, Prancis, Rusia dan AS, menerbitkan pernyataan bahwa "perang nuklir tidak bisa dimenangkan dan tidak boleh dilancarkan.”

Meski begitu, SIPRI mencatat kelima negara "terus memperluas atau memodernisasi cadangan senjata nuklirnya dan menambah bobot senjata nuklir dalam strategi militernya.”

"Cina berada di tengah program ekspansi besar-besaran. Citra satelit mengindikasikan pembangunan lebih dari 300 silo nuklir.” Menurut SIPRI, pada 2027 Cina akan memiliki 700 hulu ledak nuklir yang siap pakai.

rzn/hp (rtr,ap)