1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Singapura Tolak Situs Perselingkuhan

27 Oktober 2013

Rencana ekspansi sebuah perusahaan jasa kencan internasional di Singapura menuai kecaman karena dituduh mengkampanyekan perselingkuhan dan memicu protes di jejaring sosial.

https://p.dw.com/p/1A62m
Foto: Fotolia/Paul Posthouwer

Media Singapura pekan ini mengumumkan bahwa Ashley Madison, yang menawarkan pelayanan kencan rahasia bagi mereka yang ingin selingkuh, berencana akan meluncurkan jasa pelayanan itu mulai tahun depan di negara kota tersebut. Tapi berita itu kemudian memicu munculnya petisi di Facebook yang menentang kehadiran perusahaan tersebut.

Situs yang berbasis di Kanada, yang memiliki lebih dari 20 juta pengguna di lebih dari 15 negara dunia, terkenal dengan slogan mereka “Hidup itu singkat. Selingkuhlah”, beberapa tahun terakhir melakukan ekspansi yang cukup agresif di Asia, dengan meluncurkan situs itu di Jepang, India dan Hongkong.

“Saya tidak menyambut baik situs semacam itu masuk ke Singapura. Saya menentang semua perusahaan atau website yang bisa merusak pernikahan,” kata Chan Chun Sing, Menteri Sosial dan Pembangunan Keluarga Singapura, melalui akun Fecebooknya.

“Mempromosikan perselingkuhan merusak kepercayaan dan komitmen antara suami dan istri, yang merupakan inti pernikahan,” kata dia dalam sebuah pesan di jejaring sosial sebagai respon atas laporan media massa setempat mengenai rencana peluncuran website tersebut di Singapura.

”Janji pernikahan itu jelas, bahwa perkawinan adalah sebuah komitmen seumur hidup antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Termasuk tetap setia satu sama lain.”

Symbolbild Zeichnung einer Familie
Singapura yang dikenal konservatif berusaha menjaga nilai-nilai keluargaFoto: Nikolai Sorokin-Fotolia

Ancam pernikahan

Sementara itu, di jejaring sosial, lebih dari 11.000 orang membubuhkan tanda ‘suka' pada sebuah laman Facebook "Block Ashley Madison - Singapore" sejak diluncurkan pada hari Rabu yang lalu.

Keterangan pada laman Facebook mengatakan bahwa itu adalah sebuah “petisi yang bertujuan untuk mengumpulkan pikiran dan suara orang-orang yang mengekspresikan keberatan mereka atas pendirian perusahaan yang memalukan -- Ashley Madison, yang akan tumbuh subur di atas pernikahan yang hancur di Singapura.

“Kami perlu mengirimkan sebuah pesan kepada komunitas bisnis internasional bahwa kami senang jika ada investor asing yang membangun bisnis di sini, tapi perusahaan-perusahaan yang mempromosikan nilai-nilai yang anti keluarga tidak diterima di sini,” kata seorang pengguna Facebook bernama Joelle Kong.

Singapura sejak lama dikenal sebagai negara konservatif dengan masyarakat yang sering dipandang munafik, tapi semakin berkembangnya “Westernisasi” diantara anak muda dan berdatangannya pekerja asing, secara perlahan menghapus citra tersebut.

Survei menunjukkan, Singapura sebagai negara dengan penduduk yang paling kurang aktif secara seksual di seluruh dunia, demikian hasil penelitian reguler mengenai frekuensi seksual masyarakat dunia yang dilakukan perusahaan kondom asal Inggris Durex.

ab/ap (afp,ap,rtr)